Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #42

41. Alasan Menghilang

Carie duduk di pinggir air mancur dengan kedua tangan terlipat defensif di depan dada. Wajahnya ditekuk dalam, bibirnya mengerucut, dan tatapannya dilempar lurus ke udara kosong di hadapannya. Ia bersikap seolah tak peduli pada Eric yang kini tengah berlutut di tanah, dengan telaten memasangkan kembali sepatu putih itu ke kakinya.

Begitu Eric selesai dan perlahan berdiri tegak, Carie melirik sinis. Tanpa peringatan, ia meluruskan kedua kakinya dan menghentakkannya kuat-kuat ke udara sampai kedua sepatu itu lepas lagi dan terlempar ke sembarang arah.

Eric refleks tertawa. Alih-alih kesal, ia justru langsung bergerak tenang mengambil kembali sepatu-sepatu itu dan memakaikannya sekali lagi di kaki Carie.

“Jangan dibuang-buang, sepatunya nggak salah apa-apa,” ucap Eric lembut, suaranya tenang seperti ombak yang menyapu karang.

Mata Carie berkilat kesal. “Harusnya kamu saja yang aku lempar!”

Eric kembali tertawa sambil bangkit berdiri tepat di hadapan Carie. “Iya, maaf. Aku cuma mau kasih kejutan aja.”

“Kejutan?” pekik Carie tak terima. “Aku nunggu dua tahun! Kamu bilang ini kejutan?”

Dengan gaya santai yang menyebalkan, Eric mengedikkan bahunya. “Kamu lupa aku nunggu delapan tahun padahal kamu lupa beneran sama aku?” Ia menyerang balik dengan fakta yang telak.

“Kamu—ugh!” Carie kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa mendengus kasar, tak mampu membantah argumen pria itu.

Eric kemudian duduk di sisinya, mengambil sisa ruang di pinggir air mancur. “Jadi, kamu nunggu aku selama dua tahun ini? Aku kira kamu udah punya pacar lagi.”

Carie melirik pedas, mencoba memungut kembali sisa-sisa harga dirinya yang tercecer. “Memang iya!” serunya ketus. “Kamu pikir berapa banyak cowok yang dekatin aku selama ini? Antreannya panjang!”

“Masa?” Mata Eric menyipit, ada kilat jenaka yang tak bisa disembunyikan. “Kata Dira nggak, tuh.”

“Ish!” gerutu Carie dalam hati. Ia baru sadar bahwa orang-orang di sekitarnya selama ini adalah mata-mata Eric yang paling setia. “Ya... tapi itu bukan karena aku nungguin kamu! Aku cuma pilih-pilih saja. Standar aku tinggi, tahu!” Elaknya cepat, mencari alasan apapun demi menyelamatkan egonya yang nyaris runtuh.

“Oh, begitu,” angguk Eric santai, meski nada bicaranya menunjukkan bahwa ia tidak percaya sepatah kata pun dari penjelasan Carie.

Hening sejenak menyelimuti mereka, hanya suara gemericik air mancur yang mengisi udara. Carie masih membuang muka, namun sudut matanya tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah pria di sampingnya. Pria yang selama dua tahun ini hanya ia temui dalam bayang-bayang, kini nyata, terasa hangat, dan masih sama menyebalkannya seperti dulu.

“Jadi,” Eric memecah keheningan, “standar tinggi itu... kriteria utamanya harus punya tato gak? Soalnya aku sudah nggak punya.”

Pertahanan Carie amblas seketika. Ia menoleh cepat, matanya membelalak tak percaya. Tangannya refleks menarik lengan Eric, menyibakkan kain overcoat tepat di bagian lengan tempat tato itu dulu berada.

Hilang. Benar-benar tak berbekas. Kulit Eric disana kini bersih, seolah tinta hitam yang dulu meliuk di sana hanyalah imajinasi belaka.

Sadar bahwa Carie sedang memegangi tangannya dengan begitu intens sambil mengamati setiap inci kulitnya, Eric hanya diam, menatap Carie lekat-lekat dengan senyum tipis yang penuh arti. Dari sudut matanya, Carie menangkap gelagat Eric yang seolah sedang menikmati perhatiannya. Gengsinya langsung melambung kembali ke permukaan; ia refleks melempar tangan Eric ke udara dengan gerakan kasar yang dibuat-buat.

“Udah, ah! Aku mau pulang!” Carie bangkit berdiri, masih dengan wajah ditekuk meski jantungnya sudah berpacu tidak karuan.

Eric buru-buru meraih tangan Carie, menggenggam jemari gadis itu erat-erat agar tidak melarikan diri lagi. “Yakin gak mau tanya kenapa aku baru muncul sekarang?”

Lihat selengkapnya