Skinship

Arisyifa Siregar
Chapter #48

47. Trauma Tersembunyi

Eric berdiri mematung di bawah pancuran, membiarkan air dingin menghujam deras dari ujung kepala hingga ke seluruh tubuhnya. Biasanya, mandi adalah rutinitas cepat baginya, namun kali ini ia seolah kehilangan konsep waktu. Ia berharap suhu dingin yang menusuk kulitnya bisa membekukan gejolak pikiran dan perasaan yang membuatnya tak tenang.

Pikirannya melayang kembali ke kejadian kemarin malam.

Saat itu, setelah sesi makan malam yang tenang dan menonton televisi bersama, rasa kantuk mulai menyerang Carie. Dengan nada manja yang masih menyiratkan sisa ketakutan tak mau ditinggal, ia meminta ditemani tidur. Eric, yang sangat sadar betapa rapuhnya kondisi mental Carie saat ini, memutuskan untuk menuruti permintaannya. Ia ikut berbaring di bawah selimut tebal, memberikan rasa aman yang selama dua tahun ini hilang dari hidup gadis itu.

Carie, dalam balutan piyama sutra warna kuning yang lembut, meringkuk di pelukan Eric, menyandarkan wajahnya tepat di depan dada pria itu.

“Aku pergi kalau kamu udah tidur, ya. Besok aku datang lagi,” bisik Eric sambil jemarinya mengusap lembut helai rambut Carie, berusaha memberikan ketenangan.

Carie hanya mengangguk pelan. Obat yang ia minum setelah makan malam—yang dikira Eric hanyalah obat sakit perut biasa—nampaknya bekerja sangat cepat. Meski seluruh lampu di kamar suite itu menyala terang benderang hingga membuat Eric merasa silau, Carie tetap terlelap dalam hitungan menit.

Awalnya, Eric merasa tenang. Ia terhanyut memandangi wajah polos Carie yang sedang tertidur; sebuah pemandangan yang selalu menjadi candu baginya. Namun, saat ia berniat untuk bangkit dan pergi, sesuatu yang mengerikan terjadi.

Kedamaian di wajah Carie menguap seketika. Tubuhnya mulai bergetar hebat, dimulai dari jemari tangan yang mengepal kuat hingga ke seluruh bahunya. Eric terpaku saat melihat bola mata Carie bergerak liar di balik kelopak matanya yang terpejam, terlampau intens dan menyakitkan.

Carie meringkuk semakin dalam, kakinya menekuk ke arah perut seolah sedang menahan hantaman rasa sakit yang tak kasat mata. Dan yang paling menghancurkan hati Eric adalah saat ia melihat bantal putih di bawah kepala Carie perlahan-lahan basah. Air mata mengalir deras dari sudut mata gadis yang terpejam itu, meski ia tidak terbangun sama sekali.

Di bawah guyuran air dingin sekarang, tangan Eric mengepal meninju dinding kamar mandi. Ia menyadari satu hal yang terlewatkan: Carie tidak sedang baik-baik saja. Tidurnya bukan sekadar istirahat, melainkan sebuah perjuangan melawan trauma yang kembali menghantuinya begitu matanya tertutup.

***

“Sorry kalau basa-basi, tapi ini protokol.” Linda menegaskan. “Kamu udah bukan pemilik rumah sakit ini yang bisa akses riwayat penyakit pasien dan tahu isi konsultasinya, tapi—kalau kamu datang sebagai pihak yang berkonsultasi, sekalipun untuk orang lain, aku rasa aku bisa bantu.”

Eric mengangguk mafhum. Saat dia memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dua tahun lalu, dia menghibahkan rumah sakit yang ayahnya bangun lima tahun lalu ini untuk Dira dan Linda. Namun karena Dira adalah dokter forensik yang tidak praktek di rumah sakit umum, secara tak langsung, kuasa penuh rumah sakit ini ada pada Linda. Dan melihat Linda berusaha menjunjung normanya namun tetap membantu dengan sedikit kelonggaran, Eric sudah teramat bersyukur.

“Kamu nggak usah kasih tahu aku riwayat konsultasi dua tahun lalu, cukup kasih tahu pandangan kamu tentang apa yang kira-kira terjadi sama Carie.”

Linda menarik nafas agak dalam, menandakan diagnosanya ini cukup rumit dan berat untuk diucapkan, apalagi bagi dirinya sendiri yang pernah merasa yakin kalau Carie sepenuhnya sembuh dan tak butuh dirinya lagi, makanya tak ada lagi jadwal konsultasi lanjutan sejak enam bulan lalu.

“Kayaknya, itu trauma yang tanpa sadar ada di dalam jiwanya. Saat dalam keadaan sadar Carie gak ngeh akan hal itu, makanya dia gak pernah cerita apapun lagi ke aku. Tapi mungkin, hanya mungkin, karena aku perlu ketemu dan cek langsung untuk diagnosa lebih akurat, mungkin sebenarnya dia masih ketakutan. Akan kejadian yang udah lalu, entah itu tragedi delapan tahun lalu atau kejadian dua tahun lalu waktu dia disekap seminggu di basement.” Linda mengaitkan jemari di kedua tangannya.

“Kamu bilang sikapnya berubah menjadi mirip dirinya yang dulu sebelum amnesia, menurut aku itu wajar karena ingatannya sudah sepenuhnya pulih dan kehidupannya kembali seperti dulu. Tapi, karena kamu bilang dia cenderung agresif dan meledak-ledak, bisa jadi sikapnya yang saat ini hanya pertahanan dirinya. Buat menunjukkan dia baik-baik saja dan lebih kuat dari sebelumnya. Padahal bisa jadi, dia masih kebingungan. Karena bagaimanapun juga, secara gak langsung ia sudah kehilangan delapan tahun untuk bertransisi dari gadis kecil jadi wanita dewasa dengan kepribadiannya sendiri.”

Eric mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Linda dengan seksama, meskipun dadanya terasa semakin sesak. Penjelasan Linda masuk akal, namun kenyataan bahwa Carie harus memikul semua beban itu sendirian selama ia tidak ada, membuat Eric merasa gagal sebagai pelindung.

"Jadi maksud kamu," Eric menjeda kalimatnya, mencoba merangkai potongan informasi itu, "sikap 'Tuan Putri' yang manja, agresif, dan pemarah itu hanyalah topeng? Mekanisme pertahanan agar gak ada yang melihat betapa rapuhnya dia di dalam?"

Linda mengangguk pelan. "Bisa jadi begitu, Eric. Bayangkan, dia baru saja mendapatkan kembali semua memorinya. Dia harus beradaptasi dengan identitas lamanya, sekaligus menghadapi kenyataan bahwa dunia sudah berjalan terlalu jauh. Jika dia terus-menerus gemetar dan menangis di dalam tidurnya, itu artinya jiwanya masih terjebak di tempat gelap itu setiap kali dia menutup mata."

Lihat selengkapnya