Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #34

33. Fakta dan Luka

Linda membimbing Carie untuk berbaring kembali di sofa, memastikan posisi tubuh gadis itu benar-benar rileks. Suasana klinik yang tadinya penuh canda mendadak berubah menjadi hening yang sakral. Linda mulai menghitung mundur dengan suara yang rendah dan berirama, sebuah frekuensi yang dirancang khusus untuk menuntun kesadaran Carie memasuki gerbang masa lalunya.

Di seberang mereka, Eric dan Amanda duduk terpaku. Amanda meremas jemarinya sendiri, sementara Eric duduk dengan punggung tegak, matanya tak lepas dari wajah Carie. Ia tampak seperti seorang penjaga yang siap menerjang jika sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu di dalam alam bawah sadarnya.

"Sekarang, Carie... biarkan tubuhmu terasa sangat ringan," bisik Linda lembut. "Bayangkan kamu sedang berjalan di sebuah lorong waktu. Di ujung sana ada sebuah pintu. Bukalah... dan katakan padaku, di mana kamu berada sekarang?"

Nafas Carie mulai memberat. Kelopak matanya bergetar hebat di bawah kesadaran yang mulai bergeser. "Di parkiran..." bisiknya lirih. "Bau mobil... dingin. Aku... aku di balik mobil."

"Bagus," puji Linda tenang. "Apa yang kamu lakukan di sana?"

"Aku habis dari taman. Aku pegang kalung..." Carie mengerutkan kening, rahangnya mengetat. "Aku lihat ada orang. Di bawah mobil Papa. Ada orang."

Eric mencondongkan tubuhnya ke depan, nafasnya tertahan di kerongkongan. Inilah saatnya.

"Siapa orang itu, Carie? Bisa kamu dekati?" tanya Linda.

"Aku sembunyi. Aku takut," suara Carie mulai bergetar, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Dia keluar... dia merayap dari bawah mobil. Punggungnya kotor, bau tanah dan rumput. Dia berdiri."

"Lihat wajahnya, Carie. Jangan takut, aku di sini. Lihat wajah pria itu." Linda membimbing.

Tubuh Carie menyentak kecil di atas sofa, seolah-olah fisiknya sedang ditarik paksa kembali ke sore yang mencekam itu. "Dia... dia lihat aku. Matanya... matanya sipit, ada bekas luka di dekat alis kirinya." Nafas Carie mulai memburu, pendek dan tersengal. Tangannya mencengkeram kain sofa dengan sangat kuat. "Dia pegang pisau. Dia jalan ke arah aku!"

Wajah Eric memucat pasi. Bekas luka di alis kiri. Deskripsi itu menghujam jantungnya seperti belati. Ingatannya terseret pada sosok yang dulu terlihat di sekitar Andini, seorang tangan kanan yang tak pernah banyak bicara namun selalu menatap tajam. Kepingan puzzle yang hilang selama delapan tahun itu jatuh tepat di tempatnya, memperjelas siluet pembunuh yang selama ini bersembunyi di balik kabut trauma Carie.

"Apa yang terjadi selanjutnya, Carie? Jangan lari, tetap di sana," Linda menginstruksikan dengan nada yang stabil, berusaha menjadi jangkar bagi kesadaran Carie yang sedang terombang-ambing dalam teror masa lalunya.

"Dia... dia nggak jadi tangkap aku. Dia mendekat. Dia... dia membentak... menodongkan pisau, suruh aku tutup mata aku. Dia bilang, aku nggak lihat apa-apa. Dan aku harus lupain semuanya. Akh!" Carie memekik ketakutan, tubuhnya gemetar hebat. "Dia... dia lihat kami."

"Siapa? Kamu dan siapa?" tuntun Linda, suaranya tetap tenang meski ketegangan di ruangan itu sudah mencapai puncaknya.

"Kak Eric... Kak Eric muncul di balkon lantai tiga. Pria itu langsung pergi, masuk ke villa."

Keheningan di ruangan itu terasa pecah seketika, menyisakan kekosongan yang menyesakkan. Eric mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih dan gemetar. Amanda di sampingnya menutup mulut dengan kedua tangan, tak kuasa membayangkan seorang anak kecil ditodong pisau sementara satu-satunya penyelamatnya bahkan tidak sadar sedang menjadi pahlawan.

“Dia pergi?” Linda mengonfirmasi.

Carie mengangguk perlahan dalam kondisi setengah sadar, air mata mulai mengalir di sudut matanya yang terpejam. “Dia pergi... aku... aku bilang terima kasih ke Kak Eric. Tapi dia nggak dengar.”

Mata Eric terpejam lekat, merasakan denyut nyeri yang hebat di dadanya. Rupanya saat itu, dalam kepolosan dan ketakutannya, Carie mengucap terima kasih padanya karena merasa sudah diselamatkan. Fakta ini justru menjadi racun yang menyakitkan bagi Eric. Jika saja hari itu ia tidak meninggalkan Carie sendirian di taman untuk mengejar urusannya sendiri, mungkin sabotase itu tak akan pernah selesai. Mungkin orang tua Carie masih hidup. Mungkin keluarga sendiri masih utuh.

Lihat selengkapnya