Setelah menyadari bahwa yang berdiri di balik pintu adalah Ibu Sari, Carie langsung melompat turun dari pangkuan Eric dengan gerakan secepat kilat. Wajahnya yang tadi memerah karena gairah kini berganti menjadi kepanikan yang lucu. Dengan jemari gemetar, ia buru-buru merapikan kemejanya, mengancingkannya satu per satu hingga ke kerah paling atas. Ia bahkan menarik kerahnya lebih tinggi, khawatir ada jejak kemerahan hasil ciuman Eric yang tertinggal di leher atau tulang selangkanya.
Eric pun tak kalah sibuk. Ia segera bangkit, menyalakan semua lampu ruangan hingga suasana dapur dan ruang keluarga kembali terang benderang, lalu berlari ke arah pintu depan dengan nafas yang masih terengah-engah.
“I-ibu? Ya ampun, kenapa tidak mengabari dulu?” sapa Eric saat membuka pintu. Sosok Sari berdiri disana, sedikit basah karena tampias hujan, namun wajahnya memancarkan ketulusan yang sama seperti biasanya.
“Ibu kepikiran... kalian berangkat besok, tapi Ibu masih kangen sama Carie,” jawab Sari lembut.
“Ibuuuuu!” seru Carie ceria. Ia berlari kecil menghampiri dan langsung memeluk tubuh Sari erat-erat, seolah mencari perlindungan dari rasa canggung yang baru saja ia alami. “Ayo kita ngobrol, ayo ke kamar aku saja!” ajaknya sambil merangkul bahu Sari, berusaha mengalihkan perhatian dari ruang keluarga tempat "kejadian panas" tadi berlangsung.
Namun, kaki Sari bergeming. Ia tak lantas mengikuti langkah Carie, melainkan menoleh ke arah Eric dengan tatapan serius namun hangat. “Sebentar, Ibu ada yang mau diobrolin sama Eric. Kamu ke kamar duluan saja, ya?”
“Oh, okay!” jawab Carie pelan, perlahan menurunkan tangannya dari bahu Sari.
Sambil berjalan gontai ke arah kamar, ia menoleh sekali lagi ke arah Eric. Wajahnya menunjukkan ekspresi cemberut yang luar biasa menggemaskan; bibir bawahnya maju ke depan, sementara sudut bibirnya melengkung turun—sebuah protes bisu karena momentum indah mereka harus terhenti secara tragis.
Eric berusaha keras menahan tawa sampai hidungnya berkerut dalam. Ia tahu betul apa yang ada di pikiran istrinya yang "liar" itu. Sejujurnya, ia pun sangat menyayangkan kegiatan mereka harus terhenti di tengah jalan, namun wanita di hadapannya ini adalah sosok yang sangat berarti. Sari adalah orang yang membesarkan Carie sejak kecil, terutama selama satu dekade terakhir. Menghormati Sari adalah prioritas utamanya.
“Mari, Bu. Silakan duduk,” ajak Eric dengan sopan sembari mempersilakan Sari menuju ruang tamu. Matanya sempat melirik ke arah punggung Carie yang menghilang di balik pintu kamar dengan langkah lesu.
“Maaf Ibu mengganggu,” ucap Sari setelah duduk. Nada bicaranya menunjukkan bahwa ucapan itu bukan sekadar basa-basi. Ia nampaknya menangkap gelagat kikuk Eric dan Carie, bahkan bisa menebak apa yang tengah mereka lakukan sesaat sebelum kedatangannya.
“Nggak, Bu, sama sekali tidak. Aku buatkan minum dulu, ya?” Eric hendak beranjak menuju dapur.
“Nggak usah,” tahan Sari cepat. “Duduk aja.” Ia menepuk permukaan sofa di sebelahnya, mengisyaratkan Eric untuk duduk di sana.
Eric pun menurut. Ia duduk di samping Sari dengan posisi tubuh sedikit menyerong, siap mendengarkan.
Dari dalam kamar, Carie yang sengaja membiarkan pintunya tak tertutup rapat, mengintip melalui celah. Ia didera rasa penasaran yang hebat mengenai apa yang akan mereka obrolkan. Namun sayang, meski ia berusaha keras menguping, suara hujan deras dan gelegar petir di luar membuat usahanya sia-sia. Tak ada satu kata pun yang tertangkap oleh indranya.
Sari meraih salah satu tangan Eric dengan kedua tangannya, lalu meletakkannya di atas pahanya sendiri sembari menepuk-nepuknya perlahan.
“Mungkin Ibu sudah pernah bilang, tapi Ibu tidak akan bosan berterima kasih sekaligus meminta maaf sama kamu atas semua yang telah lalu. Ibu gak bisa membayangkan bagaimana hidup Carie tanpa kamu. Saat kamu datang ke kampung untuk meminta izin menikahi Carie, rasanya jantung Ibu mau pecah saking senangnya.”
Eric menyimak setiap perkataan itu dengan penuh hormat.
“Seperti yang pasti kamu tahu, Carie itu kuat di luar namun sangat lembut di dalam. Kalian sebenarnya memiliki sifat yang mirip sekali. Saking miripnya, Ibu sampai takut kalau kalian sama-sama keras kepala, siapa yang nantinya mau mengalah?”