Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #16

15. Terbakar Cemburu

Dentum musik menggelegar yang memenuhi ruangan tak pernah membuat Eric terbiasa. Meskipun besar di Inggris—di mana pergaulan malam adalah hal yang lumrah—dirinya yang tak suka kebisingan dan enggan berkumpul di antara orang asing tetap tak pernah bisa menikmati suasana seperti ini.

Sialnya, semenjak di Indonesia dan harus menjaga hubungan dengan Andrea, ia terpaksa sering mendatangi tempat langganan sepupunya ini. Setelah kemarin malam mereka bersekongkol melarikan Carie yang pingsan, dan tadi pagi sudah bertemu dalam suasana menyebalkan di rumahnya, Eric tak habis pikir kenapa Andrea memanggilnya lagi secepat ini.

Saat mendorong pintu ruang VIP, Eric sudah bersiap melihat deretan wanita yang biasanya mengerubungi Andrea. Tapi kenyataan di depannya berbeda. Ruangan itu kosong. Hanya ada Andrea yang duduk sendirian di pojok tengah, dengan makanan dan minuman yang berjajar rapi. Pemandangan yang sungguh asing di mata.

“Tumben lu sendirian!” sindir Eric sembari menutup pintu. Suara bising dari luar langsung terputus, menyisakan getaran bass yang hanya terdengar sayup-sayup.

Andrea tertawa, menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. “Duduk sini, ada yang mau gue ceritain!”

Dengan kedua tangan di saku overcoat biru dongkernya, Eric duduk. “Ada apa? Segitu cintanya sama gue, baru ketemu udah minta ketemu lagi?”

Lagi-lagi Andrea tertawa, ia memeluk bahu Eric dengan akrab. “Iya, gue cinta banget sama lu!” candanya sambil memanyunkan bibir, berlagak hendak mencium pipi Eric sampai Eric mengkeret jijik dan menarik tubuhnya menjauh.

“Jijik, sialan!” hardik Eric sembari menggeleng. “Kenapa sih lu? Lagi seneng? Dikasih saham gede sama mama lu?”

Andrea menggeleng sembari menusuk potongan melon dengan garpu. “Nggak. Gue lagi seneng banget! Gue udah mutusin buat setia mulai sekarang.” Ia mengunyah melon itu dengan senyum yang tak kunjung surut.

Mata Eric menyipit sarkastis. “Bisa lu? Emang mau setia sama siapa?”

“Carissa,” sahut Andrea santai.

Deg!

Napas Eric seolah terhenti. Oksigen di paru-parunya seperti direnggut paksa dalam sekejap. Jantungnya berdenyut nyeri, sebuah reaksi fisik yang tak mampu ia kendalikan.

“Siapa lu bilang?” tanya Eric kaku, suaranya terdengar jauh lebih rendah dan dingin dari biasanya.

“Carissa!” ulang Andrea ceria, suaranya melengking penuh kemenangan. “Mulai sekarang, gue akan fokus sama dia, gue akan melindungi dia, dan menjaga dia sampai kita nikah nanti.”

“Oh,” sahut Eric pendek.

Suaranya datar, namun rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar wajahnya tampak menonjol. Di dalam saku overcoat-nya, kepalan tangan Eric begitu erat sampai kuku-kukunya menusuk kulit telapak tangannya sendiri—tepat di atas luka perih yang dibuat Carissa semalam. Rasa sakit fisik itu jauh lebih mendingan daripada rasa panas yang membakar dadanya saat ini.

“Kenapa tiba-tiba lu mutusin begitu? Bukannya lu paling nggak mau kehilangan kesempatan main sama cewek-cewek?”

“Hm!” dehem Andrea sambil terus mengunyah. Ia menyandarkan kepalanya di dinding belakang sofa, menatap langit-langit selama beberapa saat dengan pandangan menerawang, lalu tertawa bodoh lagi. “Seharian ini kita jalan-jalan. Karena dia belum ganti baju dari kemarin, kita beli baju, makan, ke taman, muter-muter kota... random aja! Tapi makin lama sama dia, gue makin sadar kalau dia tuh manis banget! Manisssssss banget!” ulangnya sambil memejamkan mata gemas. “Beda sama cewek-cewek gue sebelumnya.”

Ia menoleh ke arah Eric, yang di bawah temaram cahaya redup ruangan VIP itu wajahnya tampak merah padam. “Dan bibirnya! Bibirnya itu, seksi!” Andrea tertawa lagi, seolah sedang mabuk oleh bayangannya sendiri. “Gue pengen buru-buru nyium dia!”

Ia menepuk bahu Eric heboh, tidak menyadari bahwa orang yang ditepuknya sedang menahan diri agar tidak meledak.

Son of a bitch! Eric mengumpat kasar dalam hati.

Mendengar Andrea membicarakan bibir Carissa seperti itu, ingin rasanya Eric melayangkan tinju keras tepat ke wajah sepupunya yang hobi bermain-main ini. Bisa-bisanya dia menyebut bibir Carissa. Bisa-bisanya dia bermimpi ingin menciumnya. Kepalan tangan Eric gemetar hebat karena amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.

Namun, ia harus bertahan. Ia tidak boleh menunjukkan emosinya di depan Andrea. Ia memaksa bibirnya untuk melengkungkan senyum—sebuah senyum kaku yang terasa memuakkan bagi dirinya sendiri.

“Jadi, mulai sekarang lu bakal usaha buat deketin dia?” tanyanya, mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil.

Andrea menggeleng. “Nggak perlu usaha, dia sekarang tinggal di rumah gue.”

Lihat selengkapnya