Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #29

28. Saat Maut Menjemput

Amanda baru benar-benar menyadari bahwa keputusannya untuk "bermain api" dengan mengganggu Andrea beberapa waktu lalu membuahkan hasil yang manis. Andrea, yang biasanya dominan dan penuh perhitungan, mendadak berubah menjadi pria canggung yang serba salah setiap kali berhadapan dengannya. Emosi Andrea yang masih tidak stabil terhadap Amanda menjadi celah keamanan yang sempurna; pria itu hanya bisa berdiri kaku di teras rumahnya, menatap gelisah tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun saat Amanda datang menjemput Carie.

Berkat kepercayaan diri bahwa Andrea tidak akan berani macam-macam, ditambah informasi dari Dira bahwa pihak Andini sama sekali tidak mencurigai keterlibatannya dengan Eric—mengingat betapa rapi mereka menyembunyikan pertemuan selama ini—Amanda memutuskan untuk membawa Carie ke tempat yang paling aman.

Kondisi Carie sangat memprihatinkan. Sepanjang perjalanan dari klinik Dokter Linda, gadis itu terus gemetaran. Tangisnya yang semula pecah perlahan surut menjadi keheningan seribu bahasa yang jauh lebih mengerikan. Carie tampak seperti raga kosong yang jiwanya baru saja dihantam kebenaran yang terlalu berat untuk dipikul.

Begitu sampai di apartemennya, Amanda membukakan pintu dengan gerakan lembut. Ia menuntun Carie melangkah lemah memasuki ruangan yang remang itu.

Di tengah ruangan, Eric sudah berdiri menunggu. Postur tubuhnya yang tegap tampak tegang, matanya langsung terkunci pada sosok Carie yang rapuh. Ada kilat kecemasan yang jarang ia tunjukkan, namun malam ini, dinginnya Eric seolah mencair melihat kondisi gadis itu.

Tanpa perlu diberi tahu, Amanda tahu kehadirannya di sana sudah selesai. Ia menatap Eric sekilas—memberikan kode bahwa ia telah menjalankan tugasnya—lalu pamit undur diri. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Amanda menutup pintu dengan sangat pelan, tidak ia kunci.

Saat Eric melangkah mendekat, seolah seluruh kekuatan yang menopang kaki Carie menguap begitu saja. Dunia di sekitarnya terasa berputar, gravitasi mendadak menariknya dengan kejam. Tubuhnya lunglai, dan lututnya hampir saja menghantam lantai jika saja Eric tidak bergerak secepat kilat.

Kedua tangan Eric yang kokoh menahan bahu Carie, mencegahnya jatuh, namun Carie justru kembali gemetar hebat. Tangisnya yang tadi sempat berhenti kini pecah kembali, berubah menjadi isakan perih yang menyesakkan dada. Suaranya serak, penuh dengan luka yang baru saja menganga lebar.

“Kamu udah tahu?” tanya Carie di sela tangisnya, matanya yang sembab menatap lurus ke dalam manik mata Eric, mencari kejujuran di sana. “Kamu udah tahu kalau aku anak kandung Andini?”

Mendengar pertanyaan itu, seluruh ketegangan di tubuh Eric seolah luruh. Ia merasa lemas, bukan karena fisik, melainkan karena hantaman emosi melihat Carie sudah berhasil menarik paksa salah satu memori paling gelap itu dari lubuk jiwanya. Ia merasa sedih luar biasa melihat Carie hancur seperti ini, namun ada secercah rasa lega karena akhirnya Carie bisa menghadapi masa lalu yang ia lupakan, meskipun kenyataannya terlalu pahit untuk ditelan.

Eric tak menjawab. Kata-kata terasa terlalu dangkal untuk situasi ini. Ia hanya menarik tubuh Carie ke dalam dekapannya, melingkarkan lengannya dengan protektif dan mendekapnya erat-erat. Ia membiarkan gadis itu meluapkan semua kemarahan, kesedihan, dan pengkhianatan yang ia rasakan.

Carie mengangkat wajahnya yang sembab, menjauh sedikit dari dada Eric namun tetap membiarkan pria itu menahan kedua lengannya. Matanya yang merah karena tangis menatap Eric dengan binar tekad yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Isakannya mulai mereda, berganti dengan tarikan nafas pendek yang ia paksa untuk stabil.

“Tolong kasih tahu aku sekarang,” pinta Carie, suaranya parau namun tegas. “Semua yang kamu tahu. Tolong jelasin ke aku, Eric. Jangan ada yang disembunyiin lagi.”

Eric menatapnya dengan raut ragu yang mendalam. Ia bisa melihat betapa rapuhnya Carie saat ini—seperti porselen yang retak dan nyaris hancur—namun di sisi lain, ada tuntutan akan kebenaran yang tak bisa ia bendung. “Kamu yakin?” tanya Eric khawatir. Ia meragu karena tahu bahwa kebenaran yang ia simpan bukan hanya soal identitas, tapi juga tentang darah dan nyawa yang hilang. Informasi yang bertubi-tubi bisa menjadi racun bagi mental Carie.

Carie mengangguk mantap, jari-jarinya yang gemetar mencengkeram lengan Eric seolah sedang mencari kekuatan. “Aku mau paham semuanya. Please, Eric,” ia memohon dengan suara yang nyaris pecah. “Aku capek hidup gak tahu apa-apa”

Setelah menatap mata Carie cukup lama—mencari kepastian di balik kristal bening yang masih menggenang di sana—Eric akhirnya menghela nafas panjang. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot, seolah ia juga melepaskan beban rahasia yang selama ini menghimpitnya.

Ia mengangguk, lalu menuntun Carie perlahan menuju sofa besar di apartemen itu.

“Duduklah,” bisik Eric. Ia mengambil segelas air putih, memberikannya pada Carie sebelum ia sendiri duduk di hadapan gadis itu, menjatuhkan pandangannya pada jari-jarinya sendiri sejenak sebelum memulai.

***


Siapa yang bisa menepis rasa bersalah itu? Rasa bersalah yang merayap seperti racun setiap kali Eric memejamkan mata. Sosok yang selama ini ia anggap sebagai adik kecil yang lucu, tiba-tiba berdiri di hadapannya dengan mata berkaca-kaca, menyatakan cinta dengan segala kepolosan yang naif. Lalu, hanya dalam hitungan menit setelah penolakan itu, jiwa Carissa yang terguncang membawanya ke dalam pusaran maut—kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya dan mengubah hidupnya menjadi yatim piatu.

Namun, di sudut logikanya yang paling dingin, Eric tahu bahwa jika waktu diputar kembali, ia tetap akan mengambil keputusan yang sama.

Lihat selengkapnya