Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #39

38. Debu Tertiup Angin

Tiga bulan kemudian...


Ruang sidang utama itu terasa begitu dingin dan pengap, meskipun pendingin ruangan bekerja maksimal. Carissa duduk tegak di kursi kayu yang keras, jemarinya bertautan erat di pangkuan. Di sisi kanannya ada Amanda dan berselang satu kursi kosong di sebelahnya, ada Linda menggenggam tangannya—sebuah dukungan tanpa suara yang menjadi satu-satunya kekuatannya saat ini. Di sudut sebelah Amanda, Andrea duduk dengan bahu merosot, wajahnya menyimpan duka mendalam namun penuh penerimaan, sementara Dira memantau dengan tatapan tajam dari sebelah Linda.

Suasana mendadak hening ketika majelis hakim memasuki ruangan untuk sidang terakhir dari rentetan sidang yang sudah digelar ini. Carissa hanya bisa menatap kosong ke depan; meski sudah melakukan pengobatan rutin, dunianya masih kelabu, namun pendengarannya menjadi begitu tajam. Ia mendengar gesekan kertas, deru nafas orang-orang di sekitarnya, dan akhirnya, suara berat Hakim Ketua yang mulai membacakan rentetan dosa yang dilakukan oleh Andini dan Toto.

Daftar pelanggaran hukum itu dibacakan satu per satu, terdengar seperti lonceng kematian yang bergema di dinding ruang sidang: dari pembunuhan berencana, perampasan harta berskala besar melalui manipulasi dokumen perusahaan yang disertai korupsi besar-besaran, pendorongan bunuh diri terhadap mendiang Anggoro, penganiayaan berat yang nyaris merenggut nyawa Eric di toko bunga, kejahatan lintas negara terkait pembunuhan Mario di Inggris dan pencucian uang selama di Australia dan terakhir penculikan terhadap Carissa.

Setiap kata yang terucap membuat nafas Carissa tercekat. Sejarah pahit hidupnya kini terbentang jelas di hadapan hukum, disaksikan oleh banyak mata dan bahkan selama tiga bulan ini bertahan menjadi salah satu topik hangat yang dibahas media.

Hakim Ketua kemudian menarik nafas panjang, memperbaiki letak kacamatanya, dan mengetukkan palu dengan mantap.

"Menimbang segala kekejaman yang tak disesali oleh pelaku dan dampak traumatis yang luar biasa yang disebabkan, maka pengadilan memutuskan: Menjatuhkan hukuman Pidana Mati kepada terdakwa satu, Mentari Andini," suara hakim menggelegar.

Isak tangis tertahan terdengar dari bangku pengunjung. Andini tampak mematung, wajah angkuhnya runtuh seketika menjadi pucat pasi.

"Dan menjatuhkan hukuman Penjara Seumur Hidup kepada terdakwa dua, Toto Damani."

Tok! Tok! Tok!

Tiga ketukan palu itu menandai berakhirnya sebuah tirani yang telah berlangsung selama hampir satu dekade. Carie merasakan air mata hangat mengalir di pipinya. Bukan air mata kesedihan, melainkan sebuah pelepasan yang menyesakkan. Penderitaan selama delapan tahun ini menghimpit bahunya seolah luruh bersama ketukan palu tersebut.

Di tengah gema ketukan palu hakim yang masih merayap di dinding ruang sidang, Carie merasa jiwanya seolah melayang keluar dari raga. Kemenangan ini seharusnya terasa manis, namun di dalam dadanya, ia hanya merasakan kekosongan yang dingin.

Ia merasa keadilan ini, harta yang kembali, dan hukuman mati bagi Andini hanyalah sekelumit momen yang akan segera berlalu. Semua kemegahan dan drama ini, pada akhirnya, hanyalah tak terasa menyenangkan.

Carie memejamkan matanya rapat-rapat. Di tengah riuh rendah suara pengacara dan bisik-bisik pengunjung sidang, ia mencari satu kehadiran yang paling ia dambakan: Eric. Namun, di kursi di samping, kosong. Eric tidak ada di sana untuk menggenggam tangannya saat hakim menyebut kata "hukuman mati". Eric tidak ada di sana untuk membisikkan bahwa semuanya sudah berakhir.

Ia menyadari dengan pedih bahwa semua perjuangan mereka, semua air mata, dan semua harta yang kini kembali ke tangannya tak akan berarti jika sosok pelindungnya itu tidak bangun dari tidurnya. Bagi Carie, hidupnya terasa seperti butiran pasir di hamparan gurun yang luas—kecil, rapuh, dan tak berdaya melawan takdir. Apa gunanya keadilan jika ia harus menikmatinya dalam kesendirian?

Ia merasa semua pencapaian di ruang sidang ini hanyalah kepalsuan jika maut tetap mengintai Eric di ruang ICU. Seolah-olah uang dan kekuasaan yang diperebutkan Andini hingga tega membunuh orang tua mereka hanyalah "debu" yang tak bisa membeli kembali detak jantung yang normal atau senyum Eric yang menenangkan.

"Eric..." bisiknya nyaris tak terdengar.

Dia benar-benar rindu.

Lihat selengkapnya