“See, Carie? Kamu salah paham,” Eric berujar pelan sembari memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. Panggilan video singkat antara Carie dan Tania baru saja berakhir, meninggalkan sisa kecanggungan yang menggantung di udara.
Carie tidak menyahut. Ekspresi wajahnya berubah drastis, menjadi sesuatu yang belum pernah Eric lihat sebelumnya. Wajah itu tampak kosong, namun di balik kekosongan itu, sorot matanya memancarkan kelelahan yang teramat sangat—sebuah keletihan jiwa yang membuat Eric, yang semula merasa lega karena kesalahpahaman telah tuntas, mendadak dirundung rasa was-was yang mencekam.
Eric mendekat, berusaha meraih tangan Carie sekali lagi dengan gerakan penuh kehati-hatian. “You know I love you, mana mungkin aku sama perempuan lain,” bisiknya meyakinkan. Kalimat itu terasa sangat asing di lidahnya, jauh dari gaya bicaranya yang biasanya dingin dan sarkastis, namun ia rela membuang semua gengsinya asal Carie tidak menjauh lagi.
Akan tetapi, bukannya tenang, Carie justru tersentak bangkit. Ia menarik tangannya dengan kasar hingga terlepas dari jemari Eric. “Kamu pergi aja. Aku capek,” usirnya dengan nada datar, nyaris tanpa emosi.
Seketika Eric didera kegugupan yang hebat. Ia segera menyusul langkah Carie yang bergerak lunglai menuju kamar tidur. “Carie, kamu kenapa? Kamu masih marah?”
Carie tetap membisu. Dengan gerakan mekanis, ia melepas topi baretnya dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Tangannya kemudian bergerak membuka kancing cardigannya, seolah Eric tidak sedang berdiri di sana.
“Carie, ganti baju kamu dulu. Kita bicara baik-baik,” pinta Eric. Ia merasa sangat terdistraksi dengan penampilan Carie yang kini sangat terbuka. Kaos putih cropped yang menempel di tubuh gadis itu begitu ketat dan tipis, mempertegas lekuk tubuhnya hingga Eric bingung harus membuang pandangan ke mana.
“Kamu pergi aja, aku gak mood ngobrol,” tegas Carie sekali lagi. Suaranya terdengar sangat dingin, membekukan atmosfer di kamar itu. Ia tampak benar-benar tidak menginginkan keberadaan Eric di sisinya.
Merasa situasi ini mulai berjalan di luar kendalinya, Eric menanggalkan semua rasa canggung. Ia mendekat dengan cepat dan menyambar pergelangan tangan Carie. “Carie, talk to me. What’s wrong with you?”
Carie memalingkan wajahnya sekuat tenaga, menolak menatap mata Eric. Ia mengangkat tangannya, berusaha meronta untuk melepaskan genggaman itu. Namun, Eric justru semakin mengeratkan cengkramannya. Kulit tangan Carie yang putih mulai berubah kemerahan karena tekanan itu, tapi gadis ini tidak merintih kesakitan sedikit pun. Ia justru semakin beringas berusaha melepaskan diri, tenaganya terasa begitu kuat—sebuah kekuatan yang didorong oleh emosi terpendam yang tidak Eric ketahui akarnya.
“Carie, please!” Eric memohon, namun Carie tetap bersikeras menghindar. “Carie! Talk to me, Carie!”
Eric mulai kewalahan. Ia tidak ingin menyakiti Carie dengan pegangan yang lebih keras lagi, namun gadis ini terus meronta dan membuang muka. Tak punya pilihan lain, Eric mendorong tubuh Carie maju hingga ia terjatuh di atas kasur yang empuk. Dengan sigap, Eric mengunci kedua tangan Carie di atas kepala gadis itu menggunakan satu tangannya, sementara tubuhnya menahan agar Carie tidak lari lagi.
“Carie, kamu kenapa?” tanya Eric, kali ini suaranya melunak, berubah menjadi bisikan yang sangat lembut dan penuh kepedihan.
Mata Carie akhirnya terpaksa menatap mata Eric. Namun, di dalam bola mata indah itu, Eric tidak menemukan kemarahan yang ia duga. Sebaliknya, mata itu mulai digenangi air yang perlahan-lahan mengumpul. Carie nampak berjuang mati-matian agar air mata itu tidak tumpah dengan cara tidak mengedipkan matanya sama sekali. Meski begitu, kristal bening itu tetap merembes dari sela-sela bulu matanya, membasahi pelipisnya.
Eric mengerjap, nafasnya tertahan di tenggorokan. Ia kehilangan kata-kata, terpaku melihat kerapuhan yang begitu nyata di hadapannya.