Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #23

22. Diseret Rasa

Langkah kaki Carie yang semula ragu mendadak terpaku di atas karpet tebal yang terasa sangat empuk di bawah telapak kakinya. Sejak memasuki lobi gedung apartemen ini, rasa janggal sudah merayap di benaknya. Kemewahan yang membalut setiap sudut bangunan ini menggambarkan kelas sosial yang terpaut jauh darinya. Logikanya bertanya-tanya: jika Amanda mampu pindah ke tempat se-elite ini dalam sekejap, untuk apa gadis itu bertahan bertahun-tahun di lantai tiga rukonya yang sempit dan kumuh?

Namun, pertanyaan itu menguap saat pintu unit apartemen dibuka.

Meski di luar sana langit sudah jatuh dalam kegelapan gulita, ruangan ini justru terasa cerah. Furniture serba putih yang elegan memantulkan cahaya lampu temaram, menciptakan atmosfer yang hangat namun asing. Di tengah ruangan yang luas itu, berdiri sebuah siluet yang membuat nafas Carie tercekat di kerongkongan.

“Eric?” gumam Carie tak percaya. Suaranya nyaris hilang, tertelan oleh degup jantungnya yang tiba-tiba berpacu liar.

Sosok tinggi berbahu lebar itu berdiri membelakangi jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat tangan yang kaku. Pria itu bergerak maju, melangkah perlahan mendekati Carie dengan tatapan tajam, namun menyimpan kelelahan yang amat dalam.

Carie yang merasa terjebak refleks menoleh ke arah Amanda, menuntut penjelasan atas pengkhianatan yang tak terduga ini. Namun, Amanda bahkan tak berani membalas tatapannya.

“Maaf, Carie!” bisik Amanda cepat dengan suara bergetar.

Tanpa menunggu balasan, Amanda segera memutar tubuh, melangkah keluar ruangan dengan terburu-buru, dan membanting pintu apartemen di belakangnya. Detik berikutnya, suara klik tajam dari sistem pengunci otomatis terdengar menggema.

“Apa-apaan ini!” tuntut Carie dengan suara bergetar. Ia memelototi Eric yang berdiri tegak di hadapannya, seolah pria itu adalah orang asing yang baru saja ia temui. “Kamu... kenal Amanda? Sejak kapan?”

Eric tak langsung menyahut. Di tengah keheningan ruangan yang mencekam, ia justru melangkah maju. Tangannya terulur, mencoba membelai pipi Carie dengan punggung tangan—sebuah gerakan biasa yang harusnya terasa menenangkan, namun malah terasa seperti sebuah serangan di saat seperti ini. Hanya butuh beberapa detik kontak fisik itu bagi Carie untuk menangkap kebenaran yang selama ini tersembunyi.

“Sejak awal?” pekik Carie syok, matanya melebar saat menyadari pengkhianatan yang sistematis ini. “Amanda kenalan kamu sejak awal?”

Di hadapannya, raut Eric berubah. Ia tampak jauh lebih terkejut daripada Carie. “Kamu... gimana kamu bisa tahu?” tanyanya dengan suara rendah. Memetakan kemungkinan dalam otaknya.

Amarah Carie meledak seketika. Ia tidak lagi memedulikan penjelasan apa pun. Dengan gerakan mendadak, ia berbalik ke arah pintu, mencengkeram gagang logamnya dan berusaha membukanya sekuat tenaga. Namun, pintu itu tetap bergeming. Amanda benar-benar telah menguncinya di dalam ruangan asing yang dingin ini bersama Eric.

Jelas sudah baginya: kedatangan Amanda ke toko bunga tadi hanyalah sebuah umpan. Sahabat yang paling ia percayai ternyata adalah pion dalam permainan Eric. Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya? Kenapa ada rahasia sebesar ini yang tersembunyi tepat di depan matanya?

Carie yang kalut mulai memukul-mukul permukaan pintu yang kokoh itu. Tenaga yang selama lima hari ini seolah hilang dari tubuhnya, mendadak bangkit kembali dengan cara yang tak terkontrol, dipicu oleh adrenalin dan rasa sakit hati.

“Buka! Buka pintunya!” teriak Carie marah, suaranya menggema di dinding-dinding apartemen yang luas.

Tak membiarkan Carie menyakiti dirinya sendiri, Eric bergerak cepat. Ia menarik lengan Carie, memutar tubuh gadis itu hingga mereka kembali berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Kedua tangan Eric mencengkeram lengan atas Carie, berusaha menghentikan gerakan liar tangan gadis itu yang terus menghantam pintu.

“Lepasin!” bentak Carie, nafasnya memburu pendek-pendek.

Eric bergeming, matanya menatap Carie dengan sorot antara rasa bersalah dan tekad yang keras. Namun, karena tak ingin menyakiti Carie lebih jauh, genggaman Eric sengaja ia longgarkan. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Carie. Dengan kekuatan penuh dari amarah yang meluap, ia menghempaskan pegangan Eric.

Lihat selengkapnya