Lama-lama, Carie merasa mulai memahami pola pria yang duduk di hadapannya ini. Berbeda dengan Andrea yang selalu membalut perlakuannya dengan kata-kata manis dan janji muluk yang menghanyutkan, Eric adalah kebalikannya. Mulut pria ini lebih pedas dari cabai dan lebih tajam dari belati. Tiap kali Carie membuka suara, Eric akan mematahkan semangatnya, meremehkannya dengan sombong, atau mengomelinya tanpa henti.
Tapi anehnya, di balik ketajaman itu, Eric selalu berakhir melakukan apa yang Carie mau. Seperti saat ini, mereka benar-benar berakhir duduk di kedai bubur ayam pinggir jalan, dan Carie baru saja menandaskan mangkuk keduanya dengan lahap.
“Masih kurang?” sindir Eric sinis. “Kamu ini sebenarnya lagi patah hati atau busung lapar? Makan sampai dua mangkuk begitu!” omelnya sambil bersedekap, menatap tumpukan mangkuk kosong itu dengan dahi berkerut.
Carie hanya nyengir tanpa beban, mengusap sisa kuah bubur di bibirnya menggunakan punggung tangan—sebuah kebiasaan ceroboh yang langsung memicu insting perfeksionis Eric.
“Pakai tisu!” tegur Eric tegas. Ia langsung menyambar tisu dari atas meja, meraih tangan Carie, dan menyeka punggung tangannya yang kotor dengan gerakan yang mantap namun teliti.
Detik itu juga, dunia Carie seolah berhenti berputar.
Selama sepersekian detik, kabut yang menutupi penglihatannya tersingkap sempurna. Ia bisa melihat dengan sangat jelas setiap detail wajah Eric yang tengah serius membersihkan tangannya—alisnya yang tebal, sorot matanya yang dalam, hingga garis rahangnya yang tegas.
Carie tersentak. Dengan gerakan impulsif, ia langsung menggenggam tangan Eric yang masih memegang tisu dengan kedua tangannya sendiri. Ia menatap wajah pria itu lekat-lekat, matanya terbuka lebar hingga dahinya berkerut-kerut, mencoba mempertahankan fokus yang baru saja ia dapatkan. Tapi begitu ia berkedip, pandangannya kembali kabur.
“Kenapa?” tanya Eric bingung, sedikit terkejut dengan serangan mendadak itu. “Kenapa sih?” protesnya menuntut jawaban.
“Sumpah, barusan kelihatan!” gumam Carie takjub. Ia mulai memegang-megang tangan Eric, memijatnya dengan gerakan kasar dan tak beraturan seolah sedang mencari tombol rahasia. “Kok nggak kelihatan lagi? Tadi kelihatan!”
“Apaan sih?” Eric mulai penasaran sekaligus risi dengan tingkah aneh Carie.
“Aku lihat muka kamu! Barusan, aku lihat muka kamu!” jelas Carie dengan nada membabi buta, matanya masih terus menggeledah setiap inci wajah Eric yang kini kembali mengabur.
“Muka aku? Lihat muka aku? Maksud kamu... kamu bisa lihat jelas?” Eric mencoba menyimpulkan dengan nada tak percaya.
“Em!” Carie mengangguk antusias. “Malam itu juga aku lihat, jelas banget!”
“Malam? Malam kapan?”
“Sebelum aku pingsan!” Carie tidak bisa lagi menahan diri. Ia menarik tubuhnya, bangkit sedikit dari kursi hingga posisinya condong melewati meja. Kedua tangannya langsung menangkup wajah Eric, memaksa pria itu memandangnya dari jarak yang teramat dekat—nyaris tak ada sisa ruang di antara mereka.
“Apa harus sering-sering ciuman, ya?” gumam Carie enteng, seolah ia baru saja membicarakan ramalan cuaca atau menu sarapan esok hari.
Mata Eric membelalak kaget. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. “Carie!”
Dengan cepat, Eric mendorong bahu Carie, memaksa gadis itu duduk kembali ke kursinya dengan wajah memerah menahan malu sekaligus kesal. “Aku udah bilang jangan suka ngomong asal begitu!” bentaknya, meski ia sendiri harus bersusah payah mengatur nafasnya yang mendadak berantakan.
Mulut Carie langsung manyun, tak terima diceramahi. “Kenapa emangnya? Bukannya tadi kamu yang ngajakin pacaran? Sekarang berubah pikiran?” tantangnya dengan nada provokatif yang sengaja ingin memojokkan Eric.
“Pikirin dulu nasib kamu!” balas Eric ketus, mencoba mengalihkan pembicaraan dari topik ciuman yang membuatnya kegerahan. “Sekarang mau gimana? Mau pulang ke rumah Andrea? Atau ke rumah kamu? Katanya kamu lagi kabur dari rumah.”
“Cih!” cibir Carie merengut. “Semuanya tahu, apa sih yang nggak kamu tahu!” gerutunya sambil melengos, merasa seperti orang telanjang di bawah pengawasan Eric. Namun, sedetik kemudian ia menoleh cepat ke arah Eric lagi dengan mata yang berbinar nakal. “Tinggal di rumah kamu aja gimana? Kan kita pacaran!”
“Carissaaaaa!” geram Eric. Suaranya rendah dan dalam, peringatan nyata bahwa kesabarannya sedang diuji di tempat umum .
“Iya, iya!” sahut Carissa cepat sebelum Eric benar-benar meledak. Ia menyandarkan kasar punggungnya ke kursi kayu yang keras. Bahunya melorot lesu, bibirnya masih mengerucut sebal, namun pikirannya mulai bekerja lebih jernih.