Sari berdiri mematung di ambang pintu toko bunga miliknya, matanya seolah terkunci pada pemandangan di depannya. Ia menatap lurus ke arah tangan Carie yang berada erat dalam genggaman Eric. Ekspresinya adalah campuran antara terkejut, bingung, sekaligus takjub yang sulit untuk disembunyikan, meski nampaknya ia sudah susah payah berusaha bersikap biasa saja.
Bagaimana tidak? Sari adalah saksi bisu kejadian delapan tahun lalu. Ia masih ingat betul momen saat Carie—yang masih anak-anak—dengan polosnya menyatakan cinta pada Eric yang saat itu sudah merupakan remaja tanggung. Adegan penolakan yang sentimental itu tersimpan rapi dalam memorinya, dan ia yakin tak ada orang lain yang menyaksikannya selain dirinya.
Ingatan Sari berputar ke malam sebelumnya, saat Andrea mengantar Carie pulang. Sari, yang sebenarnya tersiksa karena rasa bersalah telah membohongi Carie soal alasan renovasi ruko demi menuruti tekanan mendadak dari Andini, hanya bisa memeluk anak angkatnya itu dengan haru sekaligus pilu. Kondisi Carie malam itu teramat mengenaskan; matanya cekung, kulitnya kering, dan sorot matanya redup seperti mayat hidup.
Sari memilih bungkam saat itu. Ia terlalu takut untuk bertanya pada Andrea, dan terlalu merasa berdosa karena telah "melepaskan" Carie ke tangan pria yang baru saja mengkhianati Carie demi wanita lain itu. Ia hanya bisa membantu merapikan baju-baju Carie ke lemari, sementara gadis itu terbaring lemas, tidur dalam kamar yang sengaja dibiarkan menyala terang setelah bertelepon dengan Amanda—yang padahal masih segar dalam ingatannya, adalah wanita yang berselingkuh dengan Andrea.
Tadi pagi, saat melihat Carie sarapan dengan lahap dan mengenakan kemeja merah muda yang cerah, Sari merasa bebannya sedikit terangkat. Ia melihat Carie berlari kecil menyambangi Amanda yang menjemputnya di depan toko. Sari tak bertanya; ia cukup bersyukur melihat Carissa bisa kembali tersenyum seindah itu. Meski pada kenyataannya logikanya sulit untuk mencoba memahami keadaan yang membingungkan ini.
Namun, pemandangan sekarang benar-benar di luar prediksinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa begini? Pertanyaan itu berputar bising dalam otaknya, terpancar jelas dari sorot matanya yang tak berkedip.
Eric menyadari kegelisahan Sari. Ia menatap Carissa sejenak, memberikan senyum tipis yang menenangkan sebelum perlahan melepas genggaman tangannya. “Kamu masuk dulu, aku mau ngobrol sama Bu Sari,” ucap Eric dengan nada yang sangat lembut.
Carie mengangguk patuh, sebuah gestur yang membuat Sari makin tak paham. Di mata Sari, Carie seharusnya membenci Eric sebesar dirinya, sampai membuat anaknya itu bersedia menerima pinangan Andrea. Namun, kepatuhan dan binar di mata Carie saat ini mengatakan hal yang sebaliknya.
Carie melangkah masuk ke dalam toko, meninggalkan dua orang itu di luar. Keheningan sempat menggantung, hanya menyisakan aroma bunga layu yang masih cukup tajam dan suara bising kendaraan yang lewat di depan ruko.
Melalui jendela yang ada di sampingnya, Carie tak melepas pandangannya dari Eric. Ia menyaksikan pria itu meminta Sari untuk duduk bersebelahan di kursi kayu tempat biasa dirinya menata bunga. Sari terlihat enggan; tubuhnya kaku, wajahnya tegang, dan dahinya berkerut kencang, sepertinya sedang bersiap menghadapi serangan verbal.
Carie tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Jarak dan kaca jendela meredam suara Eric yang nampaknya bicara dengan nada teramat rendah dan lembut—sebuah pemandangan langka yang membuat Carie merasa rugi karena tak bisa mendengar langsung bagaimana pria sedingin Eric merayu logika ibu angkatnya.
Dari balik kaca, Carie menyaksikan perubahan emosi yang drastis di wajah ibunya. Ekspresi Sari yang semula kesal perlahan memudar, berubah menjadi bingung, lalu berganti dengan keterkejutan yang nyata. Puncak ketegangan itu pecah saat Sari tiba-tiba menangis tersedu-sedu, menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
Beberapa saat kemudian, Sari menoleh ke arah jendela, menatap ke arah Carie dengan tatapan yang sulit dipastikan—antara haru, pilu, atau penyesalan yang mendalam. Penglihatan Carie memang belum cukup tajam untuk menangkap detail raut wajah pada jarak beberapa meter, namun ia melihat dengan jelas saat Eric akhirnya menatap ke arahnya. Pria itu mengangkat tangan, memberikan isyarat agar ia keluar bergabung.
Carie berdiri, membuka pintu perlahan, dan berjalan mendekat dengan langkah ragu. Namun, seakan tak sanggup menunggu sedetik pun lagi, Sari langsung berlari ke arahnya. Ia menabrak tubuh Carie, memeluknya dengan sangat erat disertai tangisan yang makin menjadi-jadi.
“Maaf Carie, maaf nak... Ibu selama ini nggak tahu. Ibu benar-benar nggak tahu,” ratap Sari di sela isakannya, suaranya parau oleh rasa bersalah yang meledak.
Tak bisa langsung merespons karena rasa bingung yang menghantam, Carie melemparkan tatapan penuh tanya ke arah Eric di atas bahu ibunya. Eric bangkit dari kursi, berdiri dengan tenang. Ia menatap Carie dengan pandangan teduh, memberikan anggukan pelan disertai senyum tipis yang seolah berkata: sudah dipastikan, dia di pihak kita, dan aku sudah ceritakan semuanya.
Carie akhirnya mengulurkan tangannya, melingkarkannya erat untuk membalas pelukan Sari. Sebuah pelukan hangat yang sudah ia rindukan sejak lama, jenis dekapan yang selama ini terasa sedikit kaku karena sekat-sekat kecurigaan. Kini, hatinya merasa lega luar biasa. Beban di pundaknya luruh satu per satu; ia tak perlu lagi bersikap waspada di depan Sari, atau mencurigai ibu angkat yang telah membesarkannya dengan kasih sayang berlimpah itu sebagai bagian dari komplotan Andini yang keji.
“Kalau gitu, aku pulang dulu,” ucap Eric memecah suasana haru itu.
Sari segera melepaskan pelukannya, menyeka air mata di pipinya dengan cepat, lalu menoleh ke arah laki-laki yang selama delapan tahun ini ia salah pahami. Rasa hormat kini menggantikan kebencian di matanya. “Ibu antar ke depan,” ucap Sari tulus.