Bola mata Carie hampir melompat keluar, menatap ngeri ke arah dua koper besar yang sudah berjajar rapi di depan pintu toko bunganya. Sejak pagi ia hanya fokus merangkai pesanan, hingga tak sadar bahwa ibunya ternyata sudah mengepak hampir seluruh isi lemari pakaiannya.
“Tinggal di rumah Andrea?” pekik Carie, suaranya melengking karena terkejut.
“Iya, ruko mau direnovasi total. Sementara Ibu tinggal di rumah teman Ibu, kamu tinggal di rumah Andrea,” jelas Sari datar. Ia berdiri dua langkah dari Carie, posisi tubuhnya seolah sengaja menjaga jarak agar tak bersentuhan kulit.
“Mendadak gini?” protes Carie, nafasnya mulai tak beraturan. “Bu, Ibu pasti juga paham kan, ini nggak masuk akal!”
“Gak masuk akal kenapa?”
Suara Andrea tiba-tiba memotong perdebatan itu. Pria itu masuk ke dalam toko dengan penampilan yang jauh lebih santai—kemeja berwarna mint dan baggy jeans—namun aura yang dibawanya terasa begitu mencekam. “Kita kan sebentar lagi tunangan, bisa langsung nikah juga kalau kamu mau. Apa salahnya tinggal sama aku?”
“Andrea!” tegur Carie tajam. “Jangan ngomong nggak masuk akal!”
Andrea tak menggubris teguran itu. Dengan gerakan yang sangat efisien namun penuh otoritas, ia langsung menarik kedua koper Carie dan membawanya keluar, seperti kedatangannya memang untuk melakukan hal itu. Carie tersentak, lalu segera berlari menyusul. Tepat di depan bagasi mobil Andrea, ia menarik paksa gagang kopernya kembali.
“Aku nggak mau! Ini aneh banget!” tegas Carie, matanya menatap Andrea dengan penuh perlawanan.
“Kenapa? Karena kamu maunya sama cowok lain? Eric?” tanya Andrea tajam, matanya menghunus tepat ke bola mata Carie.
Pupil mata Carie langsung melebar seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat. “Kamu ngomong apa sih?” tampiknya cepat di mulut. Namun di dalam hati, ia mulai panik luar biasa. Ia tak menyangka kecurigaan Andrea sudah mencapai titik seberani ini.
“Kalau nggak, ikut aja. Tinggal beberapa hari di rumah aku sampai ruko selesai direnovasi,” tekan Andrea lagi. Suaranya merendah, berusaha terdengar lembut dan persuasif, padahal jelas-jelas ia sedang memaksakan otoritas yang tak bisa dibantah.
Carie tercekat. Ia merasa seperti tikus yang tersudut di lubang gelap. Ia butuh Eric. Ia ingin bertanya apa yang harus dilakukan, tapi tak mungkin menghubungi pria itu di bawah tatapan posesif Andrea. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya memutih saat ia mencoba berpikir cepat di tengah kepungan rasa cemas.
“Sekarang kamu tetap bersikap biasa saja di depan mereka. Biar semua berjalan semestinya. Jangan buat Andini curiga sedikit pun. Serahkan sisanya sama aku,” kata-kata Eric di apartemen waktu itu kembali bergema, menjadi satu-satunya pegangan Carie saat ini.
“Oke,” sahut Carie pada akhirnya, meski suaranya terdengar sedikit bergetar. “Beberapa hari aja,” tegasnya lagi untuk menutupi keraguannya, lalu ia langsung masuk sendiri ke dalam mobil tanpa menunggu Andrea membukakan pintu.
Mendapati Carie tiba-tiba menurut tepat setelah ia menyebut nama Eric, dada Andrea justru terasa seperti diremas kuat. Bukannya merasa menang, ia malah merasa kian hancur. Reaksi Carie yang mendadak patuh justru menjadi konfirmasi pahit baginya. Semuanya makin jelas: Eric adalah nama yang bisa menggerakkan seluruh emosi Carie.
***
“Kaaaaak!” pekik Amanda heboh, suaranya melengking menembus keheningan rumah Eric. Tanpa mengetuk, ia menerobos masuk ke dalam ruang olahraga pribadi pria itu tepat saat matahari sore mulai menyelinap masuk melalui jendela besar, menyiram ruangan dengan cahaya keemasan yang hangat.
Di sudut ruangan yang dipenuhi aroma maskulin dan sisa uap pendingin udara, Eric tengah berada di tengah repetisi latihan yang berat. Ia duduk di atas adjustable bench, kedua lengannya yang kekar sedang mendorong sepasang dumbell hitam seberat 20 kilogram ke atas kepala. Otot-otot dadanya yang bidang berkilau oleh peluh, memantulkan cahaya sore dengan cara yang nyaris tidak manusiawi. Setiap tarikan nafasnya terlihat dalam dan terkontrol, mempertegas setiap inci lekukan otot di perut dan bahunya yang lebar.
“Duh! Maaf!” Amanda refleks menutup matanya dengan telapak tangan. Namun, sedetik kemudian, ia sedikit merenggangkan sela-sela jarinya, sengaja mengintip pemandangan di hadapannya.
Lekukan tubuh Eric yang basah oleh keringat terlihat lebih sempurna dan presisi dibanding pahatan patung David karya Michelangelo yang pernah ia lihat di buku sejarah. Pemandangan langka ini sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.