Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #31

30. Pesta Topeng

Carie mencengkram pinggiran wastafel dengan buku-buku jari yang memutih. Tubuhnya melengkung, gemetar hebat saat ia memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam porselen dingin. Makan malam yang tadi ia paksa telan di bawah tatapan Andrea dan basa-basi Andini, kini keluar tak bersisa. Ini bukan sekadar reaksi fisik; ini adalah pemberontakan tubuhnya terhadap segala kebohongan yang ia hirup di rumah ini.

Ia terengah, menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi dengan mata merah dan berair. Ia merasa tersesat dalam labirin yang pondasinya terus bergeser. Tepat saat ia mulai merasa memiliki sosok ibu pada Alesa, ia ditampar kenyataan bahwa darah yang mengalir di nadinya justru berasal dari wanita sekejam Andini.

Dan yang paling menghancurkan adalah potongan teka-teki yang ia dapatkan dari Amanda di dalam lift tadi.


“Ayahnya Kak Eric... udah meninggal dalam kecelakaan mobil, seminggu sebelum Eric datang ke sini,” bisik Amanda saat itu.

Kecelakaan mobil. Kata-kata itu terus berdengung di telinga Carie layaknya kutukan. Meski ia berusaha berpikir logis, sulit untuk menganggap hal itu sebagai kebetulan belaka. Apakah kecelakaan itu terhubung dengan kecelakaan yang merenggut orang tuanya delapan tahun lalu? Carie ingin menampik pikiran gelap itu, namun realita selama ini membuktikan bahwa keyakinannya selalu meleset dari kebenaran yang jauh lebih mengerikan.

“Maaf ya, Rie,” ucap Amanda tiba-tiba di tengah keheningan lift, wajahnya tampak sangat menyesal.

Carie menoleh, sedikit terkejut melihat mendung di wajah sahabatnya. “Kenapa, Kak?”

“Aku kira aman bawa kamu ke apartemenku. Aku terlalu percaya diri, mikir Andrea nggak bakal tahu kamu di sana,” Amanda menunduk, meremas jemarinya sendiri.

Melihat ketulusan itu, Carie merasa sepercik rasa bersalah menghujam dadanya. Ia merutuki kecemburuan butanya beberapa hari terakhir. Kesigapan Amanda menjemputnya, menemaninya terapi, hingga inisiatifnya mempertemukan dia dengan Eric adalah bukti perlindungan yang nyata.

“Nggak apa-apa, Kak. Justru aku yang minta maaf karena udah merepotkan,” jawab Carie tulus, tepat saat pintu lift berdenting terbuka.

“Carie, kamu harus hati-hati, bahkan sama Ibu Sari, kita belum bisa pastikan dia ada di pihak siapa.” Bisik Amanda cepat, sebelum sosok yang tak diharapkannya itu melihat ke arah mereka.

Di sana, di tengah lobi yang terang benderang, sosok yang paling ingin ia hindari berdiri dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Andrea. Akting kagetnya—pura-pura kalau pertemuan mereka tak disengaja—begitu hambar, begitu dipaksakan, hingga Carie ingin membuang muka saat itu juga.

Mengingat fakta bahwa secara teknis mereka adalah ‘saudara’ angkat, perut Carie kembali bergejolak hebat. Rasa mual itu naik hingga ke pangkal tenggorokan, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari tahu segalanya, dan untuk menghancurkan labirin ini, ia harus rela berdiam di dalamnya sedikit lebih lama.

Namun, kenyataan pahit menghantamnya: ia hanyalah pendatang baru yang kurang pengalaman dalam permainan maut ini. Ia harus berhadapan dengan Andrea yang obsesif, Andini yang licin, bahkan harus memasang pagar pembatas terhadap Sari—sosok yang selama ini ia panggil Ibu. Di sisi lain, masih ada secuil keraguan di sudut hatinya terhadap Eric dan Amanda. Situasi ini tak ubahnya sebuah pesta topeng yang mengerikan; Carie dipaksa berdansa tanpa boleh mengungkap siapa dirinya, sembari menatap mata-mata di balik topeng yang ia kenal siapa orangnya, namun tetap pura-pura tak tahu.

Carie membasuh wajahnya dengan air dingin yang menggigit kulit, menatap pantulan dirinya di cermin yang remang. “Kuat, Carie. Dua hari lagi,” bisiknya pada diri sendiri.

Begitu ia melangkah keluar dari kamar mandi, sebuah pekikan tertahan lolos dari bibirnya. Tubuhnya tersentak mundur.

Andrea berdiri di tengah kamar tidurnya yang temaram. Pria itu berdiri mematung seperti bayangan gelap yang entah sejak kapan menyusup masuk.

“Kamu ngapain di sini?” tegur Carie keras, mencoba menutupi debar jantungnya yang menggila.

Lihat selengkapnya