SkyLynne

Ayang Afrianti
Chapter #3

3

Orang bilang seringnya bertengkar dalam hubungan adalah tanda sebuah keawetan hubungan tersebut. Meski rasa lelah, jengah, dan bosan pasti melanda kuat hingga tidak bisa lagi dijabarkan. Namun, untuk perpisahan itu sendiri rasanya sulit untuk dilakukan. Bahkan ketika kekerasan terjadi dalam sebuah hubungan, perasaan orang itu pasti akan memutuskan dan kembali memiliki hidup normal dan baik-baik saja. Namun, lagi-lagi, perasaan untuk mengakhiri semuanya itu susah. Bahkan kekerasan dan rasa sakit itu seolah sudah menjadi candu untuk dirinya sendiri.


Seperti Sky dan Lynne, hubungan bertahun-tahun mereka hanya berisi pertengkaran. Bisa dibilang delapan puluh persen bertengkar dan dua puluh persen akur. Akan tetapi, mereka tetap saling menyayangi satu sama lain, terutama Sky yang sudah menganggap Lynne sebagai rumahnya. 


Kepelikan dalam keluarga membuat Sky menjadi pria dingin dan mempunyai kelemahan tersembunyi yang hanya bisa dilihat oleh Lynne saja. Mungkin di mata orang lain, Sky akan terlihat seperti dominan yang garang dan berani adu tinju dengan siapa pun. Namun, di mata Lynne, Sky hanyalah seorang anak laki-laki yang butuh akan pengakuan, perhatian, dan pelukan hangat. 


Selama ini keluarga Sky mengabaikannya. Tidak pernah menyuruhnya pulang, tidak pernah menanyakan keberadaan atau kabarnya sekali pun. Sekali pun Sky memberitahu jika dirinya sakit, ibunya hanya akan menjawab jika Sky harus minum obat dan menjaga kesehatannya. Lalu yang kerepotan siapa? Tentu saja Lynne. 


Lynne tidak pernah tidur hanya untuk menjaga Sky yang sedang sakit. Lynne tidak pernah memegang pekerjaannya agar Sky tidak merasa sendirian. Karena mengurus Sky yang sedang sakit lebih-lebih dari mengurus bayi demam. Manjanya tidak pernah ada yang bisa menandingi. Kadang Lynne kewalahan dan kesal, tapi karena sayang, ia pun akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang.


"Kenapa?" tanya Lynne. Ia terbangun karena mendengar suara isak tangis yang terbawa mimpi. 


Pikiran Lynne sudah horor sejak tadi. Karena di kosan ini tidak jarang ia mendengar suara-suara gaib seperti itu. Namun, ketika ia membuka mata, ia melihat Sky terduduk di sampingnya, membelakanginya dengan bahu yang terguncang.


"Nggak apa-apa, tidur aja," jawab Sky seraya mengusap air matanya.


Jika menurutkan keegoisannya, inginnya Lynne tidur. Karena baru beberapa jam saja ia tertidur setelah pertengkaran tadi. Bahkan ini sudah hampir menjelang pagi, tapi Sky masih belum juga memejamkan mata. 


"Sini, peluk!" ucap Lynne merentangkan tangannya. 


"Nggak, tidur aja."


"Kumaha sia we anj*ng!" [Terserah lu aja anj*ng] maki Lynne lalu membelakangi Sky dan kembali tertidur. 


Pasti orang sekilas akan menyangka Lynne itu wanita yang kejam. Namun, jika kalian menjadi Lynne, pasti kalian tahu alasan kenapa ia bersikap seperti itu.


Pertama, Lynne sudah tahu gelagat Sky. Pria itu akan menangis sejadinya seorang diri, lalu akan bercerita di lain waktu. Jika memang ia sedang membutuhkan Lynne, Sky akan bilang dan menangis di pelukannya. Namun, jika Sky sedang ingin sendiri, ia akan bersikap demikian. 


Lalu kenapa Lynne marah saat Sky menolak? Logika saja, orang sedang tidur, terganggu dengan suara, lalu kepeduliannya ditolak begitu saja. Lynne bukan manusia biasa, ia pun mempunyai emosi dan rasa jengah tingkat tinggi. Maka yang ia lakukan adalah mengumpati Sky. 


Namun, tenang saja. Itu hanya sementara. Pagi nanti juga akan kembali biasa lagi, itu pun jika Sky bisa dibangunkan dengan mudah. 


