"Apa, anj*ng?"
Lynne menatap garang pada wanita di hadapannya. Keadaan warung madura yang ramai pun mendadak sepi. Para pengunjung memusatkan perhatian mereka padanya.
"Lu yang apa, Any*ng! Liatin muka gue segitunya! Suka lu sama gue?" jawab wanita blonde di hadapan Lynne.
"Hah?" Lynne terkekeh kecil mendengar ucapan si blonde itu. "Liatin? Suka? Anj*ng, kerupuk di topeles buluk itu lebih menarik mata gue daripada wajah lu yang full of dempul!" lanjutnya.
"Sia wani, anj*ng?" (Lo berani, anj*ng?)
Si blonde merasa tersinggung dengan ucapan Lynne. Ia mendekat dan siap bertengkar lebih jauh lagi.
"Remeh, anj*ng! Diadu jeung aing!" (Kecil, anj*ng. Berantem sama gue!)
Lynne menarik kerah jaket si blonde hingga mereka berada sedikit jauh dari warung. Tangan kecil Lynne mencampakkan kerah jaket si blonde hingga wanita itu goyah dalam pijakannya.
Mata Lynne masih menatap nyalang pada wanita tersebut. Sedangkan si blonde seperti gelisah karena tidak menyangka jika Lynne akan berani membawanya keluar dan tidak mempedulikan keadaan sekitar yang memang ramai. Lagi-lagi mereka pun menjadi pusat perhatian.
Keadaan warung di pinggir jalan ramai oleh pengunjung, banyak kendaraan yang lewat pun tidak menggentarkan keberanian Lynne untuk membasmi cecunguk yang mengganggunya.
Meski wajah Lynne terlihat lugu, tapi keberanian Lynne jauh dari penampilan yang orang lain lihat.
"Ngomong, anj*ng!" kata Lynne.
Suaranya rendah, pelan, tapi syarat akan ketegasan. Mata bulatnya terlihat mengintimidasi lawan.
"Sia nu ninggalikeun wae aing, anj*ng! Maksud na naon?" (Lu yang liatin gue mulu, maksudnya apa?) tanya si blonde.
Lynne kembali terkekeh kecil.
"Sia boga naon, aing nanya?" (Lu punya apa, gue tanya?) balas Lynne.
"Gue cantiklah anj*ng!"
Mendengar jawaban si blonde membuat Lynne semakin terkekeh.
"Terus lu harus banget jadi pusat perhatian? Gila sih, ngeri pede lu keren abis!" kata Lynne seraya bertepuk tangan.
"Maksud lu?"
"Inget, jing! Di atas langit masih ada langit! Dengan tampilan lu kek gini, kalau pun gue lesbi, gue mikir-mikir buat suka sama lu!"
Si blonde melotot kesal mendengar jawaban Lynne yang keterlaluan. Kata-katanya adalah sebuah penghinaan halus untuk si blonde, hingga refleks si blonde menampar wajah Lynne cukup keras.
"Bego, any*ng!" gumam Sky yang sejak tadi memperhatikan keduanya di atas motor depan warung.
Sejak tadi ia diam, melihat kelakuan Lynne yang sudah biasa seperti itu jika ada yang mengganggunya. Namun, jika pertengkaran sudah kelewatan, ia pun akan ikut bertindak untuk memisahkan.
Sky itu kekasih Lynne. Ia memperhatikan pertengkaran kekasihnya dengan sebatang rokok di tangan. Melihat Lynne ditampar oleh lawan, alarm bahaya Sky pun menyala. Bukan khawatir akan keselamatan Lynne, malah sebaliknya. Ia terlalu paham karakter dan sifat Lynne selama ini. Buru-buru Sky mematikan rokok yang ia hisap dan turun dari motornya.
"Sadar diri goblok! Gak selamanya orang memusatkan perhatian sama lo! Harusnya lo berterima kasih sama gue karena gue nyadarin sikap lo! Meski lo cantik, tapi etika lo nol! Pede lo ketinggian anj*ng!"
Bukan sekali, tapi berkali-kali Lynne memukul wajah si blonde hingga ia terjatuh ke aspal yang dingin.
Lynne itu tipikal wanita yang tidak pernah memulai perdebatan. Namun, jika ia diusik, jangan salahkan Lynne jika ia kehilangan kendalinya.
Melihat pertengkaran itu, semua orang yang melihat pun mencoba memisahkan mereka. Namun, Lynne tidak sama sekali berhenti memukuli si blonde meski wanita itu sudah menjerit kesakitan dan menangis histeris seakan ia tengah disiksa. Lynne tidak peduli, ia hanya ingin membalaskan apa yang sudah si blonde perbuat padanya. Ia tidak mendengar seruan orang lain yang menyuruhnya berhenti, telinganya seolah tuli. Namun, saat tangan besar Sky menarik lengan kecilnya, barulah Lynne berhenti dan menatap nyalang si blonde dengan nafas yang memburu.
"Lu yang mulai pukul gue! Jangan berasa jadi korban, bitch!" ucap Lynne dan pergi mengikuti Sky dengan tangan mereka yang masih berpegangan erat.
Niatan belanja keperluan untuk makan pun berakhir ricuh. Sky lebih baik membawa Lynne pergi dari sana, dan memilih warung lain untuk mereka kunjungi.
Motor matic Sky melaju pelan, tapi kedua tangan Lynne memeluk pinggangnya dengan erat. Kepala Lynne pun tersimpan apik di bahu pria itu. Sekejap, tidak ada obrolan yang terjadi. Sky membiarkan Lynne mengolah emosinya terlebih dahulu, dan Lynne terlalu malas jika harus bicara panjang lebar dengan Sky saat ini. Ia hanya butuh menenangkan diri, tanpa pembelaan atau pun kalimat lembut dari bibir kekasihnya.
Sampai di warung kedua, Lynne turun dari motor. Kali ini Sky pun ikut turun. Takut kejadian barusan terjadi lagi di warung ini.
Mereka berbelanja kebutuhan yang ingin mereka beli, setelah itu mereka kembali pulang ke kosan.
"Duduk aja, biar aku yang masak!" ucap Sky saat Lynne membuka pintu kamar kos.
"Hmm, oke," jawab Lynne tersenyum manis.
Ia berbaring di kasur tanpa dipan. Matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Ingatannya mereka ulang adegan ributnya dengan si blonde tadi. Sebenarnya, Lynne belum puas. Ia masih ingin memberi pelajaran pada wanita pick me tadi, tapi Sky malah turun tangan. Mau tidak mau ia harus menyudahi kesenangannya.
Lynne itu bukan tipikal wanita kasar dalam bertindak. Namun, jika ada yang berani mengusiknya lebih dulu, Lynne akan kehilangan kendali dirinya sendiri. Bahkan lebih ganas dari orang yang memulai pertikaian, dan Sky selalu menjadi air di saat semua itu terjadi.
Lamunan Lynne buyar saat tangannya terasa dingin. Matanya menoleh pada kekasihnya yang sedang membalutkan handuk basah pada tangan yang dipakai Lynne untuk memukul tadi.
"Merah, sakit, kan?" ucap Sky.
"Sedikit," jawab Lynne.