Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #21

20. Kesempatan Kedua

Andrea berlutut di lantai toko yang dingin, kepalanya menunduk dalam, menunjukkan penyesalan yang tampak begitu berat hingga ia tak sanggup lagi menopang harga dirinya. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun sebagai alasan atau pembelaan. Begitu melangkah masuk ke toko bunga, ia langsung menjatuhkan diri di depan Carissa, seolah membiarkan dirinya dihakimi oleh diamnya gadis itu.

Carie, yang semalaman tersiksa oleh hantaman fakta masa lalu dan dirundung rasa sesal yang hebat, merasa jiwanya kosong. Ia merasa bersalah pada ibunya, namun yang paling menyakitkan adalah rasa kecewa teramat sangat pada dirinya sendiri. Ia benci kenyataan bahwa ia justru sempat bersandar pada sosok Eric—pria yang ternyata merupakan sumber kekacauan masa lalunya, selain dirinya sendiri.

Ia tak punya tenaga untuk marah, apalagi meledak-ledak. Dengan gerakan yang lemah, ia menunduk dan mengulurkan kedua tangannya, memegangi lengan atas Andrea.

“Bangun!” pintanya pelan, nyaris berbisik.

Tanpa perlawanan sedikit pun, Andrea mengikuti tuntunan tangan Carissa yang membantunya berdiri. Meski sudah tegak, kepalanya masih tertunduk dalam. Ia tak sanggup memandang wajah Carissa; rasa malu seolah mencekik tenggorokannya.

Mengesampingkan fakta bahwa ia sedang ditekan oleh ibunya untuk tetap mengikat Carie, penyesalan Andrea saat ini benar-benar tulus. Rasa bersalahnya jujur, murni lahir dari dalam dirinya tanpa tekanan eksternal mana pun.

“Maafin aku, Carie... aku bener-bener nggak tahu harus mulai dari mana,” suara Andrea pecah, bergetar di tengah keheningan toko bunga yang biasanya harum, namun kini terasa menyesakkan.

Carie melepaskan pegangannya pada lengan Andrea, tangannya terkulai lemas di samping tubuh seolah seluruh bebannya baru saja berpindah ke lantai. “Kita ngobrol sebentar,” ajak Carie lirih. Ia melangkah perlahan, lalu duduk di kursi kayu di balik meja tempatnya biasa menata bunga.

Dengan langkah lemas dan bahu yang melorot, Andrea mengekor. Ia duduk di samping Carie, namun sengaja menjaga jarak yang cukup lebar. Ia seolah-olah sedang berusaha menjaga batas, merasa dirinya terlalu kotor untuk berada terlalu dekat dengan Carie.

“Aku minta maaf, pergi gitu aja dan matiin hape. Aku tahu kamu panik dan nyariin aku,” ucap Carie memulai pembicaraan.

“Nggak, kamu jangan minta maaf!” geleng Andrea cepat, suaranya naik satu nada karena rasa bersalah yang mendesak. “Aku nggak pantes terima kata maaf dari kamu, Carie. Sama sekali nggak pantes.”

Carie terdiam. Ia tak perlu menyentuh kulit Andrea untuk mendengar suara hatinya. Gemetar dalam nada suara Andrea adalah bukti nyata bagi Carie bahwa pria ini sungguh-sungguh dengan penyesalannya. Bagi Carie, kejujuran emosi Andrea yang sebesar ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan memaafkan. Carie sudah terlalu lelah untuk menyimpan benci tambahan.

“Gimana kalau kita lupain aja yang udah terjadi?” anjur Carie, mencoba mencari jalan keluar dari suasana canggung ini.

Andrea menoleh dengan ekspresi panik yang kentara. “Kamu bukan mau putus hubungan sama aku, kan?” tanyanya cepat. Ia takut maksud perkataan Carie adalah menghapus seluruh eksistensi mereka dari hidup masing-masing. “Aku mohon, Carissa, kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku janji, aku nggak akan pernah nyakitin kamu lagi.”

Senyum pedih melengkung di bibir Carie. Ia menatap lurus ke barisan bunga di hadapannya—bayangan warna-warni yang buram di matanya. “Kalau yang kamu maksud adalah hubungan romansa... saat ini, aku ngerasa nggak bisa ngasih hati aku ke siapapun.”

Kalimat itu menggantung sejenak di udara sebelum Carie melanjutkan, “Tapi kalau sekedar teman, bagi aku, nggak ada masalah.”

“Itu lebih dari cukup!” ujar Andrea cepat, seolah baru saja mendapat nafas buatan. “Asal kamu masih mau ketemu aku, asal kamu nggak ngusir aku dari hidup kamu... itu udah lebih dari cukup, Carie.”

“Em,” Carie mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya