Suasana di ruang kerja itu mencekam, pekat oleh aroma kemarahan dan sisa barang-barang pecah belah yang berserakan di lantai. Nafas Andini memburu, dadanya naik turun saat ia menatap Andrea dengan tatapan yang seolah bisa menguliti kulitnya hidup-hidup.
“Kamu itu emang benar-benar idiot ya! Kamu pikir Eric baik? Sampai kamu bisa-bisanya lengah dan buat Carie jatuh ke dia!” bentak Andini. Suaranya melengking tinggi, memantul di dinding ruangan yang luas itu sebelum ia membanting sebuah asbak kristal yang melesat hanya beberapa inci di samping kepala Andrea.
Andrea tetap mematung. Tangannya mengepal di samping badan, menerima setiap cercaan dan benda yang melayang ke arahnya tanpa niat menghindar.
“Sekarang kamu bilang, di mana Carie? Kenapa dia bisa hilang!” hardik Andini lagi, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Andrea.
“Ma, aku ngerti Mama mau jodohin aku sama Carie karena katanya amanat mendiang Papa. Tapi Mama juga pasti sadar, kan, kalau selama ini Mama terlalu terobsesi?” kritik Andrea. Suaranya sedikit bergetar, ada keraguan yang besar di sana, namun ia merasa harus mengatakannya.
Mendengar itu, mata Andini berkilat makin ganas. “Jadi kamu sekarang mulai berani bertanya? Apa kamu sudah mulai benar-benar gak tahu diri, dan anggap kamu benar-benar pantas ada di rumah ini?”
Kalimat itu menghantam Andrea lebih keras daripada benda tumpul mana pun. Sebuah pengingat kejam akan posisinya yang rapuh di dalam silsilah keluarga ini.
“Nggak gitu, Ma.” Andrea tertunduk, bahunya melorot lemas. “Aku juga paham kalau aku cuma anak angkat. Dan aku udah terima jauh lebih banyak dari yang pantas aku terima. Aku tahu aku perlu bantu Mama buat balas budi. Tapi seenggaknya...”
Andrea mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca memancarkan keputusasaan yang mendalam. Ia tidak lagi memprotes; ia memohon. “Tolong jelasin ke aku, kenapa harus Carie? Dan sebenarnya ada apa sama Eric?”
Andini terdiam sejenak. Ia menarik nafas panjang, merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan dengan gerakan yang teramat tenang, namun menyiratkan aura menyeramkan. Ia melangkah perlahan menuju jendela besar, menatap pekatnya kegelapan malam dengan tangan terlipat di depan dada.
“Karena harus Carie. Harus dia yang menikah sama kamu," ucapnya dingin. "Cuma dengan begitu, perusahaan yang susah payah aku besarkan, perusahaan yang kamu kelola sekarang, rumah ini, hingga seluruh kekayaan ini, akan tetap aman di tangan kita.”
Teror mendadak menyalip di wajah Andrea. Ia tak pernah membayangkan ada alasan sebesar dan sekelam ini di balik ambisi ibunya untuk menjodohkannya dengan Carie. Selama ini ia mengira itu hanyalah soal amanat atau status sosial, bukan tentang kelangsungan hidup.
“Maksud Mama?” Andrea mengkonfirmasi sekali lagi, suaranya tercekat. Ia berharap bisa mendapatkan penjelasan lebih gamblang agar ia paham situasi yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia duga.
Andini menoleh, sorot matanya tajam mengunci pandangan Andrea. “Sekarang kamu sudah tahu kalau Carie adalah aset yang terlalu berharga untuk dilepas. Dan asal kamu tahu, Eric juga sadar akan hal itu. Dia tahu persis sepenting apa Carie. Makanya dia tipu kamu, berpura-pura setia hanya untuk bisa mencuri Carie tepat di depan matamu.”
Mendengar itu, Andrea merasa bumi yang ia pijak tiba-tiba miring. Rasa terkejut itu menghantamnya begitu telak hingga ia tak mampu merespons sepatah kata pun. Selama ini, ia adalah pihak yang selalu memilih diam, pihak yang tahu diri bahwa posisinya hanyalah anak angkat. Namun ternyata, sekalinya ia memberanikan diri untuk bertanya, ia justru dilemparkan ke dalam labirin kebingungan yang lebih dalam.
Ia tak bisa sepenuhnya mencerna penjelasan kabur ibunya, pun tak tahu harus mencari kebenaran ke mana lagi. Terlebih, ucapan ibunya tentang Eric terasa janggal di telinganya. Bagaimana bisa sepupu yang selama ini ia percayai melakukan hal selicik itu? Benarkah semua ini hanya tentang harta? Di tengah kekalutan itu, Andrea merasa dunianya baru saja runtuh, dan ia tidak tahu siapa yang sebenarnya harus ia percayai.
Sementara itu di toko bunga, Carie hanya bisa terpaku. Saat tadi turun dari mobil Eric di depan gang, ia sudah membentengi diri. Ia sudah bersiap menerima tamparan lagi, atau setidaknya makian kasar dari ibunya karena kabur dari rumah. Namun, dugaannya meleset jauh.
Ibunya justru langsung menghambur, memeluknya dengan sangat erat sambil menangis tersedu-sedu. Kini, dalam dekapan ibunya, Carie benar-benar bingung. Apa yang sebenarnya terjadi selama dua hari ia pergi? Kenapa sikap ibunya berubah drastis?
“Maafin Ibu, Carie... maafin Ibu,” sesal Sari berkali-kali. Tangannya menggenggam tangan Carie dengan sangat kencang, seolah takut putrinya itu akan pergi lagi.
Suara hatinya terdengar selaras dengan ucapannya. Hal ini terasa sangat berbeda dari biasanya; meski samar dan tak terlalu lantang, suara hati itu terdengar begitu tulus dan jujur.
Carie terdiam, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan yang terasa seperti teman lama yang akhirnya pulang kembali. Tangisan Sari yang pecah seolah meruntuhkan tembok es yang sejak kemarin tanpa sadar membeku di antara mereka, memisahkan kehangatan ibu dan anak ini dalam kesunyian yang menyiksa.
“Ibu benar-benar takut, Carie... Ibu takut kamu nggak balik lagi,” isak Sari, menyembunyikan wajahnya yang basah di bahu Carie. “Kemarin Andrea datang mencari kamu. Ibu kaget, karena Ibu pikir kamu aman di rumahnya. Terus dia cerita kalau dia bersalah sama kamu, kalau kamu pergi karena sakit hati. Ibu takut... Ibu takut kejadian dulu terulang lagi.”