“Eric!!!!”
Seruan itu memecah ketenangan ruang klinik Linda, disusul oleh derap langkah terburu-buru yang langsung berubah menjadi lari kecil. Belum sempat Eric menanggapi, Carie sudah menghambur, menubruk tubuhnya dengan kekuatan yang lahir dari kerinduan yang memuncak.
Carie melompat, melingkarkan kedua lengannya erat-erat pada leher Eric dan mengangkat kakinya, langsung mengunci tubuh bawah Eric, bergelantungan sepenuhnya pada tubuh pria itu.
Eric tersentak ke belakang, langkahnya terhuyung sesaat karena serangan mendadak itu. Namun, secara refleks, kedua tangannya langsung bergerak mengunci pinggang Carie, menopang berat tubuh gadis itu dengan kokoh. Ia membiarkan nafasnya tertahan sejenak, merasakan debar jantung Carie yang menggila di dadanya—sebuah ritme yang sinkron dengan miliknya sendiri. Carie langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Eric, menghirup aroma yang langsung bisa menghapus ingatan tentang rumput dan tanah basah yang muncul dari mimpinya.
Eric tidak melepaskannya. Ia justru membiarkan Carie terus bergelantungan di tubuhnya, memejamkan mata erat sembari membenamkan wajahnya di rambut Carie.
Di belakang mereka, Linda dan Amanda saling melempar tatap. Seulas senyum penuh arti terukir di wajah keduanya sebelum mereka bergumam kompak, “Ups!” Tanpa perlu dikomando, mereka mundur teratur dan menutup pintu dengan suara klik yang sangat pelan. Mereka membiarkan dua jiwa dimabuk asmara itu terisolasi dalam ruang mereka sendiri.
Perlahan, Carie mengangkat wajahnya. Kedua tangannya berpindah dari leher Eric ke rahang tegas pria itu. Ia menatap Eric lekat-lekat, memaku pandangannya pada setiap lekuk wajah yang selama ini hanya bisa ia bayangkan atau ia lihat dengan samar. Penglihatannya kini nyaris sempurna; hanya tersisa sedikit bayang yang nyaris tak terasa, kabut yang selama ini menutupi dunianya hampir tersapu bersih.
Jari-jarinya mulai bergerak, meraba permukaan kulit Eric dengan sentuhan yang sangat hati-hati. Ia menelusuri garis mata dan lekukan hidung Eric bak seorang kurator yang sedang menaksir nilai karya seni yang terlalu berharga. Eric perlahan membuka matanya, membalas tatapan itu dengan binar yang tak kalah dalam. Jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter—begitu dekat hingga nafas mereka saling berbaur.
Tangan Carie kembali diam di rahang Eric, namun kali ini tubuhnya condong ke depan dengan gerakan yang lebih impulsif. Ia mendaratkan kecupan-kecupan singkat yang penuh kerinduan di pipi Eric, hidungnya, kelopak matanya, hingga ke dahi.
Tepat saat Eric menyunggingkan senyum geli melihat tingkahnya, Carie mengunci sasarannya. Ia mendaratkan bibirnya tepat di bibir Eric.
Carie sempat menarik wajahnya sedikit lebih jauh, hanya untuk memancing reaksi dan memandang ekspresi pria itu. Namun, Eric tak membiarkan jarak itu bertahan lama. Persis seperti yang Carie duga, Eric justru makin mengeratkan dekapan di pinggangnya, menarik tubuh Carie hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Eric membalas tautan itu, menyesap bibir Carie dengan ritme yang tenang namun posesif.
Penyatuan itu tidak berhenti di sana. Eric seolah enggan memutuskan tautan yang telah meluluhkan seluruh dinding pertahanannya selama bertahun-tahun ia jaga. Agar tak jatuh cinta pada Carie yang ia pernah tolak dan anggap sebagai adik. Pun anak kandung dari wanita yang ingin dia hancurkan hidupnya. Sambil tetap mengulum bibir Carie dengan ritme yang dalam dan menuntut, Eric mulai melangkah mundur. Ia bergerak dengan insting yang presisi, menavigasi ruang sempit di klinik itu tanpa sekalipun melonggarkan dekapan posesif di pinggang Carie.
Carie, yang masih menggantungkan seluruh berat tubuhnya, merasakan otot-otot lengan Eric mengeras di bawah jemarinya, menopangnya dengan kekuatan yang kokoh. Ia membiarkan dirinya dibawa dalam tarian lambat yang memabukkan itu. Jemari Carie meremas rambut di tengkuk Eric, merasakan helai-helai halusnya bergesekan dengan kulit telapak tangannya, menarik pria itu lebih dalam seolah ingin melumat habis semua memori pahit di rumah Andrea melalui kehangatan ini.
Langkah Eric akhirnya terhenti ketika bagian belakang lututnya menyentuh pinggiran sofa kulit yang dingin. Perlahan, ia memutar tubuhnya, menjaga keseimbangan agar Carie tetap merasa aman dalam dekapannya.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Eric mulai menurunkan tubuh Carie. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengikuti gerak jatuh Carie hingga punggung gadis itu menyentuh busa sofa yang empuk. Eric tak langsung menjauh; ia mengunci posisi Carie dengan menumpu berat tubuhnya pada kedua lengan yang diletakkan di sisi kepala gadis itu. Bibir mereka masih saling memburu, menciptakan simfoni nafas yang tak beraturan di udara yang mendadak terasa panas.