Something Old, Something New

Mozze Satrio
Chapter #3

Bab 2

OMAR

Teriakan seorang laki-laki dan perempuan di balik dinding riuh, mengalihkan perhatian Omar dari penjelasan tentang kamar barunya dari sang pemilik gedung. Namun, suara Pak Bawan yang membahana dalam ruang kosong menariknya kembali.

“Berbeda dengan unit sebelah, kamar ini hanya terdiri dari satu ruangan. Ada kasur, konter dapur dan perlengkapannya tersedia. Kamar mandi dalam, dengan kloset dan shower,” ucap Pak Bawan, sang pemilik gedung apartemen. 

Tengkuknya yang berlipat meneteskan bulir-bulir keringat sebesar jagung. Pria paruh baya dengan kepala plontos itu memandang sekeliling, mencari remot AC yang menggantung di dinding. Angin sejuk menetralisir udara pengap di dalam kamar, mengaburkan aroma asam dari sudut-sudut ruangan yang lembab.

Omar melempar pandangan ke bagian ruangan yang tak tersentuh matahari. Dinginnya lantai menembus telapak yang terbalut kaus kaki, membuatnya bertanya akan selembab apa ruangan ini di musim hujan. Betapa gerahnya di musim panas. Sepertinya uang yang tersisa di dompetnya akan habis untuk membeli mi instan dan beberapa bungkus kamper.

Batas waktu Omar untuk mencari tempat tinggal baru sudah habis. Besok ia sudah harus mulai bekerja di tempat yang baru. Bila ia mencari tempat lain, bisa-bisa masjid justru menjadi perhentian terakhirnya malam ini.

“Saya ambil, Pak,” Omar berkata tegas. “Saya sewa untuk satu tahun dulu. Bisa?”

Pak Bawan memelintir ujung kumisnya yang berwarna keabuan, menyunggingkan senyum. 

“Bisa banget, Mas,” sahut Pak Bawan. “Kalau Mas Omar udah cocok, bisa kita omongin soal depositnya di tempat saya–”

RING! RING!

Transaksi yang baru berjalan setengah jalan terputus oleh suara dering ponsel di dalam jaket Omar. Ia meraihnya, memandang nama yang terpampang di layar.

“Sebentar, ya, Pak Bawan. Saya terima telepon dulu,” Omar meminta izin. Langkahnya berderap saat melewati pintu depan. Ia membukanya lebar-lebar, agar Pak Bawan tak berprasangka Omar mencoba kabur. Benar saja. Sesekali sang pemilik unit mengintip keluar dari jendela ketika Omar bersandar pada dinding pagar koridor.

Lihat selengkapnya