NAOMI
Naomi berhenti menghitung waktu yang ia lewatkan sembari berbaring di lantai kamar. Selimut yang tadinya terlipat di tempat tidur turut merosot, hanya membungkus separuh tubuh. Tumitnya yang telanjang merasakan permukaan lantai, dingin menyapa kulit. Matanya menatap kosong ke langit-langit putih. Semburat sinar matahari dari jendela membentuk garis panjang keemasan.
Angin berhembus lembut, menyibakkan gorden tipis yang membelai pipi cekung Naomi. Sentuhan lembut itu seakan menegurnya untuk bangkit dari posisinya saat ini. Namun, Naomi masih enggan. Bila mungkin, ia ingin terus berada di sana, membiarkan dunia berputar tanpanya.
Sebuah langkah berderap terdengar dari luar kamar. Sesekali suara itu menghilang, lalu terdengar lagi. Dari sudut matanya, Naomi melihat tangan seseorang mengetuk pintu kamar yang terbuka. Karena tak menjawab, si pemilik tangan melongok masuk.
“Oi,” panggil suara itu rendah. Seorang pria paruh baya, tampan, dengan helaian uban putih di antara yang hitam, menyunggingkan senyum ke arah Naomi. “Sampai kapan lu mau di lantai? Bangun, yuk! Buburnya masih anget, nih.”
“Nanti aja, Om,” balas Naomi parau, lalu kembali menatap langit-langit. “Aku nggak laper.”
Pria itu mendecakkan lidah. Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang pernah menjadi miliknya, menarik ujung selimut. Naomi merengek seperti bocah ketika tubuhnya yang ringkih ikut terseret ke arah pintu. Lapisan selimut yang bergesekan dengan lantai berdesir sepanjang jalan.
“Dasar ponakan nggak tahu terima kasih!” gerutu pria yang Naomi panggil ‘Om’. Ia melirik jam tangan yang melingkari pergelangan. “Gue sejam lagi mesti ngantor, nih. Kalau tahu lu nggak mau diurusin, mending tadi gue nggak mampir.”
“Nggak ada yang minta Om mampir juga!” balas Naomi. Dengan sigap, ia menelungkup di lantai, berpegangan pada kaki tempat tidur. Sang paman hampir jatuh terjengkang ketika menarik selimut lepas dari tubuh Naomi. “Biarin aku sendiri! Aku nggak mau keluar rumah!”
“Siapa yang maksa lu keluar rumah, sih?” ujar sang paman dengan nada tinggi. Seperti film komedi, ia menggenggam pergelangan kaki Naomi dan menariknya pelan. Naomi menjerit. “Om cuma minta lu bangun dan sarapan. Dari semalam lu belum makan, kan?”
“Aku nggak mauuu–!”
Naomi bersikukuh, seakan kaki tempat tidur adalah jangkar terakhir yang menjadi pertaruhan hidup dan mati. Ia tak peduli jika Om Arman menarik kakinya hingga putus. Ia tak peduli jika sendi-sendi tangannya lepas. Naomi hanya ingin berdiam diri. Berhibernasi, dalam kamar 3x4 meter persegi yang ia tumpangi.
Bagi Naomi, hidup cukup menjadi ulat yang berlindung dalam kantong kepompong. Tak perlu bertransformasi menjadi kupu-kupu cantik. Ia pernah ada di fase itu, dan tak ingin menjalaninya lagi. Masa gemerlap itu sudah lewat, hancur dalam sekejap mata.
Genggaman tangan Om Arman mulai mengendur. Naomi cepat-cepat menarik kakinya. Ia dapat mendengar pamannya tersengal. Kualitas staminanya berbanding terbalik dengan tampilan fisiknya yang awet muda. Dengan langkah terhuyung, Arman duduk di kursi, mengatur napas.
“Kalau si Tante tahu lu bertingkah kayak gini, dia pasti sedih banget,” gumam Arman dari balik punggung Naomi.
Ini dia. Jurus pamungkas Om Arman, bisik Naomi dalam diri. Suara sedih yang dibuat-buat, akting yang sempurna. Bawa-bawa istrinya sebagai senjata terakhir untuk menaklukkan ponakannya yang sekeras batu.