Carie duduk di kursi penumpang depan dengan tubuh tegak kaku, tapi bibirnya merengut tajam sejak mesin mobil dinyalakan. Atmosfer di dalam kabin mobil itu terasa dingin, sedingin hatinya yang mendadak kesal.
Saat Eric bilang akan mengantarnya pulang, Carie sudah membayangkan momen berdua di dalam mobil—mungkin sedikit penjelasan tambahan, atau setidaknya genggaman tangan yang menenangkan. Tahu-tanyanya, pria itu hanya mengantarnya sampai lobi apartemen. Begitu pintu mobil terbuka di drop-off, Eric justru keluar dan mempersilakan Amanda duduk di kursi kemudi.
Carie tidak tahu—dan Eric terlalu gengsi untuk menunjukkan—bahwa pria itu sebenarnya sedang bertaruh dengan kesadarannya sendiri. Kepalanya masih pening, kondisinya belum pulih benar, ditambah ledakan emosi dan dua tamparan keras dari Carie, membuat Eric merasa lelah dan butuh istirahat lagi. Mengemudi dalam kondisi seperti itu sama saja dengan bunuh diri, dan membahayakan Carie.
Maka, dengan berat hati di dalam, dan dingin diluar, Eric menyerahkan Carie ke dalam perlindungan Amanda. Selain alasan pribadi, Eric cukup cerdas untuk tahu bahwa ada "urusan" yang perlu diselesaikan oleh kedua wanita ini. Meskipun ia sadar, pada akhirnya semua kekacauan ini bermuara pada dirinya, Eric memilih menyingkir untuk masalah ini. Ia percaya urusan perasaan sesama wanita perlu diselesaikan dengan cara mereka sendiri.
“Jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang,” celetuk Amanda memecah keheningan saat mereka mulai keluar dari gerbang apartemen.
Carie hanya mendengus, memalingkan wajah ke arah jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan yang mulai mengabur karena penglihatannya yang belum stabil. “Sejak kapan kamu kenal Eric?” tanyanya kemudian, tak lagi menyembunyikan rasa penasaran yang sedari tadi membakar dadanya.
Aneh memang. Saat mendapati Amanda bercumbu dengan Andrea tempo hari, hingga wanita ini datang untuk meminta maaf tadi, Carie tak merasa benar-benar meledak. Tapi mengetahui Amanda ternyata sudah mengenal Eric sejak lama, benaknya terasa sangat dongkol.
“Sejak Kak Eric kuliah di sini,” jawab Amanda santai.
Kak Eric? pekik Carie dalam hati. Hati kecilnya protes keras mendengar panggilan itu keluar dari mulut Amanda. Terdengar begitu akrab, begitu dekat, seolah mereka memiliki dunia sendiri yang tidak terjamah oleh Carie. Carie benar-benar kesal; selama persahabatan mereka, tak pernah sekalipun ia membenci Amanda, tapi kali ini ada dorongan keras dalam dirinya—yang jika tidak ditahan—mungkin akan membuatnya tega memukul kepala Amanda dengan seikat mawar berduri.
“Kamu utang maaf yang sesungguhnya sama aku. Paham, kan?” tegas Carie dengan nada otoriter yang jarang ia tunjukkan.
Sambil memutar kemudi, Amanda tersenyum tipis. Ia bisa merasakan hawa panas yang menguar dari kursi penumpang. Gemas juga melihat Carie sekesal ini, terlebih ia tahu betul bahwa akar dari kemarahan ini adalah cemburu buta.
“Oke, oke. Gimana cara aku tebus kesalahan aku?” tanya Amanda pasrah namun menggoda.
“Kasih tahu aku semua yang kamu tahu tentang Eric!” jawab Carie cepat.
Sebenarnya pahit untuk diakui, tapi pada dasarnya ia memang tak tahu banyak tentang pria yang ia sukai itu. Fakta bahwa Amanda sudah cukup lama berada di lingkaran Eric berarti wanita ini menyimpan potongan-potongan informasi yang tak ia miliki. Menyebalkan memang, tapi ini adalah kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan untuk mengenal Eric lebih dalam.
Lagi-lagi Amanda tersenyum. Carie benar-benar mudah ditebak. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul, itulah sebabnya tadi di apartemen—saat Carie masih terlelap—ia sempat berdiskusi singkat dengan Eric tentang batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh ia ceritakan kepada Carie.
“Hmm, mulai dari mana dulu, yaa..” goda Amanda sembari mengetuk-ngetuk setir dengan telunjuknya. Saat ia melirik ke samping, Carie sudah memicingkan mata dengan tatapan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Amanda terkekeh pelan, lalu raut wajahnya berubah sedikit lebih serius. “Oke, oke. Aku ceritain dari awal.”
Amanda pun mulai bercerita bahwa saat Eric menempuh pendidikan tinggi di Indonesia, ia menumpang tinggal di rumah keluarga Amanda. Kakak kandung Amanda, Dira, dan Eric berkuliah di kampus yang sama namun berbeda jurusan. Dira adalah calon dokter, sementara Eric justru memilih mengambil jurusan Hukum.
Amanda mengaku ia tak tahu persis kenapa pria yang tumbuh besar di Inggris itu mendadak pulang ke Indonesia hanya untuk mendalami hukum. Seolah ada sebuah misi besar atau alasan mendesak di balik keputusan yang tak lazim itu. Sebenarnya, Amanda sudah tahu alasan aslinya, namun bagian ini adalah sesuatu yang belum bisa ia bagi dengan Carie.
Hubungan Eric dan Dira semakin erat karena mereka sama-sama aktif di Senat Mahasiswa. Di tahun pertama itulah, keluarga Amanda berada di titik nadir. Perusahaan ayah mereka nyaris bangkrut. Namun, Eric tidak tinggal diam. Dengan kecerdasan sistematisnya, ia menghubungi ayahnya di Inggris dan berhasil mengucurkan bantuan finansial besar-besaran. Perusahaan Teknologi Informasi milik ayah Dira pun bangkit, bahkan tumbuh lebih raksasa dari sebelumnya, menjadikan Eric salah satu pemegang saham terbesar di sana.