Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #43

42. Bukan Gadis Kecil

Sup dan nasi hangat yang masih mengepul sudah tersaji rapi di atas meja makan, bersanding dengan ayam goreng tepung yang berkilau keemasan dan terlihat sangat garing. Namun, saat Eric kembali ke ruang tamu untuk memanggil Carie, yang ia temukan hanyalah keheningan. Mata Carie sudah terpejam lekat; gadis itu tertidur dalam posisi yang masih sama. Kelopak matanya yang tebal memberikan kesan seolah matanya sembab, sisa dari ketegangan emosional yang ia lalui seharian ini.

Sambil tersenyum tipis, Eric merendahkan tubuhnya. Dengan satu gerakan halus dan penuh kehati-hatian, ia menyelipkan satu tangan di bawah bahu Carie dan tangan lainnya di belakang lutut. Dalam satu hentakan mantap, ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya dan melangkah perlahan menuju kamar.

Namun, begitu ia merebahkan tubuh Carie di atas kasur dan hendak beranjak mundur, mata Carie sedikit terbuka. “Eric?” suaranya terdengar parau dan sangat rapuh. Ia mengulurkan tangannya yang lemas, mencengkeram lengan Eric seolah takut pria itu hanyalah ilusi. “Jangan pergi lagi!”

Mendengar permintaan yang tulus itu, hati Eric mencelos. Alih-alih beranjak dari sana, ia justru memilih untuk merebahkan tubuhnya di samping Carie, menatap wajah gadis itu lekat-lekat dari bantal di sebelahnya.

“Nggak, aku di sini. Nggak akan pergi lagi,” jawabnya lembut, suaranya menenangkan.

“Em,” gumam Carie seraya memejamkan matanya kembali. Kelopak matanya terasa teramat berat, seolah tak ada lagi kekuatan untuk tetap terjaga.

“Kamu... katanya sempat nggak bisa melihat apa-apa, ya?” tanya Eric pelan, ujung ibu jarinya menyentuh kelopak mata Carie dengan sangat hati-hati.

“Em,” Carie mengangguk samar dalam pejaman matanya. “Waktu dikurung di basement, aku nggak bisa lihat apa-apa.”

“Tapi sekarang udah baik-baik saja?” Eric menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Carie ke belakang telinga.

“Em. Penglihatan aku udah normal. Suara-suara itu juga nggak pernah terdengar lagi.”

“Suara?” Mata Eric melebar seketika, kewaspadaannya bangkit. “Suara apa?”

“Suara hati,” jawab Carie, suaranya kian mengecil hingga hampir menyerupai bisikan yang hilang ditelan angin. “Suara hati orang yang aku sentuh.”

“HA?!” pekik Eric. Saking terkejutnya, kepalanya sampai terangkat dari bantal. “Suara hati? Kamu dengar suara hati orang? Kamu bisa dengar suara hati aku?!” cecarnya bertubi-tubi.

Carie hanya memberikan anggukan halus sebagai jawaban.

“Kamu dengar apa? Sekarang masih bisa dengar?”

Carie terdiam.

“Carie?” panggil Eric, berusaha menggoyahkan bahunya sedikit.

Tak ada sahutan.

“Carissa? Carissa Rafli?”

Gadis itu sudah sepenuhnya terlelap, meninggalkan Eric yang kini duduk mematung dengan otak yang berputar hebat menerima informasi barusan. Sesuatu yang terdengar sangat tidak masuk akal, namun ia tahu Carie tidak mungkin berbohong di saat kondisinya sedang setengah sadar seperti tadi.

Eric langsung turun dari kasur, setengah berlari menuju ruang tamu untuk meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Linda.

Lihat selengkapnya