-------


Entah jam berapa Sky tertidur, saat Lynne bangun, ia melihat Sky sudah memejamkan mata di sampingnya. Tangan lentik Lynne segera mengambil ponsel Sky yang berisik akibat suara alarm. Inilah kekesalan Lynne selanjutnya. Sky itu selalu menyetel alarm di pagi buta,, sedangkan ia sendiri bangun di menit ke lima puluh sebelum keberangkatannya kerja. 


Wanita mana yang tidak kesal dengan keadaan berulang seperti ini? Terkadang Lynne ingin membantingkan barang ke kepala Sky dan memakinya habis-habisan. Namun, itu tidak akan mempan, Sky masih dengan kebiasaannya susah untuk bangun. Lalu apa yang akan dilakukan Lynne? Ia hanya membiarkan dan membangunkan Sky sesuai kebiasaannya bangun. 


Lynne akan beraktivitas seperti biasa, membuat sarapan, makan, lalu bekerja. Setelah waktunya tiba, barulah Lynne akan membangunkan Sky. Karena jika dibangunkan dari sekarang, itu hanya akan membuang energinya. 


Sedikit demi sedikit Lynne sudah terbiasa dan mulai berdamai dengan kebiasaan Sky. Jika Sky tidak bisa mengikuti pola teraturnya, Lynne akan mengikuti pola acak Sky sampai kapan pun. Seberantakan apa pun, Lynne akan menjalaninya dengan lapang dada.


"BANGUN ANJ*NG!!!!"


Ternyata pemikiran tadi hanya keinginan belaka. Kesal tetaplah kesal. Tidak bisa lagi Lynne berdiam diri melihat kekasihnya masih terlelap di tengah waktunya yang semakin menipis untuk pergi kerja. Alhasil sebuah bantal mendarat di kepala Sky dan cukup membuat Sky terjaga.


Iya, hanya terjaga. Pria berhidung mancung itu hanya menatap Lynne dengan tatapan kosong lalu kembali tertidur seraya mengubah posisi tidur.


Demi Tuhan, Lynne jengah. 


"Tolong teleponin Sky sampai diangkat."


Lynne akhirnya mengirimkan pesan pada teman kerja Sky. Namanya Kaira. Sejauh ini Kaira tahu siklus hubungannya dengan Sky, dan saat Lynne meminta tolong seperti itu, Kaira pikir mereka sedang bertengkar. Padahal Lynne hanya meminta bantuan agar Sky bangun.


Lynne tidak menceritakan tujuannya meminta bantuan Kaira. Ia hanya mengatakan jika Kaira perlu menghubungi Sky beberapa kali. Namun, dering ponsel pun tidak membangunkan Sky. Tadinya, Lynne pikir dengan adanya telepon dari rekan kerjanya, Sky akan bangun dan segera pergi karena ada hal penting yang harus ia lakukan. Namun, hasilnya nihil. Sky masih dengan mimpi indahnya.


Pukul delapan lewat lima menit, barulah Sky bangun dengan buru-buru. Ia mengambil ponselnya dan segera melihat jam. Lynne sendiri sudah stand by di depan komputernya untuk bekerja. Ia tidak mempedulikan Sky sama sekali. Sepertinya Sky juga sudah tahu kesalahannya, ia hanya bangkit dan pergi mandi. 


Setelah selesai mandi, Sky menatap Lynne seolah tengah merasakan kemaraha. Ia memakai baju dan bersiap dengan keadaan mata yang menatap Lynne seolah ingin menguliti hidup-hidup. Sadar akan tatapan kekasihnya, Lynne pun mengalihkan atensinya dari layar monitor dan menatap Sky seolah bertanya.


"Ngapain lu chat temen gue? Nyuruh nelepon segala!" tanya Sky.


Oh, karena itu, batin Lynne. 


Ia tersenyum lebar sebelum menjawab.


"Biar lo bangun!" jawabnya singkat.


"Emang harus?"


"Harus. Siapa tahu lo bangun kalau temen kerja lo yang nelepon. Salah?" 


"Salahlah anj*ng! Teu mikir!" [Gak mikir!] bentak Sky membuat Lynne tertawa sarkas.


"Iya, emang gue gak mikir. Kalau begini aja gue dibilang gak mikir, terus apa kabar lo?" tanya Lynne seketika tawanya hilang dan balas menatap Sky dengan tajam.

Lihat selengkapnya