Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #15

14. Tekad Bulat

Saat Dira melangkah masuk ke dalam rumah yang terlalu bersih—begitu mengkilap hingga pantulan cahaya di lantai kayunya terasa menyilaukan—ia sudah menyiapkan mental untuk melihat Eric yang kaku di depan laptop dan siap mencecarnya dengan pertanyaan rumit terkait hasil investigasinya. Namun, pemandangan di ruang tengah itu justru membuatnya urung menyapa.

Di tengah ruangan bernuansa serba kayu dengan aksen tembok batu bata ekspos yang maskulin itu, Eric tampak seperti orang yang baru saja kehilangan arah. Ia duduk merengut, punggungnya merosot dalam hingga hampir tenggelam di balik sofa kulit. Matanya tertuju pada layar televisi yang menyala, namun tatapannya begitu tajam dan jengkel, seolah-olah pembawa acara di layar kaca itu baru saja melakukan penghinaan pribadi padanya.

Dira menggelengkan kepala pelan. Pemandangan ini sangat tidak lazim. Biasanya, sepagi ini Eric sudah tampil flawless dengan kemeja atau setelan yang menunjukkan otoritasnya. Tapi hari ini? Sahabatnya itu hanya mengenakan celana drawstring abu-abu muda yang santai dan jaket anorak biru tua yang resletingnya ditarik tinggi.

"Luar biasa," gumam Dira sambil meletakkan kunci motornya di meja kayu dekat pintu. "Seorang Eric yang perfeksionis bisa kelihatan berantakan cuma gara-gara satu malam?"

Dira melangkah mendekat, sengaja memutar agar bisa melihat ekspresi Eric lebih jelas. Ia tahu betul apa yang terjadi semalam di pesta Andrea. Ia tahu tentang drama "pengungsian" Carie, pingsannya gadis itu, dan bagaimana Eric membawa kabur calon tunangan orang lain ke rumah pribadinya ini.

"Tv-nya nggak salah apa-apa, Ric. Jangan ditatap kayak mau dibom gitu," ledek Dira, mencoba mencairkan suasana.

Eric tak menoleh. Ia hanya mendengus kasar, tangannya yang masih terasa perih oleh bekas kuku Carie semalam, terkepal di atas paha. Pikirannya masih tertahan pada momen di tangga tadi pagi: pemandangan Carie yang menggenggam tangan Andrea dengan begitu lembut—berbeda dengan sikap gadis itu tiap kali ada dihadapannya. Membuat rasa panas yang menjalar di dadanya sejak tadi subuh belum juga padam, malah makin menjadi-jadi setelah mereka pergi, dan rumahnya mendadak sepi kembali.

“Lagian, gimana ceritanya sih, lagi-lagi Carie bisa pingsan di depan lu?” celetuk Dira santai sembari mendaratkan tubuhnya di samping Eric, kedua tangannya masih terbenam di saku celana.

Mata Eric melirik tajam, kilat kekesalan terpancar jelas. “Mana gue tahu! Kan jelas-jelas Linda bilang kesehatan Carissa nggak bermasalah!”

Tawa Dira refleks meledak. Reaksi Eric yang meledak-ledak adalah konfirmasi yang ia cari. “Biasa aja, Bro! Kalem! Kalem!” Dira mengeluarkan tangannya hanya untuk memberi gestur menenangkan di depan wajah Eric yang masih merengut, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai di sofa.

“Lu tuh cemburu, kan? Carissa makin dekat sama Andrea?” tebak kemudian.

“Cemburu apaan! Udah gue bilang gue cuma anggap dia adik!” tampik Eric cepat, matanya kembali menghujam layar televisi meski pikirannya melayang entah ke mana.

“Ck!” Dira berdecak muak, nada bicaranya mulai skeptis. “Adik apaan yang dicium bibirnya!”

Eric menoleh secepat kilat, ada rona horor sekaligus panik yang terselip di wajahnya yang kaku. “Lu lihat semalam?”

“Semalam? Semalam apaan? Lu cium dia lagi?” pekik Dira heboh, langsung duduk tegak dengan bahu terangkat.

“Nggak!” Eric segera melengos, mengutuk mulutnya yang baru saja keceplosan.

“Gila emang lu!” cela Dira. “Gue lihat waktu itu, di kantor Andrea. Gue lihat lu nyium dia di balkon! Adik apaan dicium begitu! Lu lupa kalau gue selalu ngikutin Carie kemanapun pas gue sempat? Jelaslah gue nggak sengaja lihat kelakuan lu itu.” Dira kembali menggeleng, tidak habis pikir dengan standar "persaudaraan" versi sahabatnya ini.

Eric memilih bungkam seribu bahasa. Ia bahkan tidak menggerakkan matanya sedikit pun sebagai bentuk respons, berharap Dira akan berhenti mengulitinya. Tapi Dira justru semakin gemas melihat Eric yang bertingkah mirip remaja puber, sangat tidak sesuai dengan pesona pria dewasa yang biasa ia tunjukkan.

Lihat selengkapnya