Lagu I Don’t Love You milik My Chemical Romance baru saja meluruh pelan, meninggalkan gema melankolis di ruang siaran yang dingin. Ayas Indira mendekatkan bibirnya ke filter mik, menarik napas dalam, lalu menyapa pendengarnya dengan nada riang yang dipaksakan—khas penyiar radio yang harus tetap terlihat bahagia meski dunianya sendiri mungkin sedang tidak baik-baik saja.
“Barusan spesial request dari Claudia yang lagi patah hati. Duh, Claudia... semoga galaunya nggak pakai acara menginap ya?” Ayas terkekeh kecil, jemarinya lincah menggeser fader di panel kontrol.
“Inget pepatah lama, bunga nggak cuma sekuntum, kumbang nggak cuma seekor. Cowok di kampus kita itu stoknya melimpah, Gaes! Kalau satu hilang, masih ada ribuan yang antre di kantin, kan? Jadi, jangan sampai rugi pikiran cuma gara-gara satu orang,” lanjutnya telaten.
Ayas menyandarkan punggung ke kursi, membetulkan letak headphone yang melingkari telinganya. “Buat sobat muda yang nasibnya lagi sebelas-dua belas sama Claudia—daripada bengong di kosan sambil ngitungin cicak atau meratapi nasib di rumah, mending temenin gue. Masih ada Ayas Indira sampai jam sepuluh malam nanti di Love, Life, and Laugh, hanya di 105.4 Young FM. Jangan ke mana-mana!”
Ayas melirik jam digital di layar monitor yang menunjukkan angka 21.55. Waktunya pamit. Ia memberikan senyum terbaiknya ke arah kaca ruang siaran, seolah-olah seluruh pendengarnya sedang berdiri di sana.
"Kita bisa ngobrolin apa aja di sini, sembari ditemenin musik kece Indo-Manca era 2000-an ke atas. Tapi sayang banget, waktu jugalah yang harus memisahkan kita," ucapnya dengan nada suara yang merendah, lebih intim.
"Sebagai penutup, ada Samsons dengan Kenangan Terindah yang bakal mengantar istirahat kalian malam ini. Terima kasih banyak buat Anya yang sudah berbagi pengalaman serunya tadi, dan makasih juga buat semua Sobat Muda yang sudah setia dengerin. Gue minta maaf banget kalau ada chat atau cerita yang belum sempat kebaca—sumpah, kalian antusias banget malam ini!"
Ayas mulai mematikan beberapa tombol lampu di panel, menyisakan lampu remang yang hangat. "Gue Ayas Indira pamit undur diri. Kita ketemu lagi besok jam 8 malam, tetap di 105.4 Young FM—Musik untuk Anak Muda. Stay safe and keep love, life, and laugh!"
Begitu melodi piano lagu Samsons mulai mengalun, Ayas melepas headphone-nya dengan napas lega. Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan melepas sisa-sisa energi keceriaan yang baru saja ia tebarkan ke seluruh kota. Di dalam studio yang kedap suara itu, keheningan mendadak terasa begitu kontras.
Namun, sunyi itu tidak bertahan lama. Suara musik yang keluar dari monitor speaker kini menjadi latar belakang saat Ayas menoleh ke arah pintu kaca. Ia melempar senyum tipis kepada gadis yang sudah berdiri di sana, bersiap untuk ritual tukar shift seperti malam-malam biasanya.
Gadis itu adalah Elisa, partner sesama penyiar di Young FM sekaligus teman yang paling tahu kapan Ayas sedang benar-benar bahagia atau hanya sekadar "akting" di depan mik.
Sosok di balik suara riang Love, Life, and Laugh ini adalah Mayas Indira Gunawan, atau yang lebih akrab disapa Ayas. Sebagai mahasiswi broadcasting tingkat akhir, hidup Ayas adalah perpaduan antara mengejar dosen pembimbing di pagi hari dan mengejar rating pendengar di malam hari. Baginya, bilik siaran radio kampus ini bukan sekadar tempat kerja, tapi pelarian dari tumpukan revisi skripsi yang tak kunjung usai.
Cklek!
Suara pintu studio terbuka dengan hentakan yang mantap. Seorang pria melangkah masuk sambil mengapit beberapa map berkas di ketiaknya. Ia melambaikan tangan—sebuah instruksi bisu agar kami semua segera merapat dan berkumpul.
Dia adalah Pak Lucas, Managing Director Young FM sekaligus dosen pengampu di jurusanku di Universitas Muria Dharma. Pria yang baru saja memasuki kepala empat itu masih tampak sangat energetik dan fashionable. Kalau orang asing melihatnya berjalan di koridor kampus tanpa tahu jabatan resminya, mereka pasti mengira Pak Lucas adalah mahasiswa abadi yang sedang asyik ikut organisasi, saking awet mudanya.
"Oke, Guys. Ini profil tamu kita buat besok. Tolong dipersiapkan baik-baik!" tegas Pak Lucas sambil meletakkan berkas-berkas itu ke atas meja dengan suara berdebum pelan.
Wajahnya mendadak serius, tatapannya menyapu seisi ruangan, memastikan tidak ada satu pun dari kami yang sedang melamun atau main ponsel. Kalau Pak Lucas sudah mengeluarkan aura seperti ini, itu artinya "Si Tamu" ini bukan orang sembarangan.
“Khusus buat kamu,” Pak Lucas menjeda kalimatnya, ujung matanya melirik tajam ke arah Ayas, “pastikan materi sudah disiapkan matang-matang. Jangan sampai kejadian siaran tanpa prepare terulang lagi.”
Jleb.