Suasana makan malam yang semula hangat dengan hidangan yang disiapkan khusus oleh Eric mendadak berubah tegang. Di bawah temaram cahaya lilin, Eric tiba-tiba berhenti mengunyah. Gerakannya terkunci, dan matanya yang tajam berkilat waspada menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke area samping villa.
"Carie, berdiri di belakang aku," pinta Eric. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun mengandung ketegasan.
Carie, yang seketika disergap rasa takut, langsung bangkit dan berlindung di balik punggung lebar Eric. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Eric meraih pisau steak dari atas meja, menggenggamnya dengan mantap seolah benda itu adalah perpanjangan dari tangannya sendiri.
Begitu mereka membuka pintu samping, Eric bergerak secepat kilat. Ia tidak ragu menerjang kegelapan. Di bawah bayang-bayang pohon pinus, sesosok pria berpakaian hitam mencoba melarikan diri, namun Eric jauh lebih tangkas.
Dengan satu lompatan, Eric berhasil menyergap pria itu dari belakang. Terjadi pergulatan singkat yang menunjukkan dominasi fisik Eric; ia memutar tubuh lawan, melakukan sapuan kaki yang membuat pria itu terjatuh ke tanah, dan dalam hitungan detik, Eric sudah mengunci pergerakannya. Ia menekan punggung pria itu dengan lututnya, sementara kedua tangan sang penyusup ditarik ke belakang dan dikunci dengan satu tangan Eric yang kuat. Pisau steak di tangannya yang lain tertancap di tanah, hanya beberapa inci dari wajah pria itu sebagai peringatan.
Carie memekik ketakutan, menutup mulutnya sambil gemetar.
"Siapa kamu?" geram Eric, suaranya terdengar seperti raungan singa yang terganggu.
Pria itu merintih kesakitan, suaranya terdengar gemetar dan pecah. "Maaf! Maaf, Mas! Saya cuma penasaran... saya tinggal di bawah. Villa ini biasanya gelap dan sepi, tapi malam ini terang banget. Saya cuma mau tahu siapa yang ada di dalam!"
Eric mengernyit, merasakan tubuh di bawah kunciannya tidak memberikan perlawanan yang berarti. Ia mencengkram kerah baju pria itu dan mengangkat badannya agar terkena cahaya lampu teras. Begitu wajahnya terlihat, Eric tertegun. Di hadapannya bukan Toto, bukan pula pembunuh bayaran yang nampak profesional, melainkan hanya seorang anak remaja dengan wajah polos yang kini pucat pasi dan bermandikan air mata.
Eric perlahan melonggarkan kunciannya dan melepaskan remaja itu. Begitu merasa bebas, anak itu tidak menunggu sedetik pun; ia langsung bangkit dan berlari terbirit-birit menembus semak-semak, menghilang di kegelapan malam.
Eric menghela napas panjang, mengambil kembali pisaunya yang sempat tertancap di tanah. Ia berbalik menatap Carie yang masih terpaku dengan wajah pucat, lalu melangkah lebar untuk mendekapnya erat. "Maaf... aku terlalu waspada," bisiknya di sela deru napas yang perlahan mulai stabil.
Meski tubuhnya masih gemetar hebat akibat sisa ketakutan, Carie merasa teramat aman dalam dekapan kokoh itu. Aroma tubuh Eric dan detak jantungnya yang berdegup kencang di balik bajunya memberikan rasa tenang yang instan. Carie mengangguk kecil, memaklumi kesiagaan Eric yang berlebihan; ia tahu bahwa bagi Eric, satu detik kelengahan adalah risiko yang tak ingin ia ambil lagi.
“Kita pulang aja? Udah malam juga. Kita gak minta izin menginap sama Bu Sari,” Eric mengelus kepala Carie lembut, merapikan anak rambut yang berantakan terkena angin malam. Sorot matanya kembali melunak, jauh berbeda dengan kilat tajam saat ia menyergap remaja tadi.
Carie lagi-lagi hanya mengangguk, tenaganya seolah terkuras habis oleh emosi yang naik-turun. Sambil tetap memegangi pinggang Eric, ia mengikuti langkah Eric masuk kembali ke dalam villa untuk membersihkan sisa makan malam mereka.
***