“Jalan-jalan?” tanya Carie dengan kepala miring, mencoba mempertahankan raut wajah datarnya.
Sebenarnya, hatinya ingin sekali meledak karena kesal. Selama seminggu terakhir, Eric seolah ditelan bumi; jarang memberi kabar, apa lagi menampakkan batang hidungnya. Tapi tiba-tiba, di Hari Rabu yang terik ini, pria itu muncul di depan toko dengan penampilan yang benar-benar di luar dugaan.
Eric mengenakan baju mirip jersey pemain baseball berwarna hitam dengan garis-garis biru, dipadukan dengan celana cargo putih selutut. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini dibiarkan sedikit berantakan tertiup angin. Ini adalah penampilan paling santai—dan paling tampan menurut Carie—yang pernah ia saksikan. Dan pria itu dengan santainya mengajak jalan-jalan, seolah tidak punya hutang penjelasan.
“Aku ada pesanan bunga lumayan banyak,” alasan Carie. Ia mencoba jual mahal, ingin membalas rasa cuek Eric dengan menunjukkan betapa sibuknya dia sekarang.
Tiba-tiba, Sari muncul dari balik rimbunnya kelopak mawar di belakang toko. “Udah pergi aja! Cuma tiga buket bunga, sebentar juga selesai sama Ibu!”
“Ibu!” tegur Carie refleks. Rencananya untuk terlihat sangat dibutuhkan di toko bunga hancur seketika oleh kejujuran ibunya sendiri.
Eric tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung tersenyum lebar, jemarinya yang hangat memegang bahu Carie, menarik gadis itu mundur sedikit sebelum merangkulnya dengan posesif. “Kita pergi dulu ya, Bu!” pamit Eric dengan nada riang.
“Tapi—” Carie mencoba menahan kakinya agar tidak terseret mengikuti langkah lebar Eric.
“Jangan cemberut mulu dong! Cantiknya hilang nanti!” goda Eric. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu dengan gerakan cepat, jarinya mencolek dagu Carie—persis seperti cara Carie menggodanya di klinik Linda waktu itu.
Pertahanan Carie seketika runtuh. Wajah dingin yang ia buat-buat mencair begitu saja. Ia tak bisa menahan tawa melihat bagaimana Eric membalikkan kata-katanya sendiri untuk menyerang balik. “Dasar gila!” gerutunya, meski sepasang matanya kini menatap Eric dengan binar cinta yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Akhirnya, dengan langkah yang kini terasa ringan, Carie membiarkan dirinya dibawa keluar toko dalam rangkulan Eric, meninggalkan aroma bunga dan tawa Sari di belakang mereka.
***
Carie langsung menyentak pintu mobil hingga terbuka, bahkan sebelum mesin benar-benar mati sempurna. Ia menghambur keluar, menjauh beberapa langkah lalu jatuh berjongkok dengan nafas tersengal dan batuk yang menyesakkan dada. Perutnya melilit hebat. Dari semua tempat yang ia bayangkan akan dikunjungi bersama Eric, ia tak pernah menyangka akan dibawa kembali ke titik nol ini: villa keluarganya, tempat di mana seluruh dunianya hancur berkeping-keping delapan tahun silam.
Eric dengan sigap menyusul, berlutut di sampingnya dengan raut cemas. Telapak tangannya yang hangat mendarat di punggung Carie, menepuk-nepuk lembut berusaha meredakan rasa mual yang tampak ingin melonjak keluar.
Sepanjang perjalanan tadi, batin Carie dihantam badai nostalgia yang menyakitkan. Awalnya hanya rasa familier yang samar saat melewati deretan pohon pinus, namun perlahan, memori itu mengkristal menjadi detail yang menyesakkan. Aroma lembut parfum bunga lili milik ibunya, Alesa, seolah tercium kembali di udara. Bayangan boneka beruang kumal yang selalu didekapnya di kursi belakang, hingga gema tawa sang ayah yang menggelegar saat mereka bernyanyi sumbang mengikuti lagu lawas di radio—semuanya menyerbu masuk, mengisi setiap sudut dadanya hingga ia merasa sesak napas.
"Kamu mau pulang aja?" bisik Eric pelan, matanya menatap Carie dalam-dalam, mencari setitik tanda jika gadis itu tak sanggup bertahan di sana.
Carie menyeka air mata yang merembes di sudut matanya—bukan karena sedih, melainkan akibat batuk dan rasa mual yang menguras energinya. Ia menggeleng cepat, lalu jemarinya mencengkram lengan Eric, isyarat bisu memohon tumpuan.