Menyingkirkan segala prasangka buruk yang tersisa, Andrea memaksakan langkahnya memasuki kediaman Eric. Namun, bukan sosok Eric yang menyambutnya, melainkan Dira—pria asing yang memancarkan aura ketegangan. Andrea nyaris memutar balik, enggan berurusan dengan orang yang tak dikenalnya, jika saja bukan karena sosok Amanda yang berdiri di samping Dira, memberikan rasa terkejut yang menahan langkahnya.
Ia akhirnya setuju untuk duduk, meski atmosfer di ruang tamu itu terasa begitu berat dan menghakimi. Andrea awalnya bersikeras hanya ingin bicara dengan Eric, namun sebuah pengakuan mendadak dari Dira menghantamnya seperti godam.
"Eric ada di rumah sakit sekarang," desis Dira tajam. "Dia diserang Toto semalam."
Dira sengaja melempar informasi itu dengan nada penuh amarah, membiarkan setiap kata menusuk nurani Andrea. Ia ingin pria di hadapannya ini sadar sepenuhnya betapa bejat perbuatan orang tuanya—bagaimana ayah kandungnya sendiri telah menjadi algojo yang nyaris merenggut nyawa sahabatnya sendiri atas suruhan ibu angkatnya. Pengungkapan itu membuat dunia Andrea seolah runtuh seketika; ia kini terjepit di antara darah yang mengalir di nadinya dan kebenaran yang mulai menuntut pertanggungjawaban.
Sekarang semuanya masuk akal bagi Andrea; pertanyaan Eric saat ini rupanya bertujuan untuk menyibak tabir ketidaktahuannya yang ternyata menyimpan kenyataan menyeramkan.
“Kasih tahu apa yang terjadi, dan apa yang bisa gue bantu,” ucap Andrea dengan nada tegas. Ini bukan sekadar keputusan impulsif, melainkan akumulasi dari rasa penasaran yang memuncak, keputusasaan yang menghimpit, dan keinginan kuat untuk lepas dari belenggu kontrol ibunya. Ia menolak untuk terus berdiam diri, apalagi tetap bertingkah bodoh dan foya-foya sebagaimana yang diperintahkan Andini. Kali ini, ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, mengambil keputusan secara mandiri, dan yang terpenting, menjaga hati nuraninya tetap hidup. Meskipun itu berarti menggadaikan identitas dirinya.
“Lu yakin?” tekan Dira, tatapannya mengunci manik mata Andrea. “Begitu lu tahu semua, gak ada lagi kesempatan buat kembali,” ia memperingatkan dengan nada yang tidak main-main.
Andrea hanya mengangguk pelan namun mantap. Tekadnya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
Dira terdiam sejenak, menimbang-nimbang risiko dari langkah yang akan ia ambil. Ia tahu benar, jika Eric ada di ruangan ini, sahabatnya itu pasti akan melarang keras melibatkan Andrea demi melindungi pria ini. Namun, Eric kini terbaring tak berdaya setelah menjalani operasi besar berjam-jam untuk menangani trauma lama dan baru di kepalanya. Lagipula sejak dulu bagi Dira, Andrea adalah kunci tersembunyi; sebuah pion berharga yang jika berada di pihak mereka, akan membuat seluruh perjuangan selama ini menjadi lengkap dan tidak sia-sia.
“Oke kalau gitu, siapin mental lu. Ini bakal rumit,” pungkas Dira sebelum mulai membuka kotak pandora kejahatan Andini.
***
Setelah semua dinding penghalang runtuh dan rahasia kelam itu terpapar sepenuhnya, Andrea seolah kehilangan tumpuan. Dira telah beranjak pergi menuju rumah sakit untuk bergantian menjaga Eric dari Linda, sembari menyambut kedatangan Tania, ibu Eric yang baru saja mendarat dari London.
Kini tinggal Andrea yang terduduk lesu di sofa. Kepalanya bersandar lemah, matanya menerawang menatap langit-langit sementara nafasnya terasa berat, berusaha mengurai benang kusut di dalam otaknya. Penjelasan panjang lebar dari Dira tadi adalah sebuah jalan satu arah; benar kata pria itu, tidak ada jalan untuk kembali. Pilihannya kini hitam putih: menjebloskan orang tuanya ke penjara demi keadilan, atau bungkam dan membiarkan dirinya menjadi kaki tangan dalam pusaran dosa mereka. Ini adalah pertaruhan antara menjaga nurani atau kehilangan seluruh identitas dirinya.
Di sofa seberang, Amanda mengamati dengan tatapan penuh empati. Ia teringat bagaimana dulu ia pun terguncang hebat saat pertama kali mengetahui kebenaran tentang Eric dan Carissa—bahkan sampai tidak bisa makan selama tiga hari. Apalagi ketika mendapat berita bahwa ayah Eric, sosok berbudi luhur yang pernah menolong keluarganya, meninggal karena orang yang sama, membuat darahnya mendidih. Dan ketidakmampuannya untuk berbuat apapun benar-benar membuatnya frustasi.