Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #27

26. Akhir Masa Tenang

Ponsel yang tergeletak di tempat tidurnya bergetar nyaring, memecah kesunyian kamar yang dingin. Eric menoleh, dan seketika senyumnya terukir saat melihat foto yang muncul di layar. Dengan gerakan gesit, ia meraih ponselnya sembari melempar handuk yang melingkar di lehernya ke atas kasur—mengabaikan tetesan air yang masih membasahi rambutnya.

Hello, beautiful!” sapanya dengan nada rayuan yang kental, diiringi senyum paling lebar yang hanya ia simpan untuk satu wanita ini.

“Hei, sopan sedikit sama mamamu!” tegur Tania dari seberang telepon, suaranya dihiasi tawa kecil yang hangat. “Gimana kabar? Kenapa jarang menelepon? Katanya mau telepon sampai Mama bosan!” protes Tania dengan nada merajuk yang khas.

Eric mendudukkan tubuhnya di kasur, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang keras. “Apologize, pretty. Aku sibuk banget di sini. Nggak marah, kan?”

“Tapi kamu masih kontrol, kan? Keadaan kamu... baik-baik aja?” Suara Tania mendadak melunak, berganti dengan kekhawatiran nyata yang tak bisa disembunyikan.

Aneurisma di otak Eric adalah sisa luka yang mengerikan dari kecelakaan mobil maut bersama ayahnya bulan lalu. Meski nyawanya selamat—dan ia langsung tersadar keesokan harinya hanya untuk dihantam kabar bahwa ayahnya telah tiada—luka itu tetap tertinggal di sana, mengintai seperti bom waktu yang perlu segera ditangani. Namun bagi Eric, membalas dendam atas kematian ayahnya jauh lebih mendesak daripada nyawanya sendiri. Ia tahu keputusannya berada di Indonesia akan terus membuat ibunya terjaga di malam hari, tapi ini adalah satu-satunya cara untuk menyeret pelakunya ke balik jeruji besi.

“Mama jangan khawatir,” sahut Eric, sekuat tenaga menahan suaranya agar tak terdengar gemetar di tengah denyutan kepalanya yang mulai terasa. “Mama tahu kan di sini ada Dira? Dia jauh lebih bawel daripada Mama soal obat-obatku.”

Tania menghela nafas berat. Ia tahu betul anak laki-lakinya ini mewarisi sifat keras kepala yang tak bisa digoyahkan. “Terus gimana... kamu sudah bertemu Carissa?”

“Ma,” cetus Eric tiba-tiba, suaranya berubah drastis menjadi lebih cerah. “Kayaknya anakmu ini benar-benar jatuh cinta!” akunya dengan nada tak tahu malu, seolah beban aneurisma di kepalanya menguap begitu saja saat membayangkan wajah Carie.

Sebuah senyum tertahan mengulum di bibir Tania di seberang sana. Namun, mengingat betapa rumit dan berbahayanya labirin yang sedang dimasuki Eric, ia memilih memberikan peringatan logis ketimbang sekadar dukungan emosional. “Jangan buru-buru jatuh cinta, Eric. Kamu tahu kan apa yang kamu lakukan sekarang ini sangat berisiko?”

“Eiiiiiii!” sangkal Eric cepat, bibirnya mengerucut jenaka. “Mana ada buru-buru? Kalau bisa, aku harusnya masuk Guinness World Records untuk kategori menunggu jatuh cinta paling lama, Ma!”

Tania tertawa mendengar bualan anaknya. “Ya sudah. Pesan Mama cuma satu: hati-hati. Jangan terlalu nekat. Jaga kesehatan kamu. Kalau semuanya terasa terlalu berat... berhenti, pulang. Mama selalu tunggu kamu di sini.”

“Iya, cantik!” sahut Eric, tatapannya mendadak menajam saat melihat bayangan dirinya di cermin. “Mama juga jangan ke mana-mana sendiri. Meskipun orang itu ada di sini, sibuk mengawasi aku, kita nggak pernah tahu berapa banyak kaki tangannya yang masih berkeliaran di luar sana.”

“Iya, tenang aja. Mama bisa jaga diri.”

***

Sementara itu, di kasurnya, Carie berbaring terlentang dengan ponsel yang masih menempel erat di telinga. Ia menarik nafas dalam, membiarkan dadanya sesak oleh oksigen sebelum menghembuskannya kembali dengan berat, menciptakan suara hembusan yang menggantung di kesunyian kamar.

Matanya berkedip berkali-kali. Ia menatap langit-langit kamarnya, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari ada retakan halus yang merambat di dekat lampu—seperti jaring laba-laba yang siap meruntuhkan plafon itu kapan saja.

Ia menghembuskan nafas lagi, lebih frustasi dari sebelumnya. Nada sambung di ponselnya masih memberikan jawaban yang sama: sibuk. Sejak tadi nomor Eric tak bisa dihubungi.

"Telponan sama siapa sih sampai selama ini?" gumamnya dengan bibir yang mengerucut tajam.

Lihat selengkapnya