SMA Tulus Harapan, 2003
“Berjuang … (Berjuang)… Berjuang sekuat tenaga….”
Ayas sedang berada di "wilayah kekuasaannya"—sebuah area di belakang kelas kosong yang sepi dan berbatasan langsung dengan kantin sekolah. Ia melenggak-lenggokkan tubuh seekor binatang berbulu yang ia beri nama: Gustav, kucing sekolah yang baru saja melahirkan dua anak imut kemarin. Iya Gustav. Kucing orange yang sengaja ia beri nama seperti tokoh telenovela favoritnya, walaupun ia betina. Ayas memainkan Gustav dan anaknya seolah-olah kucing itu adalah boneka Barbie koleksinya di rumah. Ia bersenandung ria, pinggulnya ikut bergoyang tipis mengikuti dentum musik yang mengalun dari kantin belakang.
Memang, lagu Rhoma Irama berjudul Perjuangan dan Doa adalah anthem wajib di kantin itu. Saking seringnya diputar, Ayas sampai hafal luar kepala tiap cengkok dan jeda napas sang Raja Dangdut. Di tengah kepulan asap soto dan aroma gorengan yang menguar, Ayas tampak sangat menikmati "panggung sandiwara"-nya sendiri bersama si Gustav.
Dibawah desiran angin sawah yang menyelinap di sela-sela pagar kawat sekolah membuat daun-daun kencana bergesekan, menciptakan suara gemerisik yang seolah menjadi musik pengiring konser tunggalnya. Ia tidak menyadari bahwa di balik tembok kelas yang sepi itu, ada seseorang yang sedang memperhatikannya dengan dahi berkerut.
“Ngapain lo di sini? Ini kan bukan jam istirahat?” sebuah suara dingin memecah konser tunggal Ayas.
Ayas tersentak hebat. Ia nyaris saja menjatuhkan anak Gustav dari dekapannya. Ia menoleh dan seketika membeku, dengan jantung yang mendadak berpacu marathon, Di depannya, berdiri sosok yang paling tidak ingin ia temui dalam kondisi "ajaib" seperti ini: Narendra. Si jenius sekolah yang biasanya hanya bisa Ayas pandangi dari jauh. Dari sekian banyak skenario romantis yang pernah Ayas bayangkan agar bisa di-notice oleh Rendra, mengapa semesta justru memilih momen "dangdutan bareng kucing" sebagai pembukanya?
“Aa... nggak ngapa-ngapain. Cuma... nyari udara segar aja,” jawab Ayas terbata. Ia berusaha memasang wajah sedatar mungkin meski otaknya sedang melakukan backflip, mencoba meraba-raba apakah alasan "nyari udara segar" sambil menggoyangkan kucing itu masuk akal di telinga seorang juara olimpiade.
Rendra tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik. “Elo bolos jam pelajaran cuma gara-gara main sama kucing?”
“Sembarangan! Jangan asal nuduh, ya!” Ayas langsung pasang badan, berkelit secepat kilat. Ia mulai meluncurkan penjelasan panjang kali lebar tentang betapa mulianya misi penyelamatan makhluk Tuhan yang sedang ia lakukan terhadap Gustav dan anak-anaknya.
Rendra hanya berdiri mematung. Cowok itu mengamati Ayas dengan tatapan datar, tanpa menunjukkan minat sedikit pun untuk menanggapi penjelasan yang sudah sepanjang rel kereta api tersebut.
Mulut Ayas terus komat-kamit, rasa sebal mulai merayap naik melihat respons Rendra yang luar biasa irit itu. Meskipun tidak ada satu pun kata ejekan yang keluar, cara Rendra diam justru terasa seperti hinaan bagi Ayas. Momen canggung itu bergeser cepat; dari rasa malu yang mematikan, menjadi rasa jengkel yang membara. Ayas bahkan mendadak lupa bahwa sosok di depannya ini adalah pangeran jenius yang selama ini ia kagumi dari kejauhan.
“Terus... gue harus ngapain?” tanya Rendra datar, seolah bertanya soal rumus fisika yang membosankan.
Darah Ayas makin mendidih. Dengan gerakan gusar, ia meletakkan kembali anak Gustav ke dalam kardus mi instan yang menjadi rumah darurat mereka. Ayas berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di dada, mendengus tidak terima. Baru saja ia menyadari bahwa sosok panutan sekolah ini ternyata sangat menyebalkan, dan tingkat kedisiplinannya pun sebelas-dua belas dengannya.
“Oho, maksudnya apa, nih? Urusan lo apa? Ngapain juga lo ada di sini di jam pelajaran?” tantang Ayas, sudah dalam mode siap konfrontasi.
Rendra memicingkan mata, menatap Ayas seolah perempuan itu baru saja berbicara dengan bahasa planet lain. “Idih, aneh! Malah balik tanya. Orang tanya baik-baik malah sewot,” gerutunya sambil memandang heran perempuan yang menurutnya sangat ajaib ini.
Baik-baik apaan! batin Ayas meradang.
