Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #44

43. The Drama

Suasana di ruang tamu itu terasa begitu kaku. Mereka duduk saling berhadapan dalam konfigurasi yang wajar tapi canggung. Amanda duduk rapat di sebelah Andrea, sementara Carie—yang sudah "dievakuasi" dan dipaksa mengganti kemeja provokatifnya dengan dress milik Amanda—duduk di samping Eric.

Eric sendiri sengaja menjaga jarak beberapa jengkal. Alam bawah sadarnya masih dalam mode waspada tingkat tinggi; jantungnya belum sepenuhnya tenang setelah serangan luar biasa dari Carie tadi. Takut gadis ini bertingkah di luar prediksi lagi dan pertahannya hancur.

“Jadi, Andrea lagi jemput kamu… tapi dia mau menyapa aku, makanya mampir ke sini?” Eric mencoba menyimpulkan situasi dengan suara yang sengaja dibuat datar, berusaha merebut kembali kendali kewarasannya.

Amanda mengangguk santai. Setelah Dira menikah dan pindah, rumah di sebelah rumah Eric memang telah ia tempati. Lokasinya yang berdampingan membuat kunjungan mendadak ini terasa sangat natural, setidaknya sampai pintu kamar tadi terbuka.

“Tapi gue malah lihat Carissa pakai pakaian begitu!” sindir Andrea tajam. Matanya berkilat, dilemparkan seperti belati ke arah Carie yang kini hanya bisa menatap ujung kakinya sendiri.

“Udah gue bilang, itu cuma salah paham!” sela Eric cepat. Ia sudah lelah mengulang penjelasan yang sama. Sejak tadi ia berusaha meluruskan bahwa tidak ada "malam panas" yang terjadi, meski pemandangan Carie dengan kemeja putih tadi sangat sulit dihapus dari ingatan siapapun yang melihatnya.

“Udah, jangan dibahas lagi!” saran Amanda sambil menggenggam tangan Andrea, mencoba meredam emosi kekasihnya. Namun, nada bicaranya masih menyimpan sisa tawa yang geli, membuat Eric semakin merasa terpojok.

Tatapan Eric jatuh ke arah tautan tangan mereka. Ia mendengus pelan, seolah baru benar-benar memproses hubungan itu. “Gue nggak nyangka kalian akhirnya pacaran. Emangnya harus banget sama Amanda?” tanyanya dengan nada ketus yang tidak disembunyikan. Terdengar jelas kalau Eric tidak sepenuhnya setuju melihat Andrea memonopoli adik Dira itu.

“Nggak usah ngatur!” balas Andrea dengan suara rendah yang menantang.

Eric langsung bersedekap defensif. Tubuhnya menegang, menonjolkan otot lengannya. “Kayaknya lu lupa kalau Amanda udah kayak adik gue sendiri. Jadi gue berhak komentar!”

Andrea tidak mau kalah, ia ikut bersedekap, meniru posisi tubuh Eric. “Kalau gitu, lu juga harus kasih penjelasan kenapa Carie harus menginap di sini, bukan diantar pulang semalam.”

Dahi Eric berkerut dalam, matanya menyipit penuh intimidasi. “Apa urusan lu ngatur Carissa?” Ia mengembalikan kata-kata Andrea dengan telak.

“Karena Carie sudah gue anggap kayak adik gue sendiri,” tegas Andrea tanpa keraguan sedikit pun.

“Sejak kapan?”

“Sejak dua tahun lalu!”

Eric langsung bungkam. Kalimat itu menghantamnya tepat di ulu hati—sebuah pukulan telak yang tidak bisa ia tangkis. Jawaban Andrea adalah pengingat yang menyakitkan bahwa selama ketiadaannya di samping Carie, Andrealah yang pasang badan menjaga dan melindungi Carie. Eric kehilangan hak untuk mendebat fakta itu.

Kini, kedua pria itu hanya bisa saling melempar tatapan bengis. Atmosfer di antara mereka seolah memancarkan laser tak kasat mata yang saling beradu di tengah meja.

Carie dan Amanda hanya bisa saling tatap. Bedanya, mereka tidak terpancing emosi, melainkan terjebak dalam kebingungan yang sama.

“Mereka berdua lagi akting jadi kakak, ya?” bisik Carie pelan.

Amanda mengedikkan bahu, meski anggukan kepalanya menunjukkan bahwa ia setuju sepenuhnya dengan pikiran Carie. Drama persaudaraan mendadak ini terasa sedikit berlebihan di mata mereka.

“Udahlah!” sela Amanda kemudian, berusaha memecah keheningan yang menyesakkan. “Nggak usah berantem!”

Eric dan Andrea tidak menyahut. Mereka masih saling menatap dengan sengit, seolah sedang melakukan adu ketahanan siapa yang paling lama tidak berkedip. Namun detik kemudian, seolah ada instruksi yang sama, keduanya mendengus kesal secara bersamaan dan membuang muka ke arah yang berlawanan.

Lihat selengkapnya