Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #41

40. Heart Back

Carie duduk di salah satu bangku paling belakang, memilih posisi yang tidak terlalu mencolok di taman yang luasnya tak seberapa itu. Ia tak pernah menyangka akan tiba saatnya ia merasa antusias sekaligus canggung menghadiri acara ulang tahun anak kecil. Tadi pagi, ia sempat didera kebingungan akut hanya untuk menentukan pakaian. Setelah berkali-kali bongkar pasang lemari, pilihannya jatuh pada gaun puff sleeve berwarna biru muda dengan aksen kancing besar yang memberikan kesan manis namun tetap dewasa.

Hari ini adalah perayaan ulang tahun pertama Danira, putri kecil dari Dira dan Linda. Anak perempuan berpipi tembem dan kemerahan itu rasanya baru kemarin lahir ke dunia, namun kini ia sudah bisa berlari kesana-kemari dengan langkah kecil yang tak stabil, membuat kedua orang tuanya kewalahan sekaligus gemas.

Sembari sibuk mengejar Danira yang lincah, Linda sempat menengok sekilas ke arah Carie. Ia menyunggingkan senyum sapaan yang hangat. Sudah cukup lama mereka tidak bertukar kabar secara langsung. Sejak terapi Carie berakhir, intensitas pertemuan mereka memang drastis berkurang.

Sebenarnya, kehadiran Carie di sini adalah atas undangan dari Amanda—adik ipar Linda sekaligus sahabatnya itu malah sejak tadi membuat Carie terus menjulurkan leher, mencari-cari keberadaannya. Amanda dan kekasihnya belum juga muncul, padahal acara inti hampir dimulai.

Carie menghela napas pendek, merasa sedikit kesulitan menjaga kursi kosong di sampingnya tetap steril. Beberapa tamu undangan yang membawa anak terus melirik kursinya dengan penuh harap, seolah memberi kode bahwa mereka enggan terus-menerus memangku anak mereka yang mulai rewel.

"Duh, Amanda mana sih? Keburu kursi ini dicaplok orang lain," gumamnya pelan sembari terus memantau pintu masuk taman, berharap wajah ceria sahabatnya segera muncul untuk mengakhiri kecanggungannya sendirian di barisan belakang.

Amanda akhirnya muncul dengan nafas yang masih terengah, mengenakan dress selutut bertali tipis yang berkibar mengikuti langkah terburu-burunya. Ia langsung mengenyakkan diri di samping Carie, mengabaikan rambutnya yang tergerai agak acak-acakan.

Carie menyelidiki ekspresi Amanda dengan seksama—ada rona merah yang tak biasa di pipi sahabatnya itu. Ia kemudian melemparkan pandangan ke arah Andrea yang juga baru tiba di barisan seberang. Pria itu tampak sibuk membetulkan ikatan dasinya yang sedikit miring. Namun, pemandangan selanjutnya sukses membuat Carie mengkerut jijik sekaligus mual. Andrea mengusap bibirnya dengan kasar menggunakan punggung tangan, meninggalkan noda merah samar di sana. Setelah Carie perhatikan lagi, warna itu identik dengan lipstik Amanda yang kini terlihat berantakan di sudut bibir.

“Sibuk mesra-mesraan, hah? Dari tadi aku nungguin di sini sampai pegal!” protes Carie dengan nada ketus.

Amanda menoleh sambil mesem, wajahnya tanpa dosa. “Habis, nggak tahan... kalau ketemu bawaannya pengen ciuman terus!” bisik Amanda nakal tepat di telinga Carie.

Carie langsung refleks menutup kedua telinganya rapat-rapat sambil meracau, “Aaaaaa...” Ia berusaha keras agar suara Amanda tidak masuk ke kepalanya. Hal yang paling menyebalkan saat melihat tingkah Amanda yang tergila-gila pada Andrea adalah karena cermin masa lalunya sendiri terpantul di sana; mengingatkannya pada dirinya sendiri.

“Eh, udah mau mulai!” Amanda menepuk paha Carie dengan semangat, mengedikkan dagunya ke arah panggung kecil di tengah taman. Disana, Dira dan Linda sudah berdiri tegap sambil menggendong Danira yang mulai meronta ingin turun.

Carie menurunkan tangannya dari telinga dan menegakkan punggung, berusaha menunjukkan rasa hormat pada si empunya acara. Namun, keanehan terjadi. Bukannya membuka acara dengan sambutan, Dira justru terpaku, matanya menatap lurus ke arah pintu masuk taman dengan ekspresi syok yang tak bisa disembunyikan.

Insting Carie dan Amanda pun memaksa mereka untuk ikut menoleh.

Di ambang pintu taman, di bawah siraman cahaya matahari sore yang keemasan, berdiri seorang pria. Jantung Carissa seolah jatuh tepat ke tengah perutnya. Nafasnya tercekat, dan dunia di sekitarnya mendadak menjadi hening.

Sosok itu melangkah masuk dengan aura yang benar-benar berbeda. Eric tidak lagi terlihat seperti pria pesakitan yang terakhir kali Carie lihat di ranjang rumah sakit. Rambutnya kini dibiarkan memanjang dengan potongan long shaggy cut seperti pertama kali Carie melihatnya dua tahun lalu. Ia tampak elegan namun santai, mengenakan overcoat abu-abu panjang yang menutupi kaos dan celana hitam legam. Penampilan yang membuat kehadirannya terasa seperti dejavu.

Pria itu berjalan tenang, langkahnya mantap melewati deretan kursi tamu. Aroma parfum yang sangat familiar bagi indra penciuman Carie seolah tertinggal di udara saat Eric melintas tepat di samping barisannya. Namun, Eric tidak berhenti. Ia terus berjalan lurus, seolah-olah Carie dan Amanda hanyalah bagian dari dekorasi taman yang tidak berarti.

Eric sampai di depan panggung, menyapa Dira dan Linda dengan pelukan singkat yang hangat. Ia bahkan sempat membungkuk kecil untuk menyalami tangan mungil Danira, membuat balita itu tertawa riang. Setelah itu, dengan santainya, dia mengambil tempat duduk di kursi barisan paling depan—tepat di hadapan panggung, memunggungi semua orang.

Carie dan Amanda melongo parah. Mulut Amanda bahkan terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. Saat Amanda menoleh ke arah Andrea di seberang, ia mendapati kekasihnya itu pun sama kagetnya; tangan Andrea yang tadinya sibuk merapikan dasi kini membeku di udara.

"Dia lihat kita? Dia lihat kita nggak sih? Kok nggak nyapa?" gerutu Amanda heboh, suaranya naik satu oktaf karena jengkel sekaligus bingung. "Itu beneran Eric, kan? Masa dia lewat gitu aja kayak nggak kenal? Apa dia amnesia?"

Carie diam seribu bahasa. Tubuhnya kaku, jemarinya meremas kain gaun biru mudanya hingga kusut. Syok yang dialaminya terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata. Hatinya yang selama ini sudah ia coba buat mati rasa, kini berdenyut menyakitkan. Eric ada di sana, hanya berjarak beberapa meter darinya, sehat dan tampan—namun terasa lebih jauh daripada saat pria itu menghilang ke luar negeri.

Lihat selengkapnya