Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #22

21. Hati dan Logika

2 Hari sebelumnya…


Andini duduk dengan anggun di sofa ruang tamu lantai dua ruko itu—sebuah ruangan yang luasnya bahkan lebih kecil daripada toilet di rumah mewahnya. Meski tempat itu terasa sesak dan panas, Andini tak menunjukkan setitik pun rasa jijik. Di sampingnya, Andrea terus menunduk, matanya menatap ujung sepatu sambil mengais-ngais sisa kepercayaan diri yang sudah luruh.

Dua hari lalu, Andrea baru saja berjanji bahwa status pertemanan sudah cukup bagi mereka. Namun kini, ia justru duduk di hadapan Carissa sebagai calon tunangan yang hendak melamar secara formal. Sama seperti Carie yang tampak terjebak, Andrea pun berada di sini karena terpaksa. Ia tak punya kuasa untuk menolak saat Andini menyeretnya ikut demi ambisi yang dibungkus dengan label "keluarga".

“Tante benar-benar minta maaf atas apa yang Andrea lakukan ke kamu, Carie. Tante tahu, mungkin nggak sepantasnya Tante tetap bicara soal pertunangan kalian di saat situasi masih canggung begini,” buka Andini. Nada suaranya merendah, lembut, dan penuh empati—sangat kontras dengan gurat wajahnya yang biasanya angkuh dan dominan.

Ia menatap Carissa dengan pandangan keibuan yang palsu. “Tapi seperti yang mungkin sudah kamu tahu, ini adalah amanat terakhir mendiang papa Andrea. Jadi, Tante tetap mau berusaha sekali lagi. Tante sangat berharap pertunangan kalian benar-benar bisa dilaksanakan bulan depan.”

Mendengar ibunya bicara dengan nada semanis itu, bulu kuduk Andrea meremang hebat. Di mata Carissa atau Sari, mungkin saat ini Andini terlihat seperti sosok wanita anggun yang penuh pengertian dan sopan. Namun bagi Andrea, yang sudah hafal luar dalam watak ibunya, tingkah laku Andini saat ini tak ubahnya musik latar yang mendebarkan di film horor. Sangat tenang, sangat tertata, namun mematikan.

Menyeramkan.

Carissa terdiam. Ia bisa merasakan kehadiran Andini yang mendominasi ruangan kecil itu. Sari, yang duduk di sebelah Carissa, menggenggam erat tangan putrinya. Ia ingin menolak, namun bayangan masa lalu dan dominasi Andini berikan membuatnya seolah kehilangan suara.

“Bagaimana, Carie? Sari?” tanya Andini lagi, kali ini sambil mengulas senyum tipis yang tampak begitu tulus. “Tante hanya ingin Carissa mendapatkan perlindungan yang layak di keluarga kami.”

Carie tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah ibunya, mencari pegangan. Sari menatap Carie dalam-dalam, namun apa yang ingin ia sampaikan tidak keluar lewat kata-kata, melainkan melalui getaran hatinya yang tertangkap oleh Carie: “Ibu serahkan semuanya ke kamu.”

Ini adalah pertama kalinya Sari tidak mendikte keputusan Carie. Nampaknya, Sari sungguh-sungguh dengan niatnya untuk memberikan kebebasan dan keterbukaan. Namun bagi Carie, kebebasan ini justru terasa mencekik. Ia merasa tersesat dan butuh diarahkan, karena saat ini dunianya sedang jungkir balik oleh dua rahasia besar yang ia simpan sendiri sejak hari itu.

Pertama, selama dua malam berturut-turut, tragedi delapan tahun lalu itu terus menghantuinya dalam mimpi. Ia tak tahu apakah itu potongan memori asli yang bangkit kembali atau sekadar visualisasi dari cerita Sari, namun semuanya terasa begitu nyata—suara hantaman logam, dinginnya air sungai, dan teriakan putus asa yang memanggil namanya.

Kedua, dan yang paling mengejutkan, penglihatannya perlahan mulai membaik. Kabut tak kasat mata yang selama ini menghalangi pandangannya perlahan terangkat. Pagi tadi, ia bahkan sudah bisa melihat garis matanya sendiri di cermin ruko yang kusam. Meski belum sepenuhnya jernih, ia kini tahu seperti apa lekuk bibirnya sendiri.

Dan di tengah kemajuan fisiknya itu, ada satu keinginan yang menyiksanya: ia ingin bertemu Eric.

Ia ingin menatap wajah pria itu dengan mata yang mulai bisa melihat jelas ini. Mungkin hanya untuk memastikan apakah wajah tampan namun dingin yang ia lihat dalam "kilasan penglihatan sempurna" di tempo hari itu nyata, ataukah itu murni karena kerinduan yang datang tanpa diundang—untuk bertemu dengannya lagi.

Hatinya berperang hebat. Logikanya meneriakkan bahwa tak seharusnya ia merindukan pria yang menjadi pemicu kehancuran keluarganya. Tak seharusnya ia mencari sosok yang telah mematahkan hatinya hingga hidupnya menjadi seperti ini. Namun, seperti yang banyak orang tahu, cara kerja otak sering kali tak sejalan dengan hati. Carie benar-benar tersesat di labirin perasaannya sendiri.

"Carie?" Suara lembut Andini kembali memecah keheningan, memaksanya kembali ke realita di ruang tamu yang sempit itu. "Bagaimana, Sayang?"

Carie meremas jemarinya kuat-kuat di bawah meja, seolah sedang memeras seluruh keraguan yang tersisa. Ia melirik Andrea yang masih menunduk. Meski ia tahu pria itu lemah di bawah bayang-bayang ibunya, Andrea tetaplah sosok yang tulus—pria yang paling masuk akal untuk ia jadikan sandaran. Ditambah lagi, bayang-bayang balas budi kepada keluarga Andrea yang terus ditekankan ibunya kini menjelma menjadi beban moral yang menghimpit dada.

Hanya sebuah pertunangan. Di tengah kehidupannya yang buram dan penuh luka masa lalu, mungkin inilah satu-satunya jalan keluar yang terlihat nyata. Demi ketenangan hati Sari, demi menebus hutang budi yang tak kasatmata itu, Carie pun menarik napas dalam-dalam.


Lihat selengkapnya