Amanda melangkah dengan sangat pelan, nyaris berjingkat agar gesekan sepatunya pada karpet tebal itu tak merusak keheningan. Ia menundukkan badan dengan gerakan hati-hati, menaruh secangkir teh hangat yang masih mengepul ke atas meja tamu. Posisi itu tepat di samping Eric yang tengah duduk bersila di lantai, mematung seperti penjaga yang tak kenal lelah.
Eric sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Carie yang terlelap di sofa. Wajah gadis itu tampak begitu tenang dalam tidurnya, meski sisa-sisa guratan kelelahan dan jejak air mata masih samar terlihat di sudut matanya.
“Gak perlu dibawa ke rumah sakit?” tanya Amanda, suaranya berbisik penuh kekhawatiran yang tulus.
Eric menggeleng pelan tanpa memalingkan muka. “Dia cuma tidur. Kecapekan mungkin,” sahutnya rendah. Jemari Eric yang panjang bergerak lembut, membelai helaian rambut Carie yang menutupi keningnya.
“Iya sih, heboh gitu tadi...” gumam Amanda, mengacu pada keributan yang sempat ia dengar sebelum suasana mendadak senyap secara mencurigakan. Namun, begitu Eric menoleh dengan satu alis terangkat ke arahnya, Amanda langsung terbelalak. Ia buru-buru mengangkat kedua telapak tangannya di depan dada dengan gerakan defensif yang canggung.
“Nggak! Aku nggak denger apa-apa tadi! Sumpah, aku pake headphone di luar!” jelasnya cepat, namun nada suaranya yang gugup justru mengonfirmasi bahwa ia mendengar hampir segalanya.
Eric hanya mengulas senyum kecut, tak berminat memperpanjang urusan itu. Ia kembali memfokuskan seluruh dunianya pada sosok Carie di hadapannya.
“Aku tunggu di kafe bawah ya, Kak. Kalau perlu apa-apa atau kondisi Kakak sendiri mulai nggak enak... telepon aja,” bisik Amanda lagi. Ia berjalan mundur dengan perlahan, menjaga jarak seolah tak ingin mengusik gravitasi yang sedang menarik dua orang di ruangan itu begitu kuat.
Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang halus, kelopak mata Carie bergerak samar. Tangan Eric berhenti bergerak, menggantung di udara. Pandangannya waspada, memperhatikan setiap perubahan di ekspresi wajah Carie dengan nafas tertahan.
“Mhhhh.” Carie melenguh pelan. Ia menekuk telapak kakinya ke dalam, merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Sambil mengucek matanya, ia menoleh ke Eric yang masih duduk di lantai. “Eric…” panggilnya dengan nada manja yang tak terduga, jemarinya merambat memegangi lengan atas Eric.
“Hm?” balas Eric lembut. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, berlutut di samping sofa agar sejajar dengan Carie. “Kamu pusing?” tanyanya penuh perhatian, suaranya sehalus beludru.
Carie menggeleng pelan. “Kamu kemana aja berhari-hari? Aku tuh kangen!”
Tiba-tiba, gadis itu mengulurkan tangannya, melingkarkannya ke leher Eric dan menarik pria itu mendekat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Eric, seolah kemarahan yang meledak-ledak tadi hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat, dan sejak awal dia datang kesini memang ingin melepas kangen dengan pria yang hampir seminggu tak ada kabar ini.
“Tadi aja ditamparin!” gerutu Eric ketus, namun ia tak menolak pelukan itu. Ia benar-benar tak paham pada mood swing Carie yang berubah drastis dari singa menjadi kucing rumahan.
Carie terkekeh pelan. Ada rasa bersalah yang menyelip di hatinya karena telah bertindak kasar pada Eric tadi. Namun, senyum itu perlahan memudar saat Eric melontarkan pertanyaan yang memancing realita.
“Kenapa tadi kamu kayak gitu? Gara-gara ciuman?” selidik Eric frontal, matanya menatap dalam, mencari kejujuran.
“Ah!” Kesadaran Carie kembali sepenuhnya. Ia melepas pelukannya dari leher Eric, namun tangannya tetap terulur seolah meminta diraih.
Eric yang paham dengan gelagat itu langsung bangkit, tangannya memegangi tangan Carie, membantu Carie duduk tegak sebelum ia sendiri duduk tepat di sampingnya. Jarak mereka kini begitu dekat, namun atmosfernya berubah menjadi lebih serius dan berat.
“Aku ingat, aku ingat kenapa kalung ini ada sama aku.” Carie mengeluarkan liontin dari balik kemeja chiffon-nya. Jemarinya gemetar saat memegangi simbol Ophiuchus itu.
Tak menyela, Eric hanya terus menatap Carie lekat. Ia memasang telinga untuk mendengar apapun yang akan dikatakan oleh Carie. Ini adalah potongan teka-teki yang ia cari selama bertahun-tahun.
“Waktu itu, aku pergi ke semak di hutan belakang vila…” Mata Carie menerawang, pupilnya bergetar mengikuti kilasan memori yang melintas cepat tadi. “Tapi nggak jauh di pinggir hutan itu, aku lihat dua orang. Lagi berantem hebat.”
“Siapa?” tanya Eric buru-buru. Jantungnya berdegup kencang. Sudah terlalu lama ia penasaran dengan kejadian yang hanya Carie yang ketahui ini.
“Mama aku, dan… Andini,” ucap Carie ragu, bibirnya bergetar saat menyebut nama calon mertuanya itu.