18 bulan kemudian…
Carie dan Andrea duduk bersisian di bangku taman, memandang riak air danau yang membentang luas di depan mereka. Di tangan masing-masing, sebatang es potong rasa buah mulai mencair, berpacu dengan terik matahari yang menyengat kulit. Meski peluh membanjiri kaus mereka setelah lari mengelilingi danau sebanyak lima putaran, keduanya tak berniat melipir untuk berteduh. Angin sayup-sayup yang berembus terasa begitu nikmat menyapu suhu tubuh yang panas.
Hidup memang sering kali mempermainkan logika. Dulu, Carie menghabiskan bertahun-tahun menyukai Andrea dalam diam, lalu keadaan berbalik saat Andrea mendadak terobsesi padanya. Mereka hampir bertunangan, hampir pula menjadi musuh bebuyutan dalam senyap. Namun kini, di bawah langit yang sama, keduanya justru terikat erat—baik secara profesional maupun pribadi. Masa lalu yang menyakitkan dan latar belakang keluarga yang terhubung oleh takdir berantakan ternyata menjadi lem yang menyatukan sisa-sisa hidup mereka.
Andrea masih ingat betul momen ketika ia berlutut di hadapan Carie. Ia sudah bersiap jika Carie akan menginjak kepalanya atau meludahi wajahnya sebagai bentuk penebusan atas dosa-dosa Andini dan Toto. Namun, Carie yang baru saja menghirup udara bebas dari basement saat itu hanya menatapnya kosong, lalu mengabaikannya seolah Andrea hanyalah debu yang lewat.
Ketidakpedulian itu justru memicu keteguhan dalam diri Andrea. Ia memilih bertahan, menanggalkan seluruh harga dirinya, dan bersikap tak tahu malu untuk terus berada di sisi Carie. Ia siap menerima hardikan atau cacian paling kasar sekalipun, namun yang terjadi justru sebaliknya. Perlahan, tembok pertahanan Carie mulai melunak. Dimulai dari permintaan ditemani berobat, hingga akhirnya Carie mengandalkan Andrea sama besarnya seperti ia mengandalkan Amanda.
Beberapa hari setelah palu hakim mengetuk keadilan dan seluruh aset keluarga Carie kembali ke tangan pemilik aslinya, sebuah keputusan besar diambil. Carie, yang buta soal birokrasi dan manajemen bisnis, meminta Andrea untuk menduduki kursi Direktur Utama di grup perusahaannya, dengan Amanda sebagai pengawas langsung.
Andrea sempat menolak keras. Ia merasa tidak pantas memimpin perusahaan yang dibangun di atas penderitaan orang tua Carie—ulah Toto dan Andini. Namun, setelah diskusi alot dan penolakan kepala batu, Andrea akhirnya menyerah.
“Itu bukan hadiah, itu hukuman,” tegas Carie saat itu, suaranya terdengar mutlak namun matanya tak lagi menyimpan kebencian. “Kamu harus menjalankan perusahaan itu tanpa lelah, sementara aku yang akan foya-foya.”
Carie mengucapkannya dengan gaya semena-mena, seolah ia adalah majikan yang kejam. Namun, Andrea tahu itu hanyalah topeng. Itu adalah cara Carie agar dirinya bisa menebus kesalahan masa lalu tanpa perlu merasa terbebani oleh rasa belas kasihan.
Andrea menyesap sisa es potongnya, lalu melirik Carie dari sudut mata. "Hukumannya berat, Carie. Dirut nggak punya waktu libur nih," selorohnya pelan, mencoba memecah hening yang sempat menggantung.
Carie hanya tersenyum tipis, matanya tetap menatap jauh ke cakrawala danau yang berkilauan dipantul sinar matahari. "Lebih berat lagi jadi pengangguran banyak uang. Aku udah bosen travelling, sampai bingung mau kemana lagi!” sahutnya dengan nada yang sengaja dibuat congkak, meski ada guratan lelah dan bosan yang jujur di sana.
“Kalau gitu harusnya bantu aku sama Amanda. Kita sudah hampir gila menghadapi pemegang saham yang rewelnya minta ampun!” sindir Andrea sambil menyeka keringat di pelipisnya. “Kalau bukan karena papanya Amanda yang rajin kasih arahan di balik layar, mungkin perusahaan itu sudah bangkrut dari bulan lalu!”
Carie menoleh cepat, gerakan refleks yang menunjukkan penglihatannya sudah kembali jernih sejak enam bulan lalu. Ia menunjuk wajah Andrea dengan sisa es potong yang mulai menetes di tangannya. “Berani kamu bikin bangkrut, besok kamu nggak bakal lihat matahari lagi!” ancamnya dengan mata menyipit, berpura-pura menjadi tiran yang kejam.
Andrea terkikik. “Siap, Bu Bos! Perintah diterima dengan sepenuh hati,” sahutnya patuh sambil memberikan hormat dua jari.
Hening kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa lebih nyaman. Di antara candaan itu, keduanya tahu bahwa mereka sedang berusaha menambal lubang besar di hati masing-masing. Andrea dengan kerja kerasnya untuk menebus dosa, dan Carie dengan kemewahan yang ia gunakan untuk mengalihkan rindu yang tak kunjung padam.