Sollac and Lavergne: Sink with Me

Megative
Chapter #2

Bab 1: Kelinci

"Dunia menarikku kembali, hanya untuk menghancurkanku lagi dan lagi.”Seyrna Lavergne,

Page 1.

Belte, Oktober

Ponselku bergetar lima menit yang lalu. Pesan singkat dari Paman: “Keluar sekarang.” Aku berdiri di trotoar yang masih basah oleh sisa hujan sore. Angin malam menusuk kulitku yang hanya dibalut gaun tipis—kostum yang dia minta. Di seberang jalan, lampu neon minimarket berkedip sekarat, seirama dengan detak jantungku yang melambat karena pasrah. Ada dorongan naluri di kakiku untuk berbalik dan lari. Lari ke mana saja. Ke dalam selokan, ke atap gedung, atau bersembunyi di tempat sampah. Tetapi keheninganku menahannya. Lari hanya akan menunda penderitaan, bukan menghapusnya. Jika aku menolak, Paman akan mengancam. Jika Ayah tahu ini, siksaan akan berlipat ganda. Deru halus mobil sedan mewah merayap pelan membelah udara yang dingin. Mobil itu berhenti tepat di depanku. Kaca jendela turun perlahan, memperlihatkan seringai Paman Tio yang disinari lampu dasbor.

"Masuk, sayang," katanya.

Aku menarik napas panjang, menghirup udara bebas terakhirku malam ini, lalu membuka pintu mobil. Aku melangkah masuk ke dalam lingkaran setan itu dengan sukarela. Aku tidak mencium bau Paman dengan hidung. Aku merasakannya di balik kulitku; bau napas basi berlendir yang bercampur dengan semburan eau de parfum mahal miliknya. Bau itu adalah alarm kimiawi yang secara patologis harus dipatuhi oleh sistem sarafku. Pikiranku, yang seharusnya menjadi rumah kewarasan, terasa seperti disewa dengan kontrak kebungkaman. Aku diusir dari sana.

Mesin mobil dimatikan di gang sempit dengan bunyi 'klik' yang sunyi. Gedung-gedung di luar membisu, seolah bayangan kota itu sedang menelan kami. Hukum moral tidak pernah berlaku di sini, Paman Tio adalah darah daging yang menjijikkan. Jari-jari gemuknya mulai menyusuri garis rahangku. Tindakan itu terasa seperti pengetesan kapasitas, bukan belaian. Aku tahu matanya, di balik keremangan di mobil itu ia memancarkan nafsu birahinya yang tak tertahankan. Paman merasa dialah pemilik hak atas tubuh ini—hak yang diyakininya telah dibeli melalui sebuah 'materi'.

"Tenang saja, Seyrna," bisiknya, suaranya tebal dan berliur.

“Kamu memang... mengundang, sayang.”

Kata "mengundang" itu adalah cambukkan, namun aku diam. Ini adalah aksioma yang selalu ditekankan oleh dunia kepadaku: pesona wajahku adalah dosa, dan lekuk tubuhku adalah undangan terbuka. Itu adalah kutukan genetik yang tidak pernah aku minta. Tubuh Paman mulai gemetar, dia melucutiku, mencumbuiku, mencium bibirku dengan tergesa-gesa seperti seekor karnivora yang takut mangsanya direbut. Dan akhirnya ia meraih alat kontrasepsi di atas dasbor mobil, dengan gerakan bersicepat seperti biasa.

Page 2.

Kabut datang. Cepat. Aku harus pergi.

Kabut yang selalu bisa menolongku bertahan. Aku tidak melawan, karena perlawanan berarti aku mengakui apa yang terjadi saat ini adalah nyata. Lebih mudah bagiku jika aku bisa menghilang tanpa jejak emosional. Aku pindahkan fokus pikiranku dari jok kulit mobil yang lengket dan bau keringat ini ke langit-langit apartemenku yang berjamur. Aku tidak di sini. Tubuhku? Itu hanyalah mantel pinjaman yang basah. Biarkan saja tercemar. Biarkan saja dipakai. Jiwa, sisa-sisa diriku, melarikan diri ke dalam dimensi lain yang dingin dan damai. Aku baru menyadari bahwa air mataku sudah jatuh. Bukan karena rasa sakit dari desakan kasar Paman, melainkan jatuh karena pengakuan pahit yang berbisik di palung hatiku:

"Ya. Aku memang layak mendapatkannya. Inilah takdirnya.”

Bagiku, hubungan intim dengan Paman Tio bukan lagi kejahatan, melainkan hukuman yang tertunda atas dosa yang kubawa sejak lahir. Kepatuhanku yang pasif bukanlah kelemahan, melainkan kepasrahan total pada takdirku sebagai dosa yang hidup.

***

Memalukan... Sang Paman mengira dirinya menang, menikmati kepasrahan tubuh keponakannya yang ia yakini sebagai cinta. Dia tidak tahu bahwa sedang meniduri kekosongan yang dipaksa. Jiwa Seyrna sudah pergi. Hanya tersisa cangkang yang bau parfum dan penuh dosa, sebuah Entitas Penderitaan yang hanya menunggu waktu untuk diakhiri.

***

Aku tahu bagaimana dunia luar melihatku. Dosen, barista di kafe kampus, bahkan teman-teman yang berpura-pura bersahabat denganku, semua orang melihatku sebagai sebuah karya seni yang berjalan. Mereka tidak sadar, aku adalah paradoks visual: keindahan Tuhan yang berjalan di atas puing-puing trauma yang membusuk. Namun, bagiku setiap hari adalah sebuah rutinitas kebohongan sosial yang melelahkan. Aku bangun, mandi, bukan untuk membersihkan diri, tetapi untuk mencoba menghapus dosa yang melekat di kulitku. Aku mengenakan pakaian, bukan untuk menutupi tubuh, melainkan untuk melindungi kebusukan yang aku rahasiakan di dalamnya. Siang itu, di kampus seni, aku duduk di barisan belakang. Aku mencatat mata kuliah tentang simetri dan harmoni dalam seni. Harmoni? Sungguh menggelikan. Tanganku menulis teori indah tentang komposisi, sementara pikiranku adalah labirin Post-Traumatic Stress yang berteriak, sebuah disonansi yang tak terobati.

Aku sering menghabiskan waktu di halte bus atau perpustakaan mengamati orang-orang. Melihat sepasang kekasih yang berpegangan tangan, seorang ibu yang menenangkan anaknya, atau seorang teman yang sedang tertawa lepas. Aku tidak merasakan kecemburuan, yang kurasakan adalah kesenjangan yang wajar. Aku mengamati mereka seolah mereka adalah spesies yang berbeda, spesies yang beruntung, yang memang berhak atas kehidupan normal.

Page 3.

"Aku tidak termasuk," bisik keheninganku yang sudah terlatih.

“Aku adalah pendosa.”

Makan siangku sering terlewat bukan karena diet. Perutku adalah tempat bersemayam rasa bersalah yang tidak mengizinkan nutrisi masuk. Jika aku makan, aku akan merasakan kegembiraan, dan kegembiraan adalah pengkhianatan terhadap rasa sakit yang selama ini aku pikul. Di malam hari, setelah berpura-pura hidup selama delapan jam, aku kembali ke apartemen sewaanku yang kumuh. Melewati koridor dalam bayangan sosok wanita paruh baya yang selalu melirikku dengan pandangan hasrat yang aneh. Aku mengunci pintu dengan dua kali putaran. Dan di sana, di tempat yang tidak dilihat siapa pun…

...Kabut itu kembali menyelimutiku.

“Tuhan itu tidak sempurna, tidak bisa menjawab doaku. Dia mencorat-coret takdirku,” bisikku dihati.

Aku melepas kulit luarku: pakaian yang indah, riasan yang sempurna. Dengan itu aku kembali menjadi diriku yang jujur. Seorang wanita yang kotor, berdosa, yang menunggu penutupan hidup. Aku menelan pil Alprazolam dari dokter, terlentang di atas kasur. Membiarkan aroma tembakau dan asam alkohol yang pekat di ruangan itu menyambutku. Menghitung hari, lalu tertidur bersama impianku untuk segera mati.

Lihat selengkapnya