Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #26

25. Ujung Jari

Tuuut… tuuut…

Carie membaringkan tubuhnya setengah di atas kasur, membiarkan kakinya tetap menjuntai ke lantai dengan ponsel yang menempel erat di telinga. Setelah berhasil meredam kecurigaan Andrea dengan senyum palsu dan kata-kata manis yang licin hingga akhirnya pria itu pulang, ia segera bergegas naik ke lantai atas. Ibunya sudah terlelap—fakta yang memicu keraguan di benak Carie. Jika memang benar Sari mencarinya dengan panik seperti klaim Andrea tadi, mana mungkin ibunya bisa tidur senyenyak itu sebelum ia pulang?

Jelas, di sini bukan hanya Carie yang mulai lihai bersandiwara. Andrea pun tampaknya mulai bermain dusta.

Begitu mengunci pintu kamar, Carie langsung menyalakan ponsel dan membuka blokir nomor Eric tanpa ragu. Ia menekan tombol panggil, jantungnya berdebar menunggu nada sambung itu berubah menjadi suara berat yang ia kenal.

Tuuut… tuuut…

“Halo?” Suara Eric akhirnya terdengar.

Carie refleks menyunggingkan senyum lebar yang tak sanggup ia tahan.

“Halo?” ulang Eric karena tak kunjung mendapat jawaban. “Jadi, udah dibuka blokirnya sekarang?”

“Hehe,” Carie terkekeh mengejek, memanjakan sisi kekanak-kanakannya sejenak.

“Kenapa telepon? Baru juga ketemu, udah rindu?” Eric terdengar bergerak di seberang sana, ia tampaknya sedang berjalan ke kasur dan duduk bersandar di kepala ranjangnya.

“Cih!” cibir Carie, meski rona merah mulai menjalar di pipinya. “Jangan kepedean! Aku cuma mau kasih tahu kalau tadi pas aku pulang, ada Andrea di depan toko.”

“Udah tahu. Kamu nggak perlu lapor-lapor ke aku,” tanggap Eric datar, suaranya kembali dingin seolah itu informasi basi.

Senyum Carie memudar, berganti dengan kerutan di dahi. Eric sudah tahu? Siapa lagi informannya kalau bukan Amanda. Benar-benar menyebalkan mengetahui betapa luas jaring-jaring pengawasan pria ini, dan fakta bahwa mereka benar-benar terus berkomunikasi. Rasa cemburu yang kembali meletup membuatnya ingin menyerang balik.

“Iya, dia tadi bilang kalau akhir minggu ini ada acara kantor, dan dia minta aku temani dia,” paparnya sambil membalikkan badan, kini ia tengkurap di ranjang dengan kedua kaki yang ditekuk ke atas, bergoyang-goyang pelan di udara.

“Oh.” Jawab Eric singkat. Meski terdengar cuek, Carie bisa menangkap perubahan nada suaranya yang sedikit lebih rendah dan berat. Jelas, info spesifik tentang acara kantor itu belum sampai ke telinganya, dan itu berhasil memicu rasa waspadanya. Dan berarti serangan baliknya berhasil. Tapi kemudian ia teringat, bukan ini info utama yang mau buru-buru dia sampaikan.

“Andrea kayaknya curiga tentang kita, dan Andini entah udah doktrin apa ke dia,” terangnya lagi, suaranya sedikit mengecil saat menyebut nama wanita itu.

“Em,” sahut Eric singkat. Lagi-lagi nada yang menunjukkan bahwa ia sudah memprediksi kemungkinan itu.

Carie menghela nafas, menatap telapak tangannya sendiri yang kini tampak jauh lebih tajam dan jernih. Tersadar rentang pengetahuan mereka tentang situasi ini benar-benar jomplang. Setiap kali ia merasa sudah memahami bidak catur di depannya, Eric selalu muncul sebagai pemain yang sudah memikirkan sepuluh langkah ke depan.

“Jadi aku harus gimana? Ikut aja ke acara itu? Kamu juga ada di sana nanti?” tanya Carie, kini kembali berbaring telentang, merasai kenyamanan bantalnya.

Lihat selengkapnya