Dua bulan kemudian…
Hari ini Carissa dan Eric sudah resmi menjadi suami istri di catatan sipil, besok juga mereka akan langsung berangkat ke London upacara pernikahan, dan selamanya tinggal disana.
Setelah diskusi panjang yang melibatkan Linda, keduanya memutuskan untuk sepenuhnya mengganti lingkungan Carie. Ini bukan upaya untuk lari dari masa lalu, sebab Carie telah cukup berani menghadapi masa lalunya selama dua tahun terakhir. Namun, lingkungan yang sekarang memang dirasa tak lagi cocok untuknya. Terlebih, Carie ingin tinggal bersama Tania—ibu Eric—satu-satunya sosok orang tua yang tersisa dari lingkaran pertemanan mendiang ayahnya.
Carie memberikan kepercayaan sepenuhnya terkait perusahaan ke Andrea, Amanda dan Ayah dari Amanda. Sementara itu, Eric—yang selama masa menghilangnya ternyata berjuang menjual perusahaan komunikasi ayahnya demi kondisi kesehatan Tania yang menurun—berhasil melepas aset tersebut dengan harga fantastis. Hasilnya ia gunakan untuk menjamin masa depan ibunya serta membangun kantor pengacara di London Raya.
Malam ini seharusnya menjadi malam pengantin mereka yang romantis, itulah yang sebenarnya Carie harapkan. Namun, rencana itu sedikit bergeser gara-gara Andrea—si kupu-kupu sosial yang energinya seolah tak pernah habis. Ia tiba-tiba mengadakan reuni dadakan yang mengundang teman kampus, rekan kantor lama, hingga relasi bisnis saat ini dia dan Eric. Tujuannya satu: merayakan pernikahan sekaligus perpisahan bagi Eric dan Carie.
Di tengah malam yang berangin dan tampak akan turun hujan, Carie berdiri termenung sembari menggenggam segelas air putih. Ia mengenakan gaun putih berlengan panjang dengan motif bunga kecil berwarna kuning dan hijau yang tersebar halus, memberikan nuansa segar sekaligus manis. Gaun berkerah tinggi itu tampak sopan namun tetap modern, pas di pinggang dengan rok pendek bertumpuk (ruffle) yang memberikan kesan ringan dan flowy.
Rambut hitam panjangnya terurai bergelombang tanpa aksesori apa pun, memperkuat kesan natural. Riasannya pun minimalis, menonjolkan kulit cerah, alis rapi, dan warna bibir yang lembut. Dipadukan dengan sepatu hak tinggi putih yang senada, seluruh penampilannya terlihat begitu harmonis dan elegan. Di pojok ruangan itu, Carie hanya bisa memandang sekeliling dengan sedikit malu-malu, merasa asing di tengah kerumunan orang yang tak sepenuhnya ia kenali.
"Semua ini gara-gara Andrea," batinnya dalam hati. Pria itu tampak sibuk bicara ke sana kemari seolah tak pernah kehabisan kata-kata, hingga membuat Eric terjebak dalam obrolan yang tak berujung.
“Dasar Andrea,” gumam Carie dengan mata memicing kesal. “Lama-lama aku—”
“Lama-lama aku robek juga mulutnya!” umpat Amanda yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Carie. Tak hanya menyerobot sumpah serapah Carie, ia ternyata juga sedang menyimpan kekesalan yang sama terhadap kekasihnya itu. Matanya menyala dan giginya gemeretak gemas menahan emosi.
“Berantem lagi?” celetuk Carie singkat.
Bertolak belakang dengan Carie dan Eric yang tak ingin mengadakan acara apapun untuk pernikahan mereka, Andrea dan Amanda yang sudah merencanakan pernikahan mereka selama berbulan-bulan justru terus menerus terlibat perbedaan pendapat. Sementara Amanda menginginkan pernikahan yang intimate, Andrea—yang memang hobi mengumpulkan orang—ingin mengundang tamu sebanyak-banyaknya. Namun, itu hanya satu dari sekian banyak hal yang mereka perdebatkan, yang sering kali tak sepenuhnya Carie pahami tiap kali Amanda mencurahkan isi hatinya.
Dari kejauhan, Eric menoleh. Suami. Menggunakan sebutan itu dalam hati saja sudah cukup membuat Carie merasa meleleh; tubuhnya mendadak hangat dan pipinya merona merah. Melihat gelagat sang istri, senyum tipis tersungging di bibir Eric. Ia pun segera berpamitan kepada semua orang di hadapannya.
Tentu saja, Andrea mencoba menahannya. “Sebentar lagi lah, baru juga jam delapan!”
Eric menggeleng mantap. Ia memegang bahu Andrea dan berbisik tepat di telinganya. “Sekarang gue sudah punya istri!” kekehnya meledek. Ia tahu benar Andrea sedang bertengkar dengan Amanda, itulah sebabnya dia ingin berlama-lama di sekitar para pria demi menghindari omelan sang kekasih.
Sementara Andrea mendengus jengkel, Eric yang hari ini tampil rapi dengan kemeja putih dibalut cardigan rajut hitam terkancing rapat, dipadukan dengan celana bahan dan gesper kulit, berjalan menghampiri Carie.
“Come on, Dear!” Eric mengulurkan tangannya, meminta untuk diraih.
Carie tak sekadar meraih telapak tangan itu; ia justru langsung memeluk lengan Eric dan berpegangan erat-erat, persis seperti seekor panda yang mendekap batang bambu.
“Duluan ya, sampai ketemu besok!” seru Carie kepada Amanda yang masih merengut menatap punggung Andrea dari kejauhan.
***
Hujan deras mengguyur tanah hingga menciptakan kubangan-kubangan air yang menyatu bak kolam kecil. Saat Carie turun dari mobil dan berlari, suara petir yang menggelegar membuatnya tersentak kaget. Ia buru-buru masuk ke dalam rumah Eric sembari menepuk-nepuk tepi gaunnya yang basah kuyup.
Tanpa membuang waktu, ia langsung masuk ke kamarnya—kamar yang ia tempati selama seminggu terakhir sejak tinggal bersama Eric—untuk mandi air hangat dan menenangkan pikirannya. Namun, usai mandi, Carissa justru makin dirundung kebingungan.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mereka sudah berstatus suami istri secara hukum, meski upacara pernikahan baru akan digelar di London. Lantas, bagaimana seharusnya mereka bersikap? Perlukah ia memindahkan bantalnya ke kamar Eric? Apakah normal jika ia tetap bertahan di kamarnya sendiri seperti seminggu belakangan? Sambil menggosok kepalanya dengan handuk, Carie berpikir keras, namun tak kunjung menemukan jawaban.