Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #46

45. Salah Sasaran

Carie duduk dengan keanggunan yang tampak sangat terencana di salah satu sudut restoran hotelnya sendiri yang tenang. Balutan busana bernuansa retro-chic yang ia kenakan pagi ini benar-benar memanjakan mata, memadukan kelembutan warna merah muda dengan aksen merah yang berani—sebuah kombinasi yang secara visual meneriakkan citra feminim namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan.

Ia mengenakan setelan cardigan rajut cropped dengan ujung lengan berwarna kontras, yang ia biarkan terbuka sedikit di atas kaos putih bertuliskan "Cute". Potongan pendek cardigan itu sengaja menampilkan sedikit garis pinggang dan perutnya yang putih bak salju, sebuah sentuhan keberanian yang kontras dengan kesan manis dari tekstur bulu halus pada rok mini A-line-nya.

Penampilannya dipermanis oleh topi baret dengan bahan senada roknya yang bertengger manis di atas rambut hitam panjangnya yang dibiarkan terurai sempurna, melengkapi kesan klasik yang sangat kuat. Sementara itu, kaus kaki putih setinggi lutut dan sepatu Mary Jane hitam berhias kristal yang berkilauan di bawah lampu kristal restoran memberikan sentuhan preppy yang mewah.

Sambil menyesap tehnya perlahan, Carie tampak seperti sosok yang baru saja melangkah keluar dari bingkai film estetika tahun 60-an. Ia tahu betul kekuatannya; ia sedang berada dalam mode "Tuan Putri" sepenuhnya. Tatapannya lurus ke jendela besar di sampingnya, meski telinganya sangat awas terhadap setiap langkah kaki yang mendekat. Ia sedang menunggu dua hal: anak menteri yang dijanjikan Andrea, atau pria berambut gondrong yang ia harap sedang kelimpungan mencarinya ke seluruh penjuru kota.

Tapi Theo—sang anak menteri itu—ternyata tiba lebih dulu, memecah antisipasi Carie dengan kehadiran yang jauh dari ekspektasi. Tubuhnya tinggi namun kurus, terbalut jas biru terang yang melapisi kaos putih polos. Celana yang ia kenakan tampak agak terlalu ketat, menciptakan siluet yang bagi Carie terasa sedikit dipaksakan.

“Halo, Carissa ya?” sapa Theo ramah, menyunggingkan senyum yang nampak terlalu percaya diri.

Saat pria itu mendekat, aroma pomade dari rambutnya yang tertata kaku langsung menyerbu indra penciuman Carie. Bau itu begitu tajam dan menusuk hingga Carie harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak mengernyitkan dahi karena mual.

“Hai! Salam kenal!” sahut Carie dengan nada yang dibuat semanis mungkin. Ia mengulurkan tangannya, menjabat Theo saat pria itu mengambil tempat duduk di hadapannya.

Namun, fokus Carie tidak sepenuhnya ada di sana. Di tengah percakapan itu, sudut matanya menangkap sosok lain yang sejak tadi ia tunggu. Beberapa meter di belakang punggung Theo, Eric tengah duduk di salah satu kursi. Pria itu bersandar santai dengan kaki menyilang, namun auranya sangat mengintimidasi. Meski wajah Eric terlihat tenang, matanya yang tajam seolah sedang melemparkan ribuan panah api tepat ke arah Carie.

Carie sengaja berpura-pura tidak melihat kehadiran Eric. Ia justru memberikan perhatian penuh pada Theo, menyunggingkan senyum tercantik yang ia miliki.

“Macet ya jalanannya?” tanya Carie berbasa-basi, meski dalam hati ia menggerutu kesal karena pria ini terlambat lima menit dari waktu yang sudah disepakati.

“Iya lumayan,” jawab Theo tanpa rasa bersalah. “Aku sengaja pakai mobil listrik biar nggak kena ganjil-genap, tapi malah hampir kehabisan daya pas di jalan. Jadi aku harus minggir untuk charge dulu sebentar.”

Unprepared! cela Carie dalam hati dengan pedas.

Bagi Carie, pria yang tidak memiliki rencana matang dan tidak mengantisipasi hal-hal teknis seperti itu baginya adalah nilai minus besar. Namun, demi misinya hari ini, ia harus bertahan. Ia tahu Eric sedang memantaunya dalam diam di sana, menahan amarah yang mungkin sudah sampai ke ubun-ubun. Ini adalah waktu yang sempurna untuk membuktikan bahwa ia bukan lagi gadis yang akan menangis memohon perhatian, melainkan wanita yang bisa membuat pria dingin itu terbakar api cemburu.

Menit demi menit berlalu dalam ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh Carie dan sosok yang mengintai di belakangnya. Carie tertawa kecil menanggapi cerita Theo, sebuah tawa yang dibuat-buat namun terdengar sangat renyah di telinga pria manapun. Tanpa diduga, ia memajukan tubuhnya ke arah meja—memperpendek jarak dengan Theo hingga aroma parfumnya menyambar pria kurus itu—sambil sesekali membelai rambut hitam panjangnya dengan gerakan yang lambat dan provokatif.

Ia bisa merasakan tatapan Eric semakin tajam, menusuk punggungnya hingga ke tulang. Carie sangat menikmati sensasi itu; adrenalinnya terpacu. Ia kemudian mengangkat kakinya perlahan, lalu menyilangkannya dengan gerakan yang sangat sengaja. Rok mininya yang bertekstur lembut itu langsung tersingkap, mengekspos paha putihnya yang mulus dengan kontras kaus kaki setinggi lututnya.

Eric tidak tahan lagi. Kesabarannya hancur berkeping-keping. Ia terlonjak berdiri dari kursinya, menciptakan bunyi derit kayu yang keras di lantai restoran. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan dengan langkah besar dan berat, membelah jarak hanya dalam hitungan detik. Tangan besarnya langsung menyambar pergelangan tangan Carie dengan genggaman yang protektif namun kuat.

Lihat selengkapnya