Pukulan yang tadinya hampir mendarat diwajah Virza tertunda karena teriakan si Bielka dari ujung jalan samping gedung olahraga. Dan ternyata itu adalah rombongan tim basket putri dan mereka pun menghampiri Faris dan Virza.
“Faris! Apa maksud lo mau nonjok-nonjok anak orang, emang lo pikir masih zaman ya main bully-bully begini, negara kita sensitif tahu gak sih lo, nenek maling rambutan milik anak kandungnya aja bisa masuk penjara, apalagi lo mukul orang tanpa sebab kayak gini,” ujar Bielka menceramahi si Faris.
Semua anggota basket putri pun mengiyakan perkataan dari kapten mereka dan membela kapten mereka. Sedangkan si Faris dan geng futsalnya malah terdiam bisu dengan apa yang dikatakan oleh Bielka pada Faris, namun Faris tak mau kalah.
“Ini bukan urusan kalian kali, kamu tuh-“
“Aku tuh apa?! hah? Emang kamu enggak takut sama polisi? Jangan sok jagoan deh Riss,” sergah Bielka memotong perkataan Faris.
“Cuih! Polisi? Panggil sono, papi gue juga polisi kali,” ujar Faris membalas perkataan si Bielka.
“Mentang-mentang papi lo polisi-“
“Beep! Beep!!” suara klakson dari mobil yang tepat berhenti didepan gerbang sekolah Dandelion.
Suara klakson mobil itu memotong perkataan Bielka yang sedang berdebat dengan si Faris. Dan keluar salah satu pria dengan atribut lengkap kepolisian dari pintu depan ke arah pintu belakang mobil lalu membuka pintu tersebut dan mempersilahkan seorang pria juga yang dengan atribut lengkap kepolisian juga turun dari dalam mobil itu.
Anehnya, saat melihat kedua polisi itu turun dari mobil tersebut dan beberapa ajudannya yang mengikuti mereka dari belakang, raut wajah Faris dan Virza berubah drastis seperti tak menyangka sama sekali, kedua pria dengan atribut polisi lengkap itupun menghampiri mereka.
Sementara anak-anak futsal dan basket putri tampak cemas karena menganggap mereka telah melakukan sebuah keributan atau pembullyan. Namun kecemasan itu pudar setelah Faris dan Virza secara bersamaan berkata.
“Ayah?!” ucap Virza tak menyangka.
“Papi?!” ucap Faris juga tak menyangka.
Mendengar keduanya memanggil kedua pria polisi itu dengan sebutan ayah, membuat semua anak futsal dan anak basket putri sangat terkejut, mereka tak menyangka bahwa ayahnya si Virza ternyata juga seorang polisi.
“Faris, jangan panggil Papi saat Papi sedang bertugas,” ujar ayahnya Faris pada anaknya.
“Ooh ... jadi ini anakmu, kelihatannya mereka sudah berteman,” sambung ayahnya Virza.
Virza yang dari tadi hanya santai dan tenang saat menghadapi Faris and the gangnya sekarang malah berubah menjadi sangat emosi dan menatap tajam ke arah ayahnya.