Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #32

31. Ego yang Terluka

Ruang rapat itu terasa begitu panas, namun bukan karena hembusan pendingin ruangan yang kurang berfungsi, melainkan karena tensi yang nyaris mencapai titik didih. Di ujung meja panjang, Andrea duduk dengan punggung kaku, jemarinya terus-menerus mengetuk permukaan meja dengan irama yang gelisah.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya—saat ia masih bisa memakai topeng kepercayaan diri palsu dan berlagak tak terusik—hari ini Andrea tampak berantakan secara mental. Luka dari ucapan Carie semalam rupanya masih menganga lebar, merobek sisa-sisa harga diri yang ia miliki. Sepanjang rapat pemegang saham berlangsung, matanya yang kemerahan terus-menerus melirik tajam ke arah Eric, seolah-olah ingin melubangi kepala pria itu dengan tatapannya.

Ia tidak lagi berusaha menyembunyikan rasa muaknya. Andrea terang-terangan melemparkan sindiran sinis dalam setiap interupsi diskusi, mencoba menyerang kredibilitas Eric di depan para pemegang saham lainnya. Suaranya mengandung getar kebencian yang amat dalam, sebuah keputusasaan dari seorang pria yang merasa posisinya mulai terancam.

Sebaliknya, Eric tetap menjadi Eric.

Ia duduk dengan pose santai namun berwibawa, menyandarkan punggungnya dengan tangan yang tertaut tenang di atas meja. Wajahnya sedingin es, tanpa ekspresi, seolah-olah semua serangan verbal Andrea hanyalah dengungan lalat yang tidak berarti. Eric berlagak tak sadar kalau "sepupu jauhnya" itu sedang mengibarkan bendera perang secara terbuka. Sesekali ia hanya membalik halaman dokumen di depannya, lalu memberikan tanggapan singkat dan teknis yang justru membuat Andrea terlihat semakin emosional dan amatir.

“Gue masih nggak nyangka, kalau sekelas diri lu pengen milikin punya orang lain!” cemooh Andrea begitu pintu ruangan tertutup, menyisakan mereka berdua dalam keheningan yang menyesakkan. Keduanya seolah memiliki kesepakatan tak tertulis bahwa ada perhitungan yang harus diselesaikan sekarang juga.

Eric menyunggingkan senyum setengah—sebuah lengkungan bibir yang lebih mirip ejekan daripada keramahan. “Sejak kapan Carie jadi milik lu? Lagipula dia bukan barang yang bisa diklaim sama siapa pun. Dia berhak atas dirinya sendiri.”

Kata-kata itu menghantam tepat di ulu hati Andrea, tepat pada luka menganga yang dibuat Carie semalam. Andrea merasa sesak, namun ia menolak untuk mundur. “Jadi sekarang lu mau terang-terangan rebut Carie? Lu bener-bener suka sama dia?” serangnya langsung, menanggalkan semua basa-basi.

Tangan Eric bersedekap, menyandarkan punggungnya dengan santai seolah sedang mendengarkan ocehan anak kecil. “Lu segitu yakinnya Carie ada di tangan lu sampai mikir kalau gue harus 'rebut' dia?” Eric menjeda, matanya berkilat tajam. “Lagipula gue suka atau nggak, nggak ada hubungannya sama lu. Soalnya faktanya... Carie yang suka sama gue.”

Brak!

Andrea mengepal kencang dan memukul permukaan meja itu hingga suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan. “Lu pikir pantes lu ngomong kayak gitu tentang calon tunangan saudara lu sendiri? Di mana moral lu, Ric?”

“Lu yakin kalau kita saudara?” balas Eric telak. Suaranya rendah, namun efeknya seperti dentuman bom.

Ketegangan di wajah Andrea seketika luruh, berganti dengan guratan kaget yang tak bisa disembunyikan. Matanya membelalak, nafasnya tertahan. “Sebanyak apa... sebanyak apa lu tahu?”

“Lebih banyak dari yang lu tahu.” Eric bangkit dari kursinya dengan gerakan elegan. Ia enggan membuang energi lebih lama untuk beradu mulut dengan Andrea yang kondisi mentalnya terlihat jelas sedang berada di ambang kehancuran.

“Lu pikir lu sudah tahu semuanya?” Eric melemparkan pertanyaan retoris itu sambil berjalan tenang menuju pintu. Langkahnya mantap, tanpa keraguan sedikitpun. “Lebih baik lu cari tahu dulu yang bener, sebelum bertingkah seakan-akan lu peduli sama Carie. Beberapa hari ini gue gak akan ke kantor. Biar lu gak darah tinggi karena lihat muka gue.”

Eric melangkah keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang dingin, meninggalkan Andrea yang duduk gemetar. Pria itu mencengkeram tepi meja, nafasnya memburu sementara amarah dan ketakutan berperang di dalam dadanya. Ia merasa dunia yang selama ini ia bangun dengan bantuan Andini mulai retak tepat di bawah kakinya. Fakta bahwa Eric nampaknya sudah tahu sejak lama kalau dia hanya anak angkat, benar-benar melukai egonya lebih dalam.

***

Lihat selengkapnya