SkyLynne

Ayang Afrianti
Chapter #4

4

"Pulang nanti aku mampir ke rumah mama," kata Sky siang itu melalui panggilan telepon.


"Iya."


Hanya itu yang Lynne katakan. Ia tidak pernah melarang Sky untuk melakukan apa pun. Bahkan jika pria itu ada rencana pergi pun Lynne tidak pernah melarang. Lynne memberikan kebebasan pada Sky. Namun, jika pria itu macam-macam, tentunya Sky sudah tahu apa konsekuensinya. Lynne tidak pernah sayang untuk ditinggalkan atau meninggalkan jika memang orang itu tidak memilihnya. 


Ternyata saat malam menjelang, Sky pulang dengan wajah suram. Tidak ada raut ramah seperti biasanya. Malah Sky hanya membuka pintu kamar dan duduk di ambang pintu dengan sepatu yang masih dipakai. Ia menyulut rokok dan menonton video di ponselnya. 


Seperti sudah tahu, Lynne pun tidak bertanya lebih jauh. Ia membiarkan Sky dengan dunianya. Ia tahu jika ada yang terjadi antara Sky dan keluarganya. Mungkin saja pertengkaran perihal uang atau hal lainnya, Lynne tidak mau ikut campur lebih dalam. 


Lama mereka membisu. Lynne mengalihkan tatapannya dari layar monitor. Wanita yang mempunyai mata bulat itu melirik pada Sky. Mengukur keadaan dan suasana, apakah sudah aman atau belum. 


"Kenapa?" tanya Lynne, tapi fokusnya kembali pada monitor seolah ia tidak terlalu berharap jawaban dari Sky.


"Hmm?"


Suara Sky lembut. Ia menoleh dan menatap Lynne yang membuat Lynne kembali menatapnya. Pria itu pun melepas sepatu dan menghampiri Lynne. Memeluk kekasihnya dari belakang dan menghirup seluruh energi positif seakan menghisap tenaganya agar kembali seperti semula.


"Kenapa?" tanya Lynne lagi.


"Mama butuh uang, padahal dia tahu aku belum gajian. Maksa lagi," jawab Sky.


Lynne terdiam. "Berapa memang?" tanyanya kemudian.


"Satu juta. Buat bayar ke sekolah," jawab Sky lagi melepaskan pelukan dan mengambil segelas air lalu meneguknya.


"Terus gimana?"


"Gak gimana, aku gak kasih, kamu juga tahu aku gak ada duit segitu. Buat makan aja sekarang kamu yang bayar. Memang gaji aku berapa?"


"Terus mama gimana?"


"Marah-marah, kayak biasa. Bilang aku gak ada nolong, dan yah begitu," kata Sky tersenyum miris saat mengingat ucapan ibunya. 


"Ya udah, biarin aja. Gimana lagi?" kata Lynne mencoba menenangkan. 


"Aku kesel aja. Biasanya kalau ada juga aku kasih. Kenapa harus bilang kalau aku gak pernah nolong? Terus selama ini jasa yang aku kasih itu ke mana?" 


Mendengar ucapan putus asa keluar dari bibir Sky, Lynne segera bangkit. Ia memeluk tubuh tinggi di hadapannya. Pelukan yang syarat akan ketenangan dan rasa aman. Bagi keluarga Sky mungkin ia tidak bisa menolong, tapi bagi Lynne, Sky itu segalanya. Di luar sikapnya yang menyebalkan, Lynne tulus menyayangi pria ini. 


"Udah, istirahat aja. Kita cari makan aja gimana? Aku gak masak," kata Lynne.


Sebenarnya ia ingin menawarkan uang sisa yang ia punya. Namun, mendengar orang tua Sky berucap seperti itu saja membuat niat baik Lynne jadi pudar. Terkadang Lynne tidak mengerti dengan pikiran orang tua mereka, kenapa harus selalu memaksa dan tidak pernah mengerti keadaan anaknya?


Ketika mereka meminta tolong, Lynne dan Sky sebagai anak dicap durhaka jika tidak bisa menolong. Sedangkan kabar mereka saja, orang tua mereka tidak pernah mau tahu. Apa hanya seorang anak yang bisa durhaka pada orang tua? Lalu apakah ada orang tua yang durhaka pada anaknya? 


Orang tua itu identik dengan sifat egois. Merasa dirinya melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membiayai. Menjadikan sebuah tuntutan pada anaknya ketika dewasa. Harus memulang jasa dengan apa yang ia dapatkan. Namun, bukankah membesarkan anak itu sebuah kewajiban? Mendidik, mengurus, dan membiayai, itu kewajiban orang tua tanpa harus dibalas budi. Bukankah kasih orang tua sepanjang masa? Tapi kenapa ada sebutan tidak mengenakan jika mereka tidak bisa ditolong? Bukankah seorang anak itu bukan sebuah investasi masa depan?


Untuk membalas jasa, sampai kapan pun anak ini tidak akan bisa membalas jasa yang sudah dikorbankan orang tua mereka. Mungkin saja ketika mereka dewasa dan mapan, mereka hanya bisa memberi sesuai dengan kemampuan, bukan membayar jasa yang kesannya menghidupinya hingga besar itu menjadikan sebuah hutang. Seolah hubungan anak dan orang tua di masa kini menjadi sebuah transaksional.


Ini Lynne yang salah membaca ilmu parenting, atau memang jaman dulu parenting yang orang tua mereka dapatkan itu berbeda? Namun, Lynne bisa belajar dari semua kejadian ini. Kelak jika ia mempunyai anak, ia tidak akan merepotkan. Lynne harus mempunyai dana pensiun untuk masa tuanya. Jangan sampai kejadian pada dirinya dan Sky harus dirasakan anak-anak mereka nantinya. 


"Aku mau es krim, kayaknya seger," ucap Sky. 


"Tapi hari ini udah makan nasi?" tanya Lynne. 


"Makan mie doang tadi."


"Ck, makan nasi dulu. Baru boleh makan es krim."


Sky cemberut, Lynne tertawa.


Percayalah, di tengah hubungan mereka yang penuh dengan drama, ada perasaan saling menjaga dan menyayangi pada keduanya. Lynne akan menjaga Sky, begitu pun sebaliknya. 


-----------


Mereka memutuskan untuk makan di sebuah restoran siap saji. Sky memesan beberapa menu yang membuat Lynne menggelengkan kepala. Porsi makan pria itu memang tidak pernah main-main. 


Di meja mereka terdapat beberapa macam makanan, di antaranya yaitu, satu piring nasi dengan sayap ayam bertabur saus gochujang milik Sky, lalu satu mangkuk sup ayam milik Sky, satu piring kentang goreng milik Sky, dan satu piring waffle ice cream milik Sky juga. Lynne hanya memesan satu piring nasi dengan dua potong ikan dori krispi bertabur saus mayones pedas. 


Melihat makanan begitu banyak yang Sky pesan, Lynne hanya menatapnya dengan tawa sumbang. Sementara Sky tersenyum lebar. 


"Ayo, makan!" ajak pria itu dengan semangat.


"Iya, ayo makan!" jawab Lynne tidak lagi antusias untuk makan. Karena melihatnya saja sudah membuatnya kenyang lebih dulu. 


Makan malam mereka diemani dengan musik band ternama yang terdengar dari pengeras suara rumah makan tersebut. Sesekali Sky dan Lynne ikut bernyanyi meski mulut mereka penuh dengan makanan. Lalu tawa terdengar karena apa yang mereka lakukan terlihat konyol di mata orang lain.


Selesai makan, Lynne dan Sky memilih untuk berdiam diri sebelum pulang. Tentu saja bukan hanya berdiam duduk di kursi seraya melihat orang lain makan. Mereka memilih untuk bermain game bersama di ponsel masing-masing. Hanya hal kecil sebenarnya, tapi ini berkesan untuk mereka berdua. 


Lihat selengkapnya