“Orang itu?” tanya Eric, langsung memastikan status si pengintai saat menyandarkan punggungnya di kursi restoran hotel yang empuk
“Aman, terkecoh sempurna!” sahut Dira percaya diri. Ia menyesap kopi hitamnya sejenak sebelum melanjutkan.
“Bajunya?”
“Nih!” Dira mengangkat tas karton dari lantai. “Gue juga beliin underwear sexyyyyyyy!” godanya dengan seringai lebar. Ia menarik keluar secuil kain penuh renda dengan warna merah menyala, memamerkannya di tengah restoran hotel yang untungnya sedang sepi.
“Dasar gila! Buat apaan beli gituan!” tegur Eric kasar. Dengan gerakan cepat, ia merebut tas karton itu dari tangan Dira, wajahnya mendadak panas karena malu sekaligus kesal.
“Kata dia harus beli yang bagus, dia juga yang pilih. Gue kan nggak tahu ukurannya!” bela Dira sambil mengangkat kedua tangan, seolah menyerah.
Alis Eric naik tinggi, firasatnya mulai bekerja. “Siapa?”
“Hai!”
Amanda muncul dari balik tembok pilar restoran. “Aku di sini!” ujarnya ceria dengan nada suara yang melengking manja, sambil melambaikan tangan ke arah Eric.
Eric tertawa karena mendapati Amanda sejak tadi bersembunyi, sekaligus merasa lega karena ternyata bukan Dira yang memilih pakaian Carie apalagi baju dalamnya.
Namun ekspresi Dira justru berubah keras. “Lu gila ya, Ric. Masa adik gue lu suruh kayak gitu!” tegur Dira sambil melayangkan tinju keras ke bahu Eric.
“Au!” Eric meringis, memegangi bahunya yang berdenyut. “Gue cuma minta dia kencan sama Andrea.”
“Ckckck!” Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir, sambil menarik kursi dan duduk di sebelah kakaknya. “Padahal dia yang nyuruh aku tampil provokatif sampai ketahuan Carie. Udah mana si Andrea emang hidung belang banget, digoda dikit langsung kepancing!”
“Amanda!” tegur Dira, melirik tajam ke arah adik kandungnya.
Dira merasa kepalanya mau pecah. Saat tadi Amanda melaporkan apa yang terjadi di kantor Andrea—menceritakan setiap detail ciuman sandiwara itu dengan nada bangga—Dira sudah hampir mengamuk. Sekarang, di depan Eric, adiknya ini malah mengoceh tanpa sungkan.
“Jadi, sekarang lu pacaran sama Carie?” cetus Dira sarkastis, menekankan kata 'pacaran' dengan nada yang seolah meragukan kesehatan mental sahabatnya itu.
Eric hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh, ekspresinya tetap datar meski di dalam hatinya sedang terjadi perang antara logika dan obsesi.
“Cih!” Dira melirik sinis, tak tahan untuk tidak menyerang balik. “Kemarin aja bilangnya, ‘fokus sama rencana aja’! Fokus apanya, kalau akhirnya lu malah nyemplung sendiri!” sindirnya dengan nada mengejek yang sangat kentara.
Eric tetap diam, mengabaikan ocehan Dira seolah itu hanya angin lalu. Ia lebih tertarik memeriksa isi tas belanjaan untuk memastikan semua kebutuhan Carissa sudah lengkap.