Ayas melangkah maju, berusaha mengintimidasi meski tingginya kalah jauh. “Gue tahu ya, lo diam-diam mau bolos, kan?” tuduh Ayas asal, hanya berdasarkan firasat melihat tampang Rendra yang sangat mencurigakan.
“Enggak,” jawab Rendra singkat, padat, dan menyebalkan.
“Tapi kok bawa tas?” Ayas terus mencecar, sok mengintimidasi.
“Suka-suka gue, dong!” Rendra mulai terpancing. Ia makin "ngegas" karena malas meladeni interogasi Ayas yang mirip polisi pamong praja. Tangannya merogoh ke dalam tas, mengaduk isinya sesaat, hingga akhirnya ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik hitam misterius.
Ayas makin curiga, matanya memelototi plastik hitam itu seolah benda itu mengandung bom. “Lo mau ngerokok di sini, ya?” tuduhnya telak. “Atau lo lagi ngerencanain transaksi kotor di sini? Atau jangan-jangan lo mau berbuat...” Ayas menggantung kalimatnya, tak sanggup meneruskan fantasi gelap yang mendadak melintas di kepalanya.
“Gue nggak nyangka ya, siswa yang katanya TE-LA-DAN bisa-bisanya kepikiran mau ngelakuin hal-hal kayak gitu di sekolah!” cecar Ayas tanpa memberikan jeda sedikit pun bagi Rendra untuk membela diri.
“Buset dah! Ini orang mulutnya lemas amat,” Rendra tercekat. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan rangkaian kata yang baru saja keluar dari mulut Ayas.
“Nih ya, kalau mau begituan, ngapain di sekolah? Rugi!” Ayas menggerakkan kedua tangannya seolah sedang memperagakan aksi gerebek orang mesum. “Bisa juga kan di luar? Lebih bebas!” imbuhnya dengan ekspresi mengejek yang luar biasa menyebalkan.
Rendra hanya tersenyum sinis, menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Pantesan mainnya sama kucing," ucapnya santai, namun nadanya setajam silet. "Mungkin emang nggak ada manusia yang betah temenan sama lo."
Jleb.
Kata-kata itu mendarat telak, menusuk tepat di jantung Ayas hingga ia mendadak kehilangan kemampuan bicara. Sakit sekali. Rasanya lebih pedih daripada dikasih nilai merah di rapot. Pikiran Ayas berputar liar, meratapi harga dirinya yang sudah hancur lebur berkeping-keping. Di mata Rendra, image-nya saat ini pasti sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
“Kenapa? Sakit hati gue bilang gitu?” pancing Rendra, seolah menikmati kemenangan atas argumen mereka.
“Enggak!” sahut Ayas cepat. Terlalu cepat. Suaranya sedikit bergetar karena ia sedang berjuang mati-matian menahan genangan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk mata. Ia mendongak, berusaha keras agar air mata itu tidak tumpah dan membuatnya terlihat makin menyedihkan di depan Rendra.
Belum sempat drama saling ejek itu mencapai klimaksnya, sebuah teriakan berat yang sangat mereka kenali menggelegar dari kejauhan. Fokus mereka seketika pecah.
“Ehh, siapa itu yang ada di belakang sekolah!” seru Pak Mukhlis.
Seketika nyali Ayas menciut. Ia mulai mondar-mandir panik seperti ayam kehilangan induk, mencari celah untuk sembunyi. Masalahnya, area ini adalah jalan buntu yang dikelilingi pagar kawat tinggi. Ayas sama sekali tidak siap menghadapi hukuman dari Pak Mukhlis yang terkenal garang dan tanpa ampun. Sementara itu, Rendra masih berdiri diam, keningnya berkerut tanda otaknya sedang bekerja keras mencari jalan keluar.
Rasa sakit hati Ayas seketika menguap, digantikan oleh adrenalin yang memuncak.
“Mati gue! Gue nggak siap disuruh lari keliling lapangan siang bolong begini,” gumam Ayas dengan suara bergetar. Matanya nanar menatap ke segala arah, berharap ada lubang ajaib yang bisa menelannya saat itu juga. “Syukur-syukur kalau cuma dihukum bersihin toilet. Nah, kalau disuruh keliling lapangan? Atau dijemur seharian? Oh, no! Kulit gue bisa gosong!”
Ayas masih saja "nyerocos" sendiri, meratapi nasib kulitnya yang terancam kusam sementara Pak Mukhlis makin mendekat.
“Eh, bantuin mikir dong! Kalau kita ketangkap gimana?” rengek Ayas sambil menarik-narik tas punggung Rendra, meminta pertanggungjawaban.
“Kita? Loe aja kali!” sahut Rendra dingin. Ia memasukkan kembali bungkusan plastik hitamnya ke dalam tas dengan gerakan kilat. Benar saja, si jenius itu sudah mengambil ancang-ancang untuk memanjat tembok belakang sekolah.
“Eh, eh, mau ke mana? Katanya tadi nggak mau bolos!” Ayas berusaha keras menggagalkan niat Rendra. Ia menarik ujung tas itu sekuat tenaga, hingga sebuah gantungan kunci terlepas dan sempat menggores tangannya. Batin Ayas menjerit; ia tidak mau ditinggal dan ketahuan sendirian.