Carie?” Eric langsung tersentak dari kursinya. Tubuhnya menekuk dalam, mengamati dengan nafas tertahan saat melihat kelopak mata gadis itu bergerak gelisah sebelum akhirnya perlahan terbuka.
“Eric?” erang Carie parau. Suaranya masih terdengar seperti gesekan amplas akibat cekikan Theo tadi. Ia berusaha memproses wajah yang muncul di depannya melalui pandangan yang masih sedikit kabur. Dengan sisa tenaga yang ada, tangan Carie yang lemah terulur, menangkup wajah Eric. Ia meraba setiap lekuk rahang dan pipi pria itu dengan jemarinya, sebuah gerakan intuitif yang membangkitkan memori masa lalu saat ia melakukan hal serupa untuk memastikan Eric nyata.
“Thank God!” Eric menghembuskan nafas panjang yang gemetar. Ia menempelkan dahinya ke dahi Carie, memejamkan mata rapat-rapat. Akhirnya, ia bisa bernapas lega setelah setengah jam terakhir merasa dunianya seakan ikut mati karena Carie tak kunjung siuman.
Carie menyunggingkan senyum tipis, meski lehernya terasa kaku dan perih. “Maaf... kamu pasti khawatir banget ya?”
“Jangan minta maaf!” larang Eric tegas sambil menegakkan tubuhnya kembali. Matanya berkilat tajam, menyiratkan sisa-sisa amarah yang belum padam. “Orang itu... sebentar lagi benar-benar akan aku kirim ke neraka!”
Melihat emosi yang meluap-luap di wajah Eric—yang biasanya sedingin es dan setenang laut dalam—Carie tidak tahan untuk tidak tertawa kecil. Rasanya aneh, namun melihat Eric se-ekspresif itu justru membuat tenaganya seolah terisi kembali. Ia menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, dan dengan sigap, Eric membantunya duduk sambil menyusun bantal di punggung kasur sebagai sandaran.
Saat pandangan Carie tertuju pada tangan Eric yang sedang merapikan selang infus, ia baru menyadari kalau dirinya berada di rumah sakit.
“Orang itu?” Carie teringat kembali pada Theo.
“Sekarang ada di kantor polisi, lagi 'dihabisi' sama Andrea,” jawab Eric dingin. “Sebentar lagi media akan heboh. Bapaknya yang menteri itu sekarang pasti lagi kalang kabut cari lubang buat sembunyi, karena ternyata ini bukan pertama kalinya anak setan itu melakukan kekerasan ke perempuan. Dia punya rekam jejak yang terkubur rapi, dan Andrea memastikan semuanya meledak hari ini.”
Wajah pucat Carie terdiam. Bayang-bayang tangan kurus Theo yang mencengkram lehernya dan ruangan yang perlahan menggelap sempat melintas kembali, membuatnya bergidik ngeri.
Menyadari perubahan raut wajah Carie, Eric langsung duduk di pinggir kasur. Ia menggenggam tangan Carie erat-erat, seolah ingin menyalurkan seluruh ketenangan dan kekuatan yang ia miliki. “Kamu tahu? Mulai sekarang, aku gak akan membiarkan kamu sendirian. Sama sekali gak akan.”
Wajah Carie yang semula tegang langsung berseri kembali. Sifat jahil-nya mendadak muncul ke permukaan untuk menutupi rasa takut yang masih tersisa.
“Bahkan saat aku lagi mandi sekalipun?” godanya dengan kerlingan mata nakal.
“But,” Eric melanjutkan, suaranya memberat. Ia menatap jemari tangan Carie dengan tatapan yang mendadak dalam dan intens. “I’ll do. Sekalipun di kamar mandi.”
“Ha?” Carie terperangah. Tawanya hilang seketika, menguap ke udara rumah sakit yang dingin. Meskipun dia sendiri yang memulai godaan itu, mendengar Eric mengiyakan leluconnya dengan wajah seserius itu membuat lidahnya kelu.
“Shit!” umpat Eric pelan sembari menyunggingkan senyum pahit. Ia mengusap tengkuknya, tampak gelisah. “Seharusnya gak begini rencananya,” gumamnya, terlihat bingung dengan pikirannya sendiri.