Tanpa banyak bicara, Eric mengemasi satu koper kecil. Ia berangkat sendiri ke Jakarta, membawa detak jantung yang tak keruan sepanjang penerbangan belasan jam.
Satu tempat langsung ia tuju: rumah keluarga Chandra Rafli. Namun, pemandangan yang menyambutnya bagaikan hantaman beton. Rumah megah itu tampak kusam, dan di depan pagarnya berdiri sebuah plang bertuliskan DIJUAL dengan ukuran yang sangat besar. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi kemewahan. Tempat itu sama sekali berbeda dalam ingatan.
Eric melakukan pencarian kecil-kecilan hingga kakinya membawanya ke sebuah sekolah luar biasa untuk disabilitas, tempat Carie mengemban pendidikan. Ia berdiri di seberang jalan, menunggu dengan dada yang sesak sampai sosok itu muncul.
Saat Carissa keluar dari gerbang. Penampilannya jauh berbeda; ia tampak lebih dewasa, lebih sederhana, dan yang paling menyayat hati adalah fakta yang kemudian Eric ketahui, bagaimana Carissa memanggil pembantu lamanya, Sari, dengan sebutan "Ibu". Eric membeku. Segala skenario tentang permintaan maaf yang sudah ia susun di kepala mendadak hancur.
Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya, melangkah mendekat, dan mencegat langkah gadis itu. Ia ingin melihat reaksi Carie, ingin melihat kemarahan, atau setidaknya pengakuan benci yang tumpah di matanya.
“Carissa?” panggilnya lirih.
Carissa berhenti. Ia memiringkan kepalanya sedikit, matanya yang indah namun tampak kosong itu menatap ke arah sumber suara. Ia terdiam sejenak, matanya menyipit sekilas, mencoba mengenali frekuensi suara yang menyapanya.
“Siapa?” tanyanya kemudian..
Nada suaranya datar, ekspresinya murni tanpa kepura-puraan. Tidak ada kebencian yang terpancar, tidak ada trauma yang meluber dari sepasang matanya yang kini terlihat sayu. Ia benar-benar tidak mengingat siapa pria yang berdiri kaku di hadapannya.
Awalnya Eric mengira kegagalan pengenalan itu mungkin disebabkan oleh hambatan penglihatan yang Carie alami pasca kecelakaan—sesuatu yang juga menyayat hatinya saat mendapati hal itu. Namun, begitu Eric menyebutkan namanya dengan suara yang bergetar, “Eric Mananta,” ekspresi Carissa tetap tak bergeming. Ia justru tampak semakin bingung, alisnya bertaut kecil seperti seseorang yang tersesat di dalam labirin otaknya sendiri, mencari-cari sebuah nama yang ternyata sudah dihapus paksa oleh alam bawah sadarnya.
Saat itulah Eric sadar dengan rasa sakit yang menghujam: dia berada di dalam masa lalu itu sendirian. Ia adalah penjaga luka yang ia ciptakan sendiri, sementara Carissa telah melupakan semuanya—seolah-olah Eric, cinta monyetnya, dan tragedi di turunan villa itu memang tak pernah ada sejak awal.
***
Eric kembali ke London dengan membawa luka baru yang jauh lebih perih. Ia menceritakan segalanya kepada Mario tentang apa yang ia saksikan di Jakarta. Tak disangka, ayahnya justru terlihat lebih syok dari dirinya, wajahnya memucat mendengar Carissa memanggil Sari dengan sebutan "Ibu".
“Aku harus menceritakan sesuatu sama kamu,” ucap Mario berat. Ia meminta Eric duduk di sofa ruang kerjanya yang dipenuhi aroma kayu dan buku tua. Mario pikir belum waktunya informasi ini dibagikan kepada anaknya. Namun, berita pengkhianatan identitas yang Eric bawa membuatnya memutuskan untuk memperpanjang tangannya ke putranya sendiri.
Mario bercerita, acara di villa hari itu ternyata jauh lebih krusial daripada sekadar perpisahan keluarga yang hendak pindah ke negeri orang. Didorong oleh obrolan semalaman para ayah tentang masa depan, kekhawatiran akan masa depan, dan rencana perlindungan keluarga, mereka bertiga melakukan sebuah tindakan yang lumayan progresif.
Malam sebelum kejadian, mereka menulis wasiat silang. Wasiat Chandra dititipkan pada Anggoro, Wasiat Anggoro dititipkan pada Mario, dan Wasiat Mario dititipkan pada Chandra. Sebuah taktik agar jika salah satu dari mereka tiada, rahasia harta dan hak waris tetap aman di tangan sahabat yang lain.
Lalu kemudian, Mario mengungkapkan fakta yang membuat dunia Eric serasa berhenti berputar: alasan dirinya tetap memboyong keluarganya berangkat ke Inggris sesuai jadwal awal, meskipun Carissa sedang kritis adalah karena ia percaya penuh bahwa Carissa akan dilindungi oleh Anggoro.
Bagaimanapun juga, mereka bertiga—Mario, Anggoro, dan apalagi Chandra—paham betul rahasia gelap itu: Andini adalah ibu kandung Carissa.
Mario menjelaskan, meskipun tak secara eksplisit. Bahwa Andini dan Chandra adalah sahabat akrab yang berkembang menjadi pasangan kampus yang mesra, namun semuanya berubah ketika Andini tiba-tiba hamil. Ia yang masih muda, tak menginginkan anak, tak mau melepas semua ambisinya untuk menjadi wanita karir yang independen. Pun tak bisa mengugurkan kandungan itu. Dan akhirnya, setelah diskusi panas, atas kesepakatan kedua keluarga, Chandra memutuskan untuk merawat Carissa sendiri. Menjadi ayah sekaligus ibu bagi putrinya itu, sebelum akhirnya ia menikah dengan Alesa, wanita anggun yang mencintai Carissa seperti anaknya sendiri.
Mendengar hal itu, Eric seketika membeku. Pertanyaan pertama yang meledak di kepalanya adalah, “Apakah Carissa tahu? Karena sosok yang sekarang dia panggil ibu justru pembantunya sendiri!”
***