SkyLynne

Ayang Afrianti
Chapter #2

2

Pukul dua siang, Lynne baru sampai di polres kota Sukabumi. Dengan tampilannya yang tenang, Lynne disambut oleh beberapa anggota kepolisian di sana. 


Di ruang pemeriksaan, duduk Ezra, keponakan keduanya yang masih duduk di bangku dua SMP, menunduk takut saat melihatnya datang. Lynne tidak bertanya sedikit pun pada Ezra, ia fokus menghadap polisi yang sedang berbicara di hadapannya. 


"Sebelumnya, maaf mengganggu waktunya, Mbak," ucap seorang polisi bernama Irwan dengan senyuman kecil pada Lynne. 


"Ini Mbak Lynnea Virly? Benar? Orang tua dari anak Ezra Mahesa?" tanyanya lagi.


"Benar, tapi saya walinya, Pak," jawab Lynne membuat polisi tersebut terdiam. 


"Orang tua Ezra tidak ke sini?" 


"Tidak apa, saya yang bertanggung jawab atas hidup dan semua kebutuhannya. Jadi anggap saja saya orang tuanya," kata Lynne lagi.


"Tapi harus orang tua, Mbak yang datang mengambil anak Ezra," ucap polisi tersebut membuat Lynne jengah. 


Tanpa banyak bicara, Lynne membuka room chat bersama keponakan sulungnya dan menunjukkan pada polisi tersebut. 


"Orang tuanya tidak berguna. Datang ke sini pun hanya menangis tanpa bisa menebus, katakan saja apa yang sudah keponakan saya lakukan, biar segera selesai. Perjalanan dari Bandung ke sini lama sekali, saya sudah tidak punya energi untuk bicara banyak."


Lynne dengan sikap tenang namun tegas membuat Irwan terdiam. Sedikit tidak sopan, tapi Lynne tidak ingin terlalu banyak basa-basi dengan polisi yang akan menguras kantongnya sebentar lagi. 


"Baik kalau begitu," ucap Irwan lalu mnejelaskan jika Ezra ditangkap akibat mengedarkan obat-obatan terlarang. 


Ezra ditangkap di sekolah akibat ketahuan oleh gurunya sedang bertransaksi dengan beberapa temannya di toilet sekolah. Saat itu pihak sekolah segera melaporkan hal ini pada kepolisian agar membuat Ezra jera. Beberapa anak yang membeli obat-obatan dari Ezra pun ikut tertangkap, hanya saja mereka sudah dijemput oleh orang tua mereka dan kini tinggal Ezra sendiri. 


Mendengar hal itu tentu saja membuat Lynne terkejut setengah mati. Bahkan Lynne lupa caranya bernafas untuk beberapa saat. Ia menatap keponakannya yang masih menunduk di sampingnya. Rasa kecewa sudah tidak bisa dibendung lagi oleh Lynne. Ia ingin berteriak memaki, memukuli keponakannya ini saat itu juga. Namun, Lynne tidak bisa berbuat hal itu di depan orang lain. Setidaknya, Lynne harus bersikap layaknya orang tua yang menghargai anaknya di mata orang lain. Namun, tanpa diduga anaknya sendiri yang mencoreng harga dirinya hingga ditangkap dan ditahan oleh kepolisian.


"Sudah dicek, Pak? Apa dia juga mengkonsumsi atau tidak?" tanya Lynne kembali pada topik pembicaraan.


"Sudah, hasilnya negatif."


"Mampus!" batin Lynne dalam hati. Ia sudah cukup tahu jika pengedar akan lebih berat hukumannya dibandingkan dengan pemakai. 


"Jadi, berapa uang yang harus saya berikan agar anak ini dilepaskan?" tanya Lynne pula.


Sikap tenangnya berhasil menutupi hatinya yang sedang porak-poranda, bahkan otaknya saja sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia hanya ingin masalah ini segera selesai dan pulang ke rumah. 


"Sepuluh juta rupiah, Mbak. Karena anak Ezra sudah dinobatkan sebagai pengedar. Dan hukuman pengedar lebih berat dari pemakai," kata Irwan lengkap dengan menyebutkan pasal UU yang berlaku. 


Mendengar nominal yang tidak sedikit itu membuat Lynne menghela nafas. 


"Tidak bisa kurang, Pak? Saya meminta kebijakan dari Bapak dan semua yang ada di sini," katanya pula.


Irwan terdiam. 


"Jaminannya gini, deh, Pak. Saya akan berusaha untuk mendidik bocah ini biar bisa kembali hidup dengan baik. Kalau semisal suatu hari nanti dia tertangkap lagi, terserah Bapak mau ditindak seperti apa pun," lanjut Lynne berusaha bernegosiasi. 


Mendengar ucapan tantenya, Ezra pun tercengang dan menatap Lynne sesaat, setelah itu kembali menunduk. 


"Baiklah, saya beri keringanan. Tujuh juta rupiah untuk menebus anak Ezra agar bebas," kata Irwan lagi. 


Lagi-lagi Lynne menghela nafas. Hari ini ia harus mengeluarkan uang sebanyak tujuh juta hanya untuk menebus keponakan biadabnya. Karena Lynne tidak ingin lagi memperpanjang pembicaraan, ia pun akhirnya membayar dengan nominal tersebut. Lalu berterima kasih yang entah untuk apa sebenarnya. Setelah itu ia pamit pulang dengan Ezra yang berjalan di belakangnya.


Kepala Lynne sudah tidak bisa dibendung lagi rasa sakitnya. Masalah Ezra selesai, ia memesan taksi seraya membaca puluhan pesan dari Sky. Tanpa berniat membalas, ia hanya mengirimkan sebuah foto dirinya dengan latar belakang kantor polres Sukabumi. Mungkin itu bisa membungkam Sky untuk sesaat. Namun, ternyata dugaannya meleset. Sky malah menerornya dengan telepon yang tiada hentinya.


Dalam perjalanan pulang, Lynne mau pun Ezra tidak membuka pembicaraan sedikit pun. Mereka duduk berdampingan dalam diam. Lynne berusaha mengatur amarahnya agar tidak membludak pada keponakannya, sedangkan Ezra terlalu takut untuk memulai bicara. 


Sesampainya di depan rumah, Lynne membayar taksi dan barulah di sini ia menyeret Ezra masuk ke dalam rumah kakaknya. Keluarga yang sudah menanti di luar pun tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya bisa menangis melihat Ezra dan Lynne di dalam rumah.


"Lu ngelakuin ini buat apa gue tanya? Hah?" tanya Lynne tidak bisa lagi membendung emosinya.


Ezra hanya bisa duduk diam, tanpa berani melawan. 


"Jawab, anj*ng!" bentak Lynne. 


"Lu kurang apa? Hah? Biaya sekolah gue cukupin, jajan lu gue cukupin, baju, hp, laptop, keperluan yang lu butuh, gue cukupin! Dan sekarang lu balas taik sama gue?" lanjut Lynne mengungkapkan segala kekecewaannya. 


"Lu dokter, hah? Kalau lu ngerasa lu dokter, obatin gue! Obatin ayah lu sana!" teriak Lynne. "Ada gilanya lu ternyata! Anak yang gue gedein, gue urus, malah jadi sampah buat gue! Mau lu apa sih, hah?" lanjutnya.


"JAWAB, EZRA!" 


Bentakan Lynne terdengar hingga keluar. Bahkan tetangga terdekat pun mencoba untuk masuk dan melerai Lynne, tapi ayah mencegah dan membiarkan Lynne mengungkapkan kekesalannya pada Ezra.


"Aku cuman mau bantu mama ngasilin duit!!" jawab Ezra, cepat dan bergetar. 


"Ngasilin duit? Buat apa? Hah?" 


Ezra tertunduk tanpa menjawab kembali pertanyaan Lynne. 


"Lu denger baik-baik. Tanpa lu kerja, orang tua lu, termasuk bapak lu yang stress itu, udah tercukupi dengan kehadiran gue! Gue hidup buat lu pada! Tugas lu cuman satu, sekolah yang bener! Jadi panutan buat adik-adik lu! Gue, orang tua lu pun gak butuh dengan duit haram yang lu hasilin. Akhirnya apa? GUE JUGA YANG KENA!" kata Lynne. Nafasnya memburu, dadanya terasa sesak akibat kekealan yang memuncak. 


"Gue kerja cuman buat hidupin lu! Gue minta lu cukup sekolah yang bener, belajar! Jangan mikirin masalah biaya hidup! Gue mau hasil kerja gue jadi berharga, bukan malah jadi taik! Sekali lagi lu nyampah dan ngerugiin gue! Jangan harap gue mau nebus lu, dan belain lu lagi!" 

Lihat selengkapnya