"Aku adalah dosa yang hidup. Sudah saatnya dosa ini menemukan penutupan yang pantas.” – Seyrna Lavergne,
Page 15.
Bip... Bip... Bip…
Irama monoton itu adalah hal pertama yang menyerangku. Ia memaksa masuk ke dalam telinga, menarik kesadaranku dari kegelapan yang nyaman. Aku mencoba menolak. Aku ingin kembali tenggelam. Tetapi cahaya putih yang menyilaukan menembus kelopak mataku, memaksaku untuk melihat.
Aku terbangun, mataku terbuka perlahan.
Langit-langit putih. Lampu neon panjang. Bukan langit-langit berjamur apartemenku. Dan yang terburuk adalah bau klorin dan antiseptik di ruangan. "Tidak..." erangku, suaraku parau, kering seperti pasir. Rasa sakit di pergelangan tangan kiri mulai menjalar, tajam dan berdenyut. Aku menoleh sedikit. Selang infus bening menancap di sana, mengalirkan cairan kehidupan ke dalam tubuh yang sudah menolaknya. Dadaku sesak oleh kekecewaan yang menghancurkan, mataku berlinang air mata yang tertahan. Aku tidak mati. Tuhan itu telah mengembalikanku ke dunia yang busuk ini, menolak menerimaku di akhirat.
Aku mencoba menggerakkan jari, tetapi tubuhku terasa sangat berat. Aku terperangkap lagi dalam daging terkutuk ini. Mataku menyusuri ruangan steril itu, mencari jalan keluar, namun pandanganku terhenti pada sosok yang duduk kaku di sofa. Aroma parfum mahal yang tak asing mulai tercium mengalahkan bau obat-obatan. Itu adalah darah dagingku yang membenci keberadaan entitas ini, Ibu. Dia tidak datang dengan air mata. Dia datang dengan ketegangan yang terperinci di wajahnya, seperti topeng porselen yang retak. Mengenakan gaun mahal yang elegan, kontras tajam denganku. Ibu tidak datang ke sisiku, dia duduk di sofa berjarak dua meter dari ranjang, postur tubuhnya adalah garis batas yang tidak tersentuh, seolah kehancuranku ini menular.
Dia memandang tirai ranjang, bukan aku.
"Seyrna," kata Ibu, suaranya tajam dan rendah seperti kaca yang diinjak. “Apalagi yang kamu perbuat? Apa yang ada di pikiranmu itu? Kamu tahu, kerugian ini tidak berdampak padamu, Seyrna. Tindakanmu ini mengancam keluarga kita.”
Pertanyaan itu bukan seruan kasih sayang seorang Ibu. Itu adalah pertanyaan tentang kerugian dan kebocoran citra publik. Ibu tidak menanyakan tentang jiwaku, dia memperhitungkan harga kehormatan nama besar Lavergne. Aku menatap langit-langit, membiarkan Ibu menjadi suara latar di luar Kabutku.
“Kamu tahu betapa sibuknya Ayah harus menelepon dan menenangkan kolega-koleganya?” Lanjut Ibu, sambil memandang keluar jendela. “Rumah sakit ini sudah penuh dengan gosip! Mereka akan tahu! Dan Ayah... Ayah sudah stres dengan masalah utang itu. Isu tentangmu ini akan menjadi pukulan lebih keras daripada ancaman kebangkrutannya. Kamu menambah beban terus, Seyrna. Kamu benar-benar lubang yang seharusnya tak pernah ada.”
Page 16.
Aku hanya menatapnya, dan anehnya, aku tidak merasakan kebencian, aku merasakan pengakuan yang pedih. Ibu tidak peduli pada entitas penderitaan yang di ranjang ini, Ibu dan Ayah hanya peduli pada produk sosial yang sudah gagal. Kegagalanku mati adalah ketidaknyamanan bagi mereka. Saat itu, tiba-tiba aku merasakan kejanggalan pada tubuhku. Aku menyentuh ke bawah perutku, kepingan-kepingan memori dari sentuhan dosa yang kotor menyerang pikiranku. Sebuah kilasan memori yang samar dan menjijikkan, seperti mimpi buruk yang enggan kuakui kebenarannya. Tubuhku yang diselamatkan harus dibayar dengan pencemaran yang baru. Dosa terus bertumpang tindih.
Sebegitunya kah? Pikirku. Niatku pada kematian pun dapat dilecehkan orang. Tuhan sangat bengis, kutukan ini tidak memiliki batasan privasi, bahkan saat di ambang kematian sekalipun. Ibu akhirnya mendekat, tetapi hanya untuk menarik selimutku sedikit lebih tinggi. "Cepatlah sembuh. Kita harus segera menutup kasus ini. Kamu akan pergi ke pinggir kota untuk sementara. Anggap ini liburan panjang," katanya, nadanya seperti perintah yang diucapkan seorang politikus. “Asisten Ayah sudah mengurus surat nonaktifmu di kampus. Jangan coba hubungi siapa pun.”
Aku menoleh ke jam dinding di ruangan. ‘Liburan panjang’ itu adalah penyembunyian aib, dan kini aku sadar. Rumah sakit ini bukanlah pemulihan, ini adalah titik babak hukuman yang baru: pengasingan yang akan dilakukan langsung oleh ibu kandungku sendiri. Dijauhkan ke sudut kota, jauh dari mata sosial. Aku dibuang.
Seminggu berlalu. Malam-malam terakhirku di rumah sakit terasa panjang. Aku mendengar pasien lain merintih, perawat yang berbisik, mereka berjuang untuk hidup. Aku, sebaliknya, berjuang untuk mati. Aku memejamkan mata, mencoba mengingat lagi setiap momen dari rasa sakit pada detik-detik terakhirku di apartemen. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa mendamaikan penyesalanku saat ini. Rasa bersalah terhadap kegagalanku untuk menyelamatkan diriku yang kecil dari lingkaran trauma yang membusuk. Kini kami berdua diselamatkan oleh mesin, oleh teknologi, oleh logika dunia yang meremehkan betapa seriusnya penderitaan ini. Mereka menginjeksikan cairan kehidupan ke dalam nadi, tetapi tidak menyuntikkan harapan ke dalam jiwanya. Mereka hanya akan memperpanjang kepedihan kami.
Hari berikutnya aku diizinkan pulang. Aku membawa serta resep obat dari Dr. Linn. Ironisnya pihak rumah sakit baru mengetahui bahwa aku adalah klien psikoterapinya, seolah hal itu menambah beban reputasi sosial. Seluruh staf melihatku bukan sebagai pasien, melainkan sebagai skandal. Ibu dan Ayah datang menjemput. Mobil mereka diparkir jauh menghindari pintu masuk utama, sama memalukannya seperti biasa. Aku berjalan tertatih, pergelangan tanganku diperban seadanya.
Saat melangkah di koridor, aku mendengar bisikan yang familier, tetapi kini lebih keras karena mereka tahu aku akan pergi. Suara-suara yang menghakimi dari balik pintu perawat yang terbuka sedikit. "Sudah pergi tuh si trouble maker," kata suara seorang suster. “Kasihan ya, orang tuanya harus menanggung anak sakit kayak gitu. Cantik-cantik tapi bibitnya sudah cacat.”
Page 17.
"Dasar jalang yang menolak sembuh," sahut suara lain, nadanya menjijikkan. “Dia pikir dia sedang dalam film ya? Percuma saja derajat keluarganya tinggi, kalau punya anak perempuan sudah dicap tidak perawan. Paling-paling sebentar lagi juga balik lagi ke sini tuh... untuk cari perhatian.”
Perkataan itu menyerap ke dalam tulangku. Itu adalah label terakhir yang disahkan masyarakat padaku: kesalahan genetik, cacat moral. Aku menelan ludah, menahan gejolak pahit di perutku. Rasa sakit sosial yang tumpul. Saat tiba di dekat mobil, aku tak sengaja menabrak seseorang yang berjalan menuju rumah sakit. Sosok laki-laki tinggi yang misterius. Mata kami bertemu. Itu bukan seperti mata dari pria-pria bejat yang menatapku selama ini. Itu kehampaan yang mendalam, sebuah cermin yang dingin, menyiratkan pemahaman yang menyeramkan.