Pukul sepuluh pagi tepat, Eric sudah berdiri di depan pagar rumah Andrea. Tidak ada sapaan hangat, hanya sebuah anggukan singkat yang memerintah Carie untuk segera masuk ke dalam mobil. Eric langsung membawanya ke sebuah pasar bunga grosir yang riuh. Di sana, selama hampir satu jam, Carissa membenamkan dirinya dalam kesibukan yang ia cintai. Jemarinya bergerak lincah memilih dahan-dahan mawar yang masih berembun, lili yang kelopaknya belum terbuka sempurna, hingga dedaunan eucalyptus yang segar.
Bunga-bunga itu kini menyesaki bagasi mobil Eric, menciptakan aroma kebun yang begitu pekat dan manis di dalam kabin. Carie mengira mereka akan kembali ke rumah untuk mulai merangkai, namun Eric justru memacu mobilnya ke arah jantung kota, berhenti tepat di depan gedung pencakar langit, kantor Andrea, tempat sekarang dirinya bekerja sebagai sebagai Konsultan Hukum.
Begitu mesin mobil mati, Carie segera turun. Ia melangkah ke arah belakang, tangannya sudah bersiap meraih tuas bagasi untuk mengeluarkan belanjaannya. Namun, gerakan Eric lebih cepat. Dengan satu tangan yang kokoh, pria itu menahan pintu bagasi dan menutupnya kembali dengan suara dentum yang berat.
"Aku gak butuh bunganya sekarang," ucap Eric dingin. Suaranya datar, namun ada nada dominasi yang sulit dibantah.
Carie mendongak, matanya yang berkabut mencoba mencari jawaban di wajah Eric. "Terus buat apa kita beli sebanyak ini, Eric? Bunganya bisa layu kalau terlalu lama di bagasi."
"Biarin aja," sahut Eric tenang. Ia berdiri tegak, merapikan letak jas-nya yang elegan. “Sekarang aku cuma mau kamu lihat sesuatu yang seru.”
Carie diliputi kebingungan, namun langkah tegap Eric yang sudah lebih dulu menuju lobi memaksanya untuk mengikuti. Mereka naik ke lantai atas, menyusuri koridor sunyi dengan lantai yang mengkilap hingga kaki mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Kantor yang baru beberapa hari lalu ia datangi ini, saat ini terasa jauh lebih dingin.
"Ini ruangan kamu?" bisik Carissa, suaranya sedikit gemetar karena suasana yang terasa mencekam dan asing. "Bukan, ini ruangan Andrea," Eric menyeringai tipis, sebuah seringai yang tak mampu Carie lihat dengan jelas, namun getaran suaranya terasa begitu sinis. "Gimana kalau kita kasih dia sedikit kejutan? Calon tunanganmu itu... mungkin lagi sibuk."
Eric meletakkan tangannya di knop pintu, memutarnya perlahan tanpa mengetuk, lalu mendorongnya lebar-lebar dengan gerakan dramatis.
Udara di dalam ruangan itu terasa tersedot keluar bagi Carie. Meski penglihatannya samar, ia bisa menangkap siluet dua orang yang sedang terhimpit di balik meja kerja besar. Mereka tidak sekadar mengobrol; mereka tengah berciuman dengan begitu dalam, begitu lapar, seolah dunia di luar sana sudah kiamat.
Carie terpaku di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di pangkal tenggorokan. Kakinya mendadak lemas, dan ia terpaksa berpegangan pada bingkai pintu agar tidak ambruk. Dunianya yang baru saja mulai ia bangun bersama Andrea kemarin lusa, kini hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri. Pria yang ia kira benar-benar telah melabuhkan hati padanya, ternyata masih bermain-main liar dengan wanita lain.
Keheningan yang memuakkan itu pecah ketika sang wanita melepaskan tautan bibirnya dan menoleh ke arah pintu dengan nafas memburu.
"Carie?" panggil wanita itu, suaranya melengking karena terkejut yang luar biasa.
Darah Carie serasa membeku di pembuluh nadinya. Suara itu bukan sekadar suara asing. Itu adalah nada, intonasi, dan warna suara yang selama bertahun-tahun menjadi panutannya. Fakta bahwa ia mengenali suara itu terasa lebih mengerikan daripada pemandangan perselingkuhan itu sendiri.
"Amanda?" bisik Carissa parau. Bibirnya bergetar hebat. "Kenapa... kenapa kamu?"
Wanita di pelukan Andrea itu adalah Amanda—sahabat karibnya sendiri, satu-satunya orang yang ia percayai selain ibunya. Di sana, di bawah cahaya lampu kantor yang mewah, Carie menyadari bahwa ia baru saja dikhianati oleh dua orang yang ia anggap sebagai rumah. Dan di sampingnya, Eric berdiri diam dengan tangan di saku, menyaksikan kehancuran itu dengan tatapan yang nyaris terasa seperti pembalasan dendam yang manis.
“Carie, aku bisa jelasin!” Suara Andrea pecah oleh kepanikan. Ia melompat bangun, merapikan kemejanya yang berantakan dengan gerakan serampangan, lalu berlari mengejar.
Namun, Carie sudah tidak sanggup lagi menampung kenyataan yang menghantamnya bertubi-tubi. Ia berbalik dengan gerakan patah-patah, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari raga. Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan fakta bahwa pandangannya yang buram dan berkabut kini menjadi penghalang maut bagi langkahnya. Ia menabrak pinggiran meja, menyenggol bahu karyawan yang lewat, namun rasa perih di hatinya jauh lebih mendominasi daripada rasa sakit di fisiknya.
Andrea melesat menyusul, melewati Eric yang masih berdiri tegak di ambang pintu. Pria itu berdiri begitu tenang, begitu angkuh, seolah ia hanyalah sebuah bayangan statis yang sejak awal memang sudah ditakdirkan berada di sana untuk menyaksikan kehancuran ini.
Begitu sosok Andrea menghilang di tikungan koridor, atmosfer di dalam ruangan itu berubah drastis. Eric tidak lagi memasang wajah kaku. Ia menoleh perlahan, melemparkan tatapan penuh arti ke arah Amanda yang masih berdiri mematung di dekat meja kerja Andrea, merapikan rambutnya yang acak-acakkan dengan jemari lentiknya.
Eric mengangkat tangannya perlahan. Ibu jarinya terangkat tinggi ke arah Amanda, sementara sebuah senyum puas yang dingin mengembang sempurna di wajahnya.