Something Stupid Like I Love U

A. F Rianti
Chapter #3

Gundah


Aku masih ingat rasa itu. Rasa yang selalu menyeruak tiap kali langit diguyur hujan deras, persis seperti malam ini. Aku berdiri mematung di depan jendela apartemen, menatap Kota Bandung yang samar tertutup kabut, dihiasi sorot lampu jalanan yang berpendar serupa kunang-kunang di kejauhan.

Entah apa korelasinya dengan hujan, tapi dia selalu datang bersama rintiknya. Sebagian meninggalkan genangan, dan sisanya membangkitkan kenangan.

Kopi di cangkirku telah kehilangan kehangatannya lagi, sama seperti hatiku yang perlahan luruh, tersapu dinginnya udara malam ini. Aku meraih lembaran kertas dari meja kerja; selembar profil dan materi siaran untuk lusa nanti. Nama itu tercetak jelas di sana.

Bukankah itu hanya sekadar nama yang sama? Lalu, mengapa hatiku justru kehilangan ketenangannya? Kegelisahan ini persis seperti saat aku mencoba memanggil kembali bayangan wajah pemilik nama itu dalam ingatanku.

Apakah aku masih menyukainya? Atau adakah sesuatu dari masa lalu yang belum benar-benar selesai kulepas?

"Apakah itu dirimu... Rendra?" gumamku lirih. Mataku terpaku pada deretan huruf di atas kertas itu, menyimpan sejuta tanya yang tak kunjung terjawab.


***


Malam yang ditunggu akhirnya tiba. Aku duduk di depan ruang siaran, memasang earphone, dan memutar lagu dari Savage Garden. Melodi I Knew I Loved You mengalun pelan di telingaku, mencoba menenangkan saraf-sarafku yang menegang sembari menunggu giliran On Air.

Ini seharusnya menjadi siaran yang biasa saja. Aku sudah melakukannya ratusan kali. Namun, malam ini entah kenapa jantungku berdegup jauh lebih kencang, seolah ada genderang yang dipukul bertalu-talu di dalam dadaku. Tanganku pun terasa dingin dan sedikit bergetar.

“Bisa jadi aku terlalu banyak minum kopi tadi sore,” pikirku, berusaha meredam kecemasan. Aku menarik napas panjang, meyakinkan diri bahwa debaran ini hanyalah efek kafein, bukan karena nama "Narendra" yang sebentar lagi harus kusapa lewat sambungan telepon.

“Kopi, Yas?” Elisa menyodorkan segelas kopi ke hadapanku. Aku tersentak, tidak menyadari kehadirannya.

“Makasih, El, tapi kayaknya enggak dulu, deh. Asam lambungku sepertinya kumat karena kebanyakan ngopi tadi sore,” jawabku sambil mengusap perut, memberi isyarat kalau aku sedang tidak nyaman.

“Alhamdulillah, berarti ini buatku nggak apa-apa, dong?” Tiba-tiba tangan Anno menyambar hendak mengambil gelas di depanku, namun gerakannya langsung ditepis cepat oleh Elisa.

“Enak saja! Noh bikin sendiri di pantry!” Elisa sewot pada Anno yang mencoba mengganggu obrolannya dengan Ayas.

“Dih... pelit amat, El,” gerutu Anno dengan berat hati. Ia pun berbalik menuju pantry, tempat yang sebenarnya memang ingin ia tuju sejak tadi.

“Bodo amat!” balas Elisa ketus.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. “Kalian itu kenapa, sih, berantem terus? Hati-hati, nanti malah jodoh, lho!”

“NGGAK MUNGKIN?!” teriak Elisa dan Anno kompak.

Lihat selengkapnya