Tok... tok... tok!!
Pintu kayu jati itu didorong terbuka tanpa menunggu izin. Eric mengintip dari celahnya, menampilkan cengiran lebar yang seolah tak berdosa.
Andrea, yang tengah memijat pelipisnya, kelopak matanya langsung terkulai turun karena lelah. Ia menatap enggan ke arah Eric yang melenggang masuk dengan santai, seolah kantor direktur utama itu adalah ruang tamunya sendiri. “Udah gue bilang, lu datang pun gue nggak akan kasih tahu dia di mana!” Ia menekankan lagi apa yang sudah ia ucapkan saat pembicaraan mereka di telepon tadi.
Tak mempedulikan peringatan dingin itu, Eric membanting tubuhnya ke sofa—tepat di posisi yang beberapa waktu lalu diduduki Carie. Kepala Andrea berdenyut lebih kencang; ia merasa sedang menghadapi dua balita yang sedang bergantian merajuk.
“Gue mau ngobrol yang lain, sih,” sahut Eric santai. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket zip blouson biru dongkernya, lalu menyilangkan kaki dengan gaya yang teramat rileks—tak senada dengan tegangnya si empunya ruangan. Matanya menatap Andrea dengan binar yang lebih tulus. “By the way... thanks a lot. Karena lu, masalah dua tahun lalu akhirnya selesai.”
Untuk pertama kalinya sejak Eric menapakkan kaki di ruangan itu, Andrea memberikan perhatian penuh. Ia menghela nafas panjang sembari berdiri, melepas sisa-sisa wibawa kerjanya dan menyampirkan tubuhnya kembali ke sofa di hadapan Eric. Ia terpaksa meninggalkan tumpukan berkas demi menghadapi pria yang secara teknis adalah "saingan" sekaligus kawan lamanya ini.
“Telat banget. But nevermind,” sahut Andrea ketus, meski guratan lelah di wajahnya sedikit melunak. “Lagian semuanya buat Carie, bukan buat lu!”
Eric menyipitkan mata, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan menyelidik. “Lu kayaknya lebih kesal sama gue ketimbang tadi pagi di rumah. Jujur aja, Carie bilang apa sama lu? Kenapa dia tahu-tahu kabur dari rumah gue?”
“Dia kabur?” Andrea mengerutkan kening, sedikit terkejut. Ia mengira mereka terlibat pertengkaran hebat yang meledak-ledak, namun ternyata Carie memilih melarikan diri secara diam-diam. Melihat Eric mengangguk lesu, ketegangan di bahu Andrea perlahan mengendur. Ia menyandarkan punggungnya dengan sisa tenaga yang ada. “Kok lu bisa seyakin itu kalau dia kabur karena kesal sama lu?”
“Kelakuannya sama persis kayak waktu dia kecil dulu,” Eric menjawab enteng, sudut bibirnya terangkat tipis seolah sedang mengenang memori lama.
Andrea membuang nafas berat. “Gue nggak tahu pantas atau nggak mengeluh begini ke lu. Tapi Carie makin kesini itu memang makin susah dipahami. Tingkahnya...” Ia berhenti sejenak untuk memutar bola mata ke langit-langit. “Ketimbang dibilang mirip anak kecil, dia lebih mirip tuan putri manja. Gue sampai bingung terus.”
Bukannya menunjukkan empati apalagi kesal Andrea menyebut Carie begitu, Eric justru tertawa renyah. Tawa yang terdengar sangat lepas. “Dia bukan berubah, Andrea. Karakter dia aslinya memang begitu. Tuan putri manja. Makanya, pas dia yang umur dua belas tahun tiba-tiba menyatakan cinta, di mata gue saat itu dia cuma tuan putri manja yang nggak mau kehilangan mainan kesayangannya.”
“Shit,” hela Andrea, suaranya parau namun penuh pengertian. Ia mengangguk simpati. “Sekarang gue paham.”.
“Jadi lu harusnya bersyukur,” Eric melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Dengan tingkahnya yang seperti itu, berarti dia memang udah kembali jadi dirinya yang dulu. Sebelum tragedi, sebelum lupa ingatan, dan sebelum semua kekacauan itu.”
Mendengar kata "tragedi", wajah Andrea langsung diselimuti rasa bersalah yang kelam. Sebuah beban seumur hidup yang tampaknya tak akan pernah bisa dihapus dari hatinya, tidak peduli seberapa banyak ia membantu Carie saat ini.
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan sebelum Eric kembali bersuara, kali ini dengan nada bicara yang lebih hati-hati. “Bokap lu... gimana?”
Andrea terdiam, menatap lantai dengan tatapan kosong. “Ya, begitulah,” jawabnya tanpa semangat. “Dari kecil dia nggak pernah bersikap sebagai ayah. Lu mungkin tahu, gue dikirim ke panti asuhan sebelum akhirnya 'dipungut' dan diangkat jadi anak sama Andini hanya untuk kepentingan status.”