NAOMI
Terakhir kali Naomi menginjakkan kaki ke dalam Dolce Della Nonna, adalah di hari pembukaannya setahun lalu. Ia ingat memotret keluarga pamannya di pintu depan. Senyuman merekah sepanjang hari karena berhasil mewujudkan mimpi Tante Miri untuk membuka sebuah toko roti.
Sejak hari itu, ia tak pernah lagi berkunjung. Sibuk karena pekerjaan, ia selalu beralasan. Di antara pekerjaan, ada pesta dan diskotik yang berlangsung hingga tengah malam.
Dalam rentang waktu keabsenannya, toko ‘Dolce’ masih cantik berdiri tegak di tengah kawasan pertokoan yang ramai oleh pejalan kaki.
Fasad bangunan bergaya rustic dengan dinding bata tempel berwarna kemerahan. Tanaman sulur kini telah merambati satu sisi dinding hingga talang air. Papan nama toko berukuran besar, berdiri kokoh di atas pintu utama. Di malam hari, lampu neonnya menyala. Bingkai pintu dan jendela besar berwarna hitam menghadap jalan, kesan modern dan minimalis yang kontras. Naomi mengagumi perpaduan selera desain ciptaan Om Arman. Sang paman memang brilian.
“Kita lewat belakang aja,” ajak Om Arman, memimpin jalan. Naomi menurut, mengikuti langkah sang paman yang membawanya melewati lorong sempit, memisahkan toko roti dengan deretan ruko di sampingnya. Gang yang gelap, beraroma asam dan pesing pada dinding acian.
Naomi memencet hidung, menahan napas. Di depannya, Arman berjalan dengan santai.
Di ujung gang, cahaya matahari menerpa lantai berlapis paving block berwarna abu. Silaunya menjadi kontras yang membuat Naomi menyipitkan mata. Ia lambat menyadari kehadiran makhluk berbulu yang sedang duduk di atas tumpukan krat plastik. Si kucing hitam putih asyik mengelap moncong dengan kaki depannya ketika Naomi lewat.
“Hai, Pingu,” ucap Arman memecah sunyi. Ia mengulurkan tangan ke arah si kucing. Si makhluk berkaki empat mengendus tangan sang paman, lalu menyundulnya lembut.
“Kucing sini, Om?” tanya Naomi.
“Bukan. Kucing jalanan daerah sini. Kadang dia mampir ke sini dan minta makan,” jawab Arman. Suara gemerincing metal keluar dari kantong celana Arman. Ia meraih kunci dan menusuknya ke lubang pintu belakang toko. “Lumayan jadi nggak banyak tikus semenjak ada dia.”
Naomi menatap kucing bermotif tuksedo itu–yang menatapnya balik. Matanya berwarna kehijauan, dengan bola mata setipis jarum. “Kenapa namanya Pingu?” tanyanya.
“Soalnya dia kayak penguin.” Jawaban santai Arman membuat Naomi mengerutkan kening. “Lihat tuh pola hitam di sekitar mulutnya. Jadi keliatan seperti paruhnya, kan?”
“Pasti Tante Miri yang kasih nama, ya?”
Arman tertawa kecil. “Kayak kamu nggak tahu tantemu aja. Udah, yuk, masuk.”
Arman mendorong pintu belakang membuka. Suara berderit engselnya tak Naomi hiraukan ketika matanya merekam setiap sudut ruangan.
“Mulai besok, ini tugas lu buat buka pintu belakang, ya, Nom. Jadi, lu harus datang paling pagi,” ujar Arman sambil menyerahkan kunci ke tangan keponakannya.
Wajah Naomi berubah masam. “Setiap pagi?”
Alis Arman melengkung tinggi, seakan tak percaya pertanyaan itu berani meluncur dari mulut wanita muda di hadapannya.
“Setiap pagi,” ulangnya. “Kalau lu telat, semua orang telat. Dan mereka bakal pulang telat.”
“Kenapa nggak orang lain aja yang pegang tugas itu? Om tahu kan aku nggak biasa bangun pagi